Guguran Lava Gunung Karangetang Meluncur hingga 1,1 Km

Gunung Karangetang di Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Sitaro. ANTARA/Karel A Polakitan

Guguran Lava Gunung Karangetang Meluncur hingga 1,1 Km

Silvana Febiari • 23 September 2026 17:08

Kepulauan Sitaro: Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) menyebutkan guguran lava Gunung Karangetang di Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara, terus meluncur. Jarak luncur terjauh mencapai 1.100 meter.

"Teramati guguran dengan jarak luncur antara 700-1.100 meter mengarah ke selatan, barat daya, barat, dan barat laut," kata Petugas PGA Karangetang Muhamad Fadlan Rasyidin Bina, dilansir dari Antara, Rabu, 23 September 2026. 

Pada periode pengamatan 22 September 2026, CCTV merekam sinar api di puncak Kawah Selatan pada malam hari. Sinar api tersebut mencapai ketinggian 5-10 meter.


"Teramati asap kawah utara berwarna putih, kelabu, dan cokelat dengan intensitas sedang-tebal dan tinggi lebih kurang 10-500 meter," ungkapnya.

Guguran lava pijar ke arah selatan lebih kurang 700 meter, sementara ke arah barat daya-barat lebih kurang 700-1.100 meter. Sedangkan ke arah barat laut lebih kurang 500-700 meter.

Pada periode tersebut terekam gempa-gempa guguran sebanyak 43 kali, 103 kali embusan, 28 kali tremor non-harmonik, 66 kali tremor harmonik, tiga kali hibrid/fase banyak, dua kali vulkanik dangkal, delapan kali vulkanik dalam, satu kali tektonik lokal serta sebanyak empat kali tektonik jauh.


Gunung Karangetang di Pulau Siau. Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulut. ANTARA/Karel A Polakitan (ho)


Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) masih menetapkan status Gunung Karangetang Level II (Waspada). Beberapa rekomendasi yang harus dipatuhi antara lain:
  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan dilarang mendekati, mendaki, atau beraktivitas di zona prakiraan bahaya.
  • Tidak beraktivitas dalam radius 1,5 kilometer dari puncak Kawah Dua (Kawah Utara) dan Kawah Utama (Kawah Selatan).
  • Area perluasan sektoral ke arah selatan-barat daya sejauh 2,5 kilometer juga harus dihindari.
  • Masyarakat diminta mewaspadai guguran lava dan awan panas guguran yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
  • Penumpukan material lava masih belum stabil dan mudah runtuh, terutama ke arah selatan, tenggara, barat, dan barat daya.

(Silvana Febiari)