Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono. Dok. Tangkapan Layar
Buntut Keracunan di Sidoarjo, BGN Pastikan bakal Pecat Kepala SPPG
Achmad Zulfikar Fazli • 3 September 2026 12:06
Jakarta: Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono tidak menoleransi kelalaian yang dilakukan kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam kasus keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur. BGN akan menindak tegas kapala SPPG yang melanggar aturan.
“Ini namanya kelalaian yang disengaja. Bukan hanya dicopot, bukan hanya dipecat, kalau diidentifikasi ada kelalaian dan ada unsur pidana, mohon maaf kami tidak bisa bantu,” tegas Sudaryono dilansir dari akun Instagram resmi Sudaryono pada Kamis, 3 September 2026.
Sudaryono menyebut kasus keracunan makanan di Pondok Pesantren Manbaul Hikam bentuk kelalaian yang disengaja. Pasalnya, pihak dapur melanggar standar operasional prosedur (SOP) dalam pendistribusian MBG.
Dia mencontohkan jika makanan matang pukul 05.00 WIB, makanan harus sudah dikonsumsi sebelum pukul 09.00 WIB. Pada kasus ini, MBG diberikan label dengan tulisan makanan matang pukul 08.00 WIB, sehingga maksimal dikonsumsi pukul 10.00 WIB.
Namun, pada kenyataannya, pendistribusian makanan terlambat. SPPG baru mengirim makanan di atas jam 11.00 WIB.“Kalau tidak salah (dikirim pukul) 11.30 WIB apa 11.40 WIB. Baru dimakan di atas jam 12.00 (WIB) oleh para siswa itu, sehingga keracunan massal terjadi di sekolah,” ungkap Sudaryono.
.jpeg)
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono. Dok. Tangkapan Layar
Atas kasus ini, Sudaryono meminta maaf. BGN telah mendata jumlah penerima manfaat yang mengalami gangguan kesehatan.
“Permohonan maaf saya sebagai Kepala Badan Gizi Nasional atas kelalaian dan hal-hal yang menimbulkan gangguan kesehatan atau keracunan makanan di Sidoarjo, di pondok pesantren, yang sampai saat ini datanya terekap di tempat kami. Kami terus monitor berapa yang dirawat, berapa yang sudah kembali dan kami terus menyisir juga penerima-penerima manfaat lain yang barangkali tidak berangkat ke ke Puskesmas atau ke rumah sakit, itu kami juga sisir siapa tahu ada yang sakit di rumah dan seterusnya,” ujar Sudaryono.