BUMN Kembangkan Ekonomi Sirkular Berbasis Potensi Desa

BUMN dorong pengembangan ekonomi sirkular di perdesaan melalui pemanfaatan potensi lokal. Foto: dok Pupuk Kaltim.

BUMN Kembangkan Ekonomi Sirkular Berbasis Potensi Desa

Husen Miftahudin • 1 October 2026 13:16

Jakarta: Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terus mendorong pengembangan ekonomi sirkular di perdesaan melalui pemanfaatan potensi lokal dan pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan.

Salah satunya dilakukan PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) melalui program Pengembangan Kawasan Terpadu Berbasis Integrasi Sistem Agroenergi (PKT BISA) di Desa Kepuhrejo, Kecamatan Takeran, Kabupaten Magetan, Jawa Timur.

Program tersebut mengintegrasikan berbagai sektor, mulai dari pertanian, peternakan, perikanan, pengelolaan limbah, energi terbarukan, hingga pengembangan usaha masyarakat dalam satu ekosistem yang saling terhubung.

Program PKT BISA dikembangkan Pupuk Kaltim sejak 2021. Melalui pendekatan ekonomi sirkular, berbagai sumber daya yang sebelumnya menjadi persoalan lingkungan diolah kembali menjadi input yang dapat mendukung aktivitas ekonomi masyarakat.

Direktur Utama Pupuk Kaltim Rafli Yandra mengatakan pendekatan ekonomi sirkular menjadi bagian penting dalam pengembangan program pemberdayaan masyarakat di desa.

"Utamanya adalah meningkatkan kapasitas masyarakat, menciptakan nilai tambah dari potensi lokal, serta membangun sistem yang dapat terus berjalan setelah intervensi program. Pupuk Kaltim mengembangkan PKT BISA dengan pendekatan ekonomi sirkular untuk memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat," ucap Rafli dikutip dari keterangan tertulis, Kamis, 1 Oktober 2026.

Dalam implementasinya, limbah peternakan dan perikanan dimanfaatkan sebagai bahan baku energi dan kompos. Hasil pertanian serta perikanan juga dikembangkan menjadi produk bernilai tambah oleh kelompok usaha masyarakat.

Salah satu pengembangan PKT BISA dilakukan melalui pemanfaatan limbah pertanian dan peternakan menjadi biogas. Energi yang dihasilkan digunakan untuk mendukung pengeringan hasil pertanian, kegiatan produktif UMKM, hingga kebutuhan energi rumah tangga masyarakat rentan di sekitar kawasan.

Pemanfaatan tersebut membuat limbah tidak berhenti sebagai persoalan lingkungan, tetapi dapat dikonversi menjadi sumber daya yang mendukung kegiatan ekonomi masyarakat.

"Prinsip yang kami dorong adalah bagaimana potensi yang ada di desa dapat saling terhubung. Limbah dari satu aktivitas dapat menjadi input bagi aktivitas lainnya, sehingga tercipta siklus yang memberi manfaat kembali bagi masyarakat," lanjut Rafli.
 

 

Tingkatkan produktivitas pertanian


Pendekatan ekonomi sirkular juga berjalan beriringan dengan peningkatan produktivitas pertanian. Pada 2025, program PKT BISA mendorong petani di Babadan meningkatkan intensitas panen hingga empat kali dalam setahun.

Dalam satu periode, produksi padi mencapai 70 ton dari lahan seluas 10 hektare (ha), kacang tanah lima ton dari lahan 1,1 ha, serta jagung 81 ton dari lahan seluas 8 ha.

Peningkatan produktivitas tersebut didukung program Agrosolution melalui pendampingan kepada petani binaan dengan total lahan mencapai 19,1 ha. Pendampingan meliputi pengolahan lahan, pemupukan berimbang, pengendalian hama, pengembangan usaha, hingga akses pasar.

"Program juga mengintegrasikan kelompok pertanian, peternakan, perikanan, kompos, serta UMKM dan kelompok perempuan dalam satu ekosistem pemberdayaan," kata Rafli.


(Pupuk Kaltim meraih penghargaan CSR & PDB Awards 2026. Foto: dok Pupuk Kaltim)
 

Kembangkan nilai tambah produk desa


Pengembangan ekonomi sirkular juga diterapkan pada sektor peternakan dan perikanan. Masyarakat didorong meningkatkan kualitas pakan serta pengelolaan usaha peternakan.

Sementara di sektor perikanan, hasil budidaya tidak hanya dipasarkan sebagai komoditas primer, tetapi diolah menjadi produk bernilai tambah. Sejumlah produk olahan UMKM Babadan bahkan telah dipasarkan hingga luar daerah.

"Kami ingin program ini tumbuh menjadi milik masyarakat. Pupuk Kaltim hadir sebagai katalisator, membuka akses, membangun kapasitas, dan memperkuat ekosistemnya. Selanjutnya, masyarakat bersama seluruh mitra kolaborasi menjadi penggerak utama keberlanjutan program," tutur Rafli.

Ke depan, pengembangan PKT BISA diarahkan menjadi Pusat Agroedukasi terpadu. Pengembangan tersebut juga mencakup perluasan jaringan pemasaran produk masyarakat dan peluang replikasi program di wilayah lain.

Berkat upaya tersebut Pupuk Kaltim berhasil meraih penghargaan CSR & PDB Awards 2026 dengan predikat Gold dari Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT). Penghargaan ini diberikan atas kiprah Pupuk Kaltim dalam mendorong pembangunan masyarakat dan desa secara berkelanjutan melalui program PKT BISA.

(Husen Miftahudin)