CFCL Tampilkan Koleksi VOL.12 di Masari Plaza Indonesia

Busana CFCL di Butik Masari Plaza Indonesia. (Dok. Metrotvnews.com/Duta Erlangga)

CFCL Tampilkan Koleksi VOL.12 di Masari Plaza Indonesia

Duta Erlangga • 4 September 2026 18:21

Jakarta: CFCL menghadirkan VOL.12 di Masari Plaza Indonesia. Brand asal Jepang Clothing For Contemporary Life (CFCL) tersebut kini resmi menyapa pecinta mode Tanah Air melalui Masari Plaza Indonesia.

Kehadiran VOL.12 di Masari Plaza Indonesia memadukan teknologi rajut 3D dengan desain berstruktur. Pendekatan tersebut mengusung prinsip berkelanjutan serta fleksibilitas untuk menjawab kebutuhan busana kontemporer.

Koleksi VOL.12 mengeksplorasi busana rajut melalui perpaduan bentuk yang mengalir dan struktur yang lebih tegas. CFCL mengangkat tema “Knit-ware: Sculpture” dengan gagasan mengenai hubungan antara busana, pemakai, dan masyarakat.

Masari Plaza Indonesia menghadirkan koleksi Vol.12 dari brand asal Jepang Clothing For Contemporary Life (CFCL). Memadukan teknologi rajut 3D dengan desain berstruktur, koleksi ini mengusung prinsip berkelanjutan serta fleksibilitas untuk menjawab kebutuhan busana kontemporer.

Koleksi Vol.12 dari CFCL kini resmi menyapa pecinta mode Tanah Air di gerai Masari Plaza Indonesia.

Berdiri sejak tahun 2020, brand yang digawangi oleh sang Pendiri sekaligus Creative Director Yusuke Takahashi, lahir dari sebuah impian masa kecil untuk membawa busana berstandar global dari Jepang ke panggung dunia, sekaligus memberikan makna baru pada fungsi pakaian di era modern.

Langkah Masari membawa koleksi Vol.12 CFCL ke Indonesia menjadi angin segar bagi industri mode yang kini makin mengapresiasi karya beretika, fungsional, dan bernilai tinggi.

Founder & Creative Director CFCL Yusuke Takahashi mengatakan CFCL didirikan pada 2020 sebagai bagian dari impiannya membangun brand global dari Jepang.

"Kami mendirikan brand ini pada 2020, yang merupakan impian masa kecil saya sejak masih pelajar. Saya ingin membuat brand global dari Jepang serta memikirkan tujuan dan makna dari pembuatan busana bagi masyarakat," kata Yusuke di Jakarta, Selasa, 2 September 2026.

Terkait konsep busana yang dikembangkan, Takahashi mengatakan penggunaan bahan rajut disesuaikan dengan perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin kasual.

"Bahan rajut memiliki fungsionalitas tinggi, sangat elastis, dan dapat menyesuaikan bentuk tubuh. Era sekarang jauh lebih kasual dibanding 10 tahun lalu. Tren kerja jarak jauh makin umum dan orang-orang ingin tampil lebih santai. Itulah mengapa CFCL dirancang untuk kehidupan kontemporer," ujarnya.


Busana CFCL di Butik Masari Plaza Indonesia. (Dok. Metrotvnews.com/DFuta Erlangga)
 

Terinspirasi gagasan Joseph Beuys

Dalam koleksi ini, CFCL mengembangkan kembali konsep social sculpture yang diperkenalkan seniman Jerman Joseph Beuys. Konsep tersebut memandang seni tidak hanya sebagai karya, tetapi juga sebagai bagian dari proses pembentukan kehidupan sosial.
 

CFCL menghubungkan gagasan tersebut dengan busana rajut melalui eksplorasi dampak sosial, ekspresi kreatif, dan aspek estetika.

Sejumlah bagian koleksi mengambil inspirasi dari karya felt Beuys, termasuk penggunaan draperi yang tidak beraturan dan pendekatan minimalis melalui satu jenis material.


Busana CFCL di Butik Masari Plaza Indonesia. (Dok. Metrotvnews.com/DFuta Erlangga)

 

Eksplorasi material dan teknik rajut

Koleksi VOL.12 mencakup sejumlah seri, di antaranya TW INLAY, AC MILAN, dan MILAN VELVET.

TW INLAY menggunakan campuran wol Selandia Baru yang berasal dari sumber non-mulesing dan kasmir Mongolia Dalam. Struktur tiga lapis dengan poliester daur ulang di bagian tengah menghasilkan material yang kokoh sekaligus memberikan kehangatan.

Sementara itu, AC MILAN dan MILAN VELVET mengeksplorasi draperi menggunakan material ringan. Seri MILAN menggunakan 100 persen poliester daur ulang, sedangkan AC MILAN memadukan benang asetat dan MILAN VELVET menggunakan benang rayon chenille.

Motif lain dalam koleksi terinspirasi dari kulit pohon ek. Motif tersebut menjadi penghormatan terhadap proyek 7000 Oaks karya Beuys yang berlangsung pada 1982-1987 di Kassel, Jerman.

Motif kulit pohon kemudian diterapkan pada sejumlah busana melalui teknik cetak foil dan tekstur tiga dimensi. Salah satunya, FLUFFY FRINGE FOIL, menggunakan 1.265 rumbai yang dipasang secara manual. Sementara ENCHANT dilengkapi 2.670 payet berwarna perak dan hitam.


Busana CFCL di Butik Masari Plaza Indonesia. (Dok. Metrotvnews.com/DFuta Erlangga)

CFCL didirikan pada 2020 dan merupakan singkatan dari Clothing For Contemporary Life. Merek tersebut mengusung nilai “Simplicity, Modesty, and Responsibility” serta berfokus pada pengembangan busana rajut dengan teknologi 3D computer-aided dan material yang mendukung keberlanjutan.

Pada Juli 2022, CFCL menjadi perusahaan fesyen pertama di Jepang yang memperoleh sertifikasi B Corp. Perusahaan tersebut kembali memperoleh sertifikasi pada Januari 2026 dengan skor tertinggi yang diraih perusahaan Jepang. 

Bagi Anda yang ingin melihat langsung presisi rajutan 3D dan siluet futuristik dari koleksi Vol.12 CFCL, Anda bisa mengunjungi langsung butik Masari di Plaza Indonesia.

(Patrick Pinaria)