Sembilan Daerah di NTB Berstatus Awas Kekeringan

Peta peringatan dini kekeringan meteorologis di wilayah Nusa Tenggara Barat yang diterbitkan oleh BMKG pada 31 Agustus 2026. ANTARA/HO-BMKG

Sembilan Daerah di NTB Berstatus Awas Kekeringan

Silvana Febiari • 31 August 2026 19:31

Mataram: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menetapkan sembilan dari 10 kabupaten/kota di Nusa Tenggara Barat (NTB) berstatus awas kekeringan meteorologis. Status tersebut diterapkan seiring periode hari tanpa hujan yang semakin panjang di wilayah tersebut.

"Hanya Kota Mataram yang saat ini belum masuk status awas kekeringan karena masih level siaga, sedangkan sembilan daerah lainnya sudah berada di level awas kekeringan meteorologis," kata Prakirawan Stasiun Klimatologi NTB Suci Agustiarini, dilansir dari Antara, Senin, 31 Agustus 2026.

Daerah yang masuk level awas kekeringan meteorologis tersebut adalah Kabupaten Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, Lombok Utara, Sumbawa Barat, Sumbawa, Dompu, Bima, serta Kota Bima. Status tersebut mencakup total 38 kecamatan.


Kondisi Hari Tanpa Hujan (HTH) beruntun secara umum berada pada kategori sangat panjang rentang 31-60 hari hingga kekeringan ekstrem dengan HTH lebih dari 60 hari. HTH berturut paling panjang tercatat di Pos Hujan Bolo, Kabupaten Bima, yang mencapai 105 hari dan masuk kategori kekeringan ekstrem.

"Pada dasarian I September 2026 atau dari tanggal 1 sampai 10 September, potensi hujan di seluruh wilayah NTB sangat kecil dengan peluang kurang 10 persen," ujar dia.

Kondisi El Nino saat ini berada pada kategori sangat kuat dengan indeks Nino3.4 sebesar +2,99 derajat Celcius. BMKG memprediksi fenomena El Nino level sangat kuat tersebut dapat bertahan hingga awal tahun 2027 mendatang.

Selain itu, Indeks Indian Ocean Dipole (IOD) berada pada kategori positif dengan nilai +0,394. Kondisi tersebut berpeluang bertahan hingga Oktober 2026.


Ilustrasi-kekeringan. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/nym.


BMKG mengimbau masyarakat menggunakan air secara bijak. Tujuannya untuk mengantisipasi potensi krisis air bersih akibat meluasnya wilayah yang berada pada level awas kekeringan meteorologis.

Berdasarkan pemberitaan sebelumnya, musim kemarau yang melanda NTB terjadi selama 25 hingga 27 dasarian atau setara delapan hingga sembilan bulan. Awal musim kemarau dimulai pada April 2026, sedangkan periode puncak kemarau terjadi pada Agustus 2026 yang melanda sekitar 89 hingga 90 persen wilayah NTB.

(Silvana Febiari)