Ilustrasi
Operasi Pasar Dinilai Belum Efektif Turunkan Harga Beras
Media Indonesia • 28 September 2023 12:33
Surabaya: Upaya operasi pasar yang dilakukan oleh pemerintah masih belum mampu menurunkan harga beras. Bahkan, diprediksi harga beras cenderung mengalami kenaikan.
"Jadi kalau Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut ada surplus untuk produksi beras, ini jelas berbeda jumlahnya dibandingkan tahun lalu. Jumlah produksi jelas turun karena faktor hama dan luas lahan yang menyempit," kata Pakar Ekonomi Universitas Airlangga (Unair) Wisnu Wibowo di Surabaya, Kamis, 28 September 2023.
Menurutnya, banyak faktor yang membuat harga komoditas ini sulit turun dalam waktu dekat. Meski pemerintah menyatakan stok beras dinilai sangat cukup.
"Dalam dua bulan ke depan belum ada jaminan bahwa beras akan turun, bahkan kita trennya naik terus," katanya.
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jawa Timur memproyeksikan produksi beras di Jatim mulai September-Desember nanti akan mencapai 1.293.452 ton.
Selain itu akan ada surplus sekitar 248.100 ton di sepanjang tahun 2023 ini. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim mencatat sepanjang Januari-Agustus 2023, Jatim telah memproduksi padi sebanyak 9.299.226 ton Gabah Kering Giling (GKG).
Dari jumlah tersebut, beras yang dihasilkan sebanyak 5.960.804 ton. Sementara tingkat konsumsi beras di Jatim rata-rata 261.338 ton per bulan atau mencapai 2.090.704 ton beras selama Januari-Agustus 2023, sehingga sepanjang tahun ini, Jatim mengalami surplus beras sebanyak 3.870.100 ton.
"Meski demikian El Nino juga menjadi penyebab naiknya harga beras. Ini karena produksinya turun. Okelah kalau dibilang angka surplus, tapi mungkin permintaan di pasar tidak demikian. Logikanya kenaikan harga disebabkan oleh permintaan naik, stok berkurang," jelasnya.
?Permasalahan naiknya harga beras ini juga bisa diketahui dari distribusi serapan beras.