Di tengah lahan gersang akibat kemarau di Desa Nusa Jaya, Dompu, seorang perempuan menimba air dari sumur tua untuk memberi minum sapi dan pedet miliknya. ANTARA/Ady Ardiansah
105 Hari Tanpa Hujan, Satu Kecamatan di Bima Dilanda Kekeringan Ekstrem
Silvana Febiari • 4 September 2026 21:19
Bima: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat Hari Tanpa Hujan (HTH) di Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, mencapai 105 hari. Kondisi tersebut masuk kategori kekeringan ekstrem akibat musim kemarau yang dipengaruhi fenomena El Nino.
Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Muhammad Salahuddin Bima Moch Syaiful Annas mengatakan musim kemarau masih berlangsung di sejumlah wilayah Kabupaten Bima, Kabupaten Dompu, dan Kota Bima. Kondisi tersebut berdasarkan pemantauan dinamika atmosfer dan laut hingga Dasarian III Agustus 2026.
"HTH terpanjang di Kabupaten Bima tercatat di Kecamatan Bolo selama 105 hari dan masuk kategori kekeringan ekstrem," kata Syaiful, dilansir dari Antara, Jumat, 4 September 2026.
Baca Juga :
Sembilan Daerah di NTB Berstatus Awas Kekeringan
Selain Bolo, sejumlah wilayah Kabupaten Bima juga berada dalam kategori kewaspadaan kekeringan yang berbeda. "Status siaga terdapat di Kecamatan Sanggar dan Monta, sedangkan status awas tercatat di Kecamatan Bolo, Donggo, Lambitu, Soromandi, dan Wera," ujarnya.
Kondisi kekeringan tersebut dipengaruhi fenomena El Nino yang saat ini berada pada kategori sangat kuat. Anomali suhu muka laut di wilayah Nino 3.4 tercatat sebesar positif 2,74 derajat Celsius.
"Kondisi El Nino sangat kuat diprakirakan bertahan hingga awal 2027 sehingga berpotensi memperpanjang periode kering di Indonesia, termasuk wilayah Nusa Tenggara Barat," jelas Syaiful.
Curah hujan pada Dasarian III Agustus 2026 di wilayah NTB umumnya berada pada kisaran 0-10 milimeter per dasarian dan masuk kategori bawah normal. Peluang terjadinya hujan pada Dasarian I September 2026 di wilayah Bima, Dompu, dan sekitarnya juga masih rendah, yakni kurang dari 10 persen.
"Untuk September, curah hujan bulanan di Kabupaten Bima, Kota Bima, dan Dompu diprakirakan masih rendah, umumnya kurang dari 20 milimeter hingga 21-50 milimeter per bulan," paparnya.

Seorang peternak membawa hewan ternaknya untuk minum di satu-satunya sumber air yang tersisa di kawasan lahan kritis yang mengering akibat kemarau panjang di Desa Nusa Jaya, Kecamatan Manggelewa, Kabupaten Dompu. (ANTARA/Ady Ardiansah)
Kondisi curah hujan rendah dengan akumulasi kurang dari 50 milimeter per bulan masih berpotensi terjadi hingga Oktober 2026. Peningkatan curah hujan mulai diprakirakan terjadi pada November 2026, meskipun sebagian besar wilayah masih berada pada kategori rendah dengan kisaran 51-100 milimeter per bulan.
BMKG mengimbau masyarakat menghemat air dan menyesuaikan penggunaannya dengan ketersediaan, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun pertanian. Petani juga diminta menyesuaikan jadwal tanam dan memilih varietas tanaman yang tahan kekeringan.
"Selain itu, kami mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran karena kondisi kering dapat meningkatkan risiko terjadinya kebakaran," imbaunya.
BMKG meminta masyarakat terus memantau informasi dan peringatan dini cuaca melalui kanal resmi BMKG. Langkah ini penting untuk mengantisipasi dampak musim kemarau.