AS Siapkan Operasi Militer Jangka Panjang di Iran Jika Diplomasi Gagal

Presiden AS, Donald Trump dan Pemimpin Agung Iran, Ali Khamenei. (EPA via BBC)

AS Siapkan Operasi Militer Jangka Panjang di Iran Jika Diplomasi Gagal

Riza Aslam Khaeron • 15 February 2026 18:23

Washington DC: Amerika Serikat dilaporkan sedang menyiapkan potensi operasi militer jangka panjang terhadap Iran jika upaya diplomasi gagal.

Mengutip laporan eksklusif Reuters pada Sabtu, 14 Februari 2026, dua pejabat AS mengungkapkan bahwa militer tengah menyusun rencana untuk operasi yang bisa berlangsung selama berminggu-minggu jika Presiden Donald Trump memberikan perintah untuk menyerang Iran.

Perencanaan ini disebut jauh lebih kompleks dan serius dibandingkan konflik-konflik sebelumnya, meningkatkan pertaruhan dalam proses diplomasi yang sedang berjalan.

Laporan ini muncul saat utusan AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, dijadwalkan mengadakan negosiasi dengan perwakilan Iran pada hari Selasa mendatang di Jenewa, dengan Oman sebagai mediator. Namun, optimisme terhadap kesepakatan tampak rendah.

Sekretaris Negara Marco Rubio memperingatkan pada hari Sabtu bahwa meski preferensi Trump adalah mencapai kesepakatan, hal tersebut "sangat sulit untuk dilakukan."

Di saat yang sama, Trump telah memperkuat kehadiran militer di kawasan tersebut.


Kapal induk AS, USS Gerald R. Ford. (Dok. U.S. Strategic Command)

Pada hari Jumat, para pejabat mengungkapkan bahwa Pentagon mengirimkan tambahan kapal induk, USS Gerald R. Ford yang merupakan kapal induk terbesar di dunia, ke Timur Tengah, membawa ribuan tentara tambahan, pesawat tempur, dan kapal perusak berpeluru kendali. Kekuatan ini disiapkan untuk melancarkan serangan sekaligus bertahan dari potensi balasan.

Berbicara pada hari Jumat setelah acara militer di Fort Bragg, North Carolina, Trump secara terbuka menyinggung kemungkinan perubahan pemerintahan di Iran. Ia menyatakan bahwa pergantian kekuasaan "sepertinya akan menjadi hal terbaik yang bisa terjadi."

Trump juga menunjukkan rasa tidak sabarnya terhadap diplomasi jangka panjang dengan mengatakan, "Selama 47 tahun, mereka terus bicara dan bicara dan bicara." Ia memperingatkan bahwa jika solusi diplomatik gagal, alternatif yang tersisa akan menjadi "sangat traumatis, sangat traumatis."
 

Baca Juga:
Ratusan Ribu Massa Padati Berbagai Kota Dunia Tuntut Akhiri Rezim Iran

Rencana operasi kali ini dilaporkan jauh lebih luas dibandingkan operasi "Midnight Hammer" pada Juni tahun lalu. Jika sebelumnya serangan hanya menyasar fasilitas nuklir melalui pembom siluman, kali ini militer AS disebut dapat menyerang fasilitas negara dan keamanan Iran secara lebih luas.

Para pejabat AS mengakui bahwa mereka sepenuhnya mengekspektasi adanya pembalasan dari Iran, yang dapat memicu rangkaian serangan balik selama periode waktu tertentu.

Risiko bagi pasukan AS di kawasan pun meningkat. Korps Garda Revolusi Iran telah memperingatkan akan membalas setiap serangan terhadap wilayah mereka dengan mengincar pangkalan militer AS yang tersebar di Yordania, Kuwait, Arab Saudi, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Turki.

Di tengah situasi ini, dukungan terhadap tindakan militer muncul dari tokoh oposisi Iran di pengasingan, Reza Pahlavi. Dalam wawancara dengan Reuters, putra mendiang Shah Iran tersebut mendesak Washington agar tidak terlalu lama bernegosiasi.

"Kami berharap serangan ini akan mempercepat proses dan rakyat akhirnya bisa kembali ke jalanan dan membawanya hingga ke keruntuhan rezim yang terakhir," ujar Pahlavi yang percaya serangan tersebut dapat mempercepat jatuhnya pemerintahan saat ini.

Menanggapi laporan mengenai persiapan militer ini, juru bicara Gedung Putih Anna Kelly menegaskan bahwa "Presiden Trump menempatkan semua opsi di atas meja terkait Iran."

Meskipun keputusan akhir tetap berada di tangan presiden berdasarkan kepentingan keamanan nasional, pengerahan aset militer besar-besaran menunjukkan bahwa opsi militer kini menjadi pertimbangan yang sangat nyata.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fachri Audhia Hafiez)