Luhut Dorong Hilirisasi Rumput Laut agar Indonesia Tak Ekspor Mentah

Ilustrasi petani rumput laut. Foto: Metrotvnews.com.

Luhut Dorong Hilirisasi Rumput Laut agar Indonesia Tak Ekspor Mentah

Ade Hapsari Lestarini • 4 October 2026 15:53

Denpasar: Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mendorong Indonesia mempercepat hilirisasi rumput laut agar komoditas tidak hanya diekspor sebagai bahan mentah, tetapi juga dikembangkan menjadi produk bernilai tambah melalui penguatan teknologi dan industri pengolahan.

"Kami ingin melihat hilirisasi rumput laut ini dilakukan dalam waktu dekat, tidak terlalu lama lagi," kata Luhut dalam China Southeast Asia Forum on Higher Education and Industry Cooperation 2026 di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali, Denpasar, dilansir Antara, Minggu, 4 Oktober 2026.

Luhut mengatakan Indonesia memiliki sumber daya kelautan yang besar, termasuk rumput laut, sehingga perlu mengembangkan industri pengolahan yang mampu meningkatkan nilai ekonomi komoditas tersebut.

Pengalaman hilirisasi nikel disebutnya dapat menjadi pelajaran bagi pengembangan industri rumput laut. Indonesia, kata Luhut, telah mempelajari pentingnya dukungan investasi dan teknologi untuk membangun ekosistem industri yang menghasilkan nilai tambah di dalam negeri.

Ia menilai, kerja sama dengan Tiongkok berperan dalam pengembangan sejumlah sektor industri strategis Indonesia, terutama melalui investasi dan dukungan teknologi.

Nilai investasi tiongkok di Indonesia selama sekitar satu dekade terakhir disebutnya telah mencapai lebih dari USD70 miliar. Kerja sama tersebut memberikan kontribusi terhadap perkembangan industri dan pengolahan sumber daya di Indonesia.

Meski demikian, ia menegaskan kemitraan ekonomi kedua negara perlu terus dikembangkan agar tidak berhenti pada pembangunan pabrik dan fasilitas produksi.


Ketua DEN Luhut Binsar Pandjaitan. Foto: Medcom.id/Annisa Ayu.
 

 

Perluas kerja sama Indonesia-Tiongkok


Luhut mendorong kerja sama tersebut diperluas ke bidang penelitian, pengembangan teknologi, inovasi, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia agar industri Indonesia semakin mampu menghasilkan produk bernilai tambah.

"Kami ingin bergerak dari kemampuan industri dan transfer teknologi menuju inovasi bersama, serta dari infrastruktur fisik menuju pengembangan manusia dan pengetahuan," ujar dia.

Dalam forum tersebut, Luhut juga mengajak Universitas Tsinghua dan mitra Tiongkok membangun laboratorium bersama, program penelitian, serta kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri.

Ia menilai dukungan penelitian diperlukan untuk mengembangkan pemanfaatan sumber daya alam Indonesia secara lebih optimal, termasuk komoditas pertanian dan kelautan.

Menurut Luhut, Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan besarnya kekayaan sumber daya alam, tetapi juga perlu meningkatkan kemampuan teknologi dan inovasi agar dapat memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar.

Karena itu, ia berharap kolaborasi Indonesia-Tiongkok dapat mendorong pengembangan industri berbasis sumber daya lokal sekaligus memperkuat kapasitas peneliti dan tenaga kerja Indonesia.

Melalui hilirisasi rumput laut, Luhut berharap Indonesia dapat memperluas pengolahan komoditas kelautan di dalam negeri dan meningkatkan nilai tambah dari potensi maritim yang dimiliki.

(Ade Hapsari Lestarini)