Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda. ANTARA/HO-Humas Kementerian ESDM
Erupsi Gunung Anak Krakatau Berdampak ke Sejumlah Wilayah, Ini Langkah Antisipasi BNPB
Achmad Zulfikar Fazli • 6 September 2026 16:56
Jakarta: Abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau dirasakan masyarakat sejumlah wilayah. Distribusi material vulkanik tidak hanya berdampak pada sektor kesehatan, tetapi juga aktivitas lima penerbangan.
Menyikapi aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah melakukan upaya antisipasi dampak erupsi gunung api. Kepala BNPB Letjen Suharyanto mengatakan pihaknya telah mengambil langkah antisipasi dan perencanaan untuk merespons ancaman bahaya lanjutan dari letusan Anak Krakatau, salah satunya dengan koordinasi daring dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang wilayah terpapar abu vulkanik.
“Kami telah melakukan video conference secara intensif untuk mengetahui perkembangan kondisi masyarakat terdampak erupsi,” ujar Suharyanto dalam keterangan pers secara daring, Minggu, 6 September 2026.
BNPB telah mengirimkan sejumlah personel menuju lokasi terdampak dan memonitor langsung situasi daerah yang terpapar erupsi dan dampaknya terhadap masyarakat setempat.
Suharyanto juga memerintahkan jajarannya berkoordinasi guna melakukan kesiapan, termasuk perangkat, piranti lunak, peralatan, misalnya keberfungsian sirine, tempat evakuasi, rencana kontinjensi pada wilayah terdampak dan stok makanan yang dikelola pihak provinsi, kabupaten dan kota.
“Apabila masih dibutuhkan, bantuan dari pemerintah pusat akan kami dorong,” tutur Suharyanto.
Meluruhkan Abu Vulkanik dengan OMC
Suharyanto menyatakan sejauh ini belum ada pemerintah daerah yang terdampak menetapkan status kedaruratan bencana. Menyikapi aktivitas vulkanik yang berpotensi terus berlangsung, BNPB akan berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait.
BNPB akan melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC) pascaerupsi. Langkah ini bertujuan meluruhkan abu vulkanik yang tersebar di sejumlah titik. OMC dilakukan dengan memperhatikan aspek keamanan dan keselamatan, mengingat sejumlah bandara ditutup karena faktor keamanan dan keselamatan terkait dampak abu vulkanik.
“Kondisi lebih kondusif, kami akan melaksanakan OMC. Pesawat sudah siap di Pondok Cabe hari ini hingga malam nanti. Dua teknik untuk mendatangkan hujan saat tidak ada awan, khususnya di tengah musim kemarau panas in,” ujar Suharyanto.

Abu vulkanik dampak erupsi Gunung Anak Krakatau di Pasauran, Kabupaten Serang, Banten. Foto: ANTARA/Desi Purnama Sari.
Selain penyemaian awan, teknik modifikasi cuaca yang dilakukan dengan water-mist yang diharapkan dapat menurunkan hujan di wilayah Jakarta, Banten dan Lampung. BNPB juga telah mendistribusikan kebutuhan logistik dasar, termasuk masker, kepada masyarakat terdampak.
Tidak Panik dan Perhatikan Kesehatan
Sementara itu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengimbau masyarakat tidak panik dan memperhatikan kesehatan terkait pernapasan, mata dan kulit. Warga yang terpapar abu vulkanik dapat berdampak pada bagian tubuh tersebut.
Budi meminta masyarakat dapat mengantisipasi apabila beraktivitas di luar rumah dengan perlindungan, seperti masker, kaca mata, dan segera membersihkan diri sehabis beraktivitas di luar rumah.
“Pada wilayah yang terpapar abu vulkanik, untuk menjaga kesehatan pernapasan, lakukan kegiatan di dalam rumah. Apabila beraktivitas di luar rumah, pastikan menggunakan masker,” ujar Budi.
Apabila ada masalah dengan pernapasan, Menteri Kesehatan menginstruksikan kesiapsiagaan puskesmas di daerah. Langkah-langkah antisipasi juga disampaikan Menteri Kesehatan untuk mengantisipasi dampak kesehatan, termasuk pengaktifan pos komando kesehatan atau health Emergency Operations Center (HEOC).
Pantauan BNPB pada tiga kabupaten yang dilaporkan terdampak aktivitas vulkanik, yaitu di Kabupaten Lampung Selatan, Kabupaten Tanggamus, dan Kabupaten Pandeglang.
Dampak Penerbangan
Erupsi Gunung Anak Krakatau juga berdampak pada aktivitas penerbangan. Otoritas bandara, Kementerian Perhubungan, dan BMKG telah memantau sebaran abu vulkanik yang berbahaya terhadap aktivitas penerbangan.
Saat berlangsungnya konferensi pers pada pukul 13.00 WIB, Minggu, 6 September 2026, sebanyak enam bandara masih ditutup sementara waktu. Kementerian Perhubungan akan memutakhirkan dan memantau setiap empat jam terkait dampak pada penerbangan.
Keenam bandara yang terdampak abu, yaitu Bandara Soekarno-Hatta dan Budiarto (Tangerang), Pondok Cabe (Tangerang Selatan) Halim Perdanakusuma (Jakarta TImur), Raden Inten II (Lampung) dan Husein Sastranegara (Bandung).
Penutupan Bandara Husein Sastranegara disampaikan Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi pada keterangan pers terpisah pada pukul 13.00. Penutupan bandara di Bandung setelah adanya pengecekan wilayah bandara, dan pada pukul 12.00 WIB, fasilitas penerbangan ini ditutup sementara.
“Kementerian Perhubungan mengedepankan aspek keselamatan dan keamanan penerbangan. Pihak maskapai tidak memaksakan penerbangan apabila kondisi tidak memungkinkan,” ujar Dudy.
Sebaran abu vulkanik tidak berdampak pada transportasi laut. Menurut Kementerian Perhubungan, penyeberangan laut melalui Selat Sunda masih dapat dilakukan. Namun, pihaknya meminta otoritas pelabuhan selalu waspada dan memutakhirkan informasi terkait keamanan dan keselamatan.
“Masker untuk menjaga kondisi penumpang (kapal laut). Untuk penyeberangan tidak terlalu berdampak namun kondisi terkait keamanan dan keselamatan harus diperhatikan,” ujar Dudy.
Sementara itu, status aktivitas vulkanik Anak Gunung Krakatau pada level III atau siaga. Menurut otoritas gunung api atau PVMBG, aktivitas vulkanik masih tinggi. Pihaknya masih memantau penuh dan mengevaluasi terus menerus dinamika aktivitasnya.
Terkait zona bahaya, PVMBG menetapkan status aman berada pada radius di luar tiga km. Hal tersebut berdasarkan beberapa indikator aktivitas, seperti morfologi dan jangkauan material vulkanik yang dilontakan dari puncak gunung.
BNPB mengimbau setiap pihak tetap tenang, waspada, dan siap siaga terhadap potensi ancaman bahaya erupsi gunung api. Publik diharapkan tidak terpancing oleh disinformasi dan misinformasi yang dapat menimbulkan kepanikan dan kegaduhan. Masyarakat dapat mengakses informasi perkembangan aktivitas vulkanik dari instansi pemerintah, seperti BNPB, PVMBG, BMKG, maupun BPBD setempat.