Ilustrasi Makan Bergizi Gratis (MBG). Foto- Metrotvnews.com/Hendrik
Ekonom UI: Efek MBG, Sektor Pertanian Tumbuh 5,33%
Achmad Zulfikar Fazli • 20 February 2026 22:59
Jakarta: Program makan bergizi gratis (MBG) dinilai memberikan efek signifikan terhadap perekonomian nasional. Sektor pertanian menjadi yang paling terdampak dan mencapai pertumbuhan signifikan pada 2025.
Ekonom Universitas Indonesia, Dr. Fithra Faisal Hastiadi, mengungkapkan program MBG turut menumbuhkan sektor pertanian, karena terciptanya ekosistem ekonomi yang lebih inklusif.
“Di kuartal ke-4 2025 kemarin secara makro kita tumbuh 5,39 persen (yoy). Salah satu motor penggeraknya adalah Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang tumbuh sebesar 6,12 persen (yoy). Kalau kita melihat lebih dalam lagi, performance dalam perekonomian kita, kita bisa melihat pertumbuhan sektor pertanian 5,33 persen (yoy). Karena produknya terserap SPPG,” ujar Fithra, dalam keterangannya, Jumat, 20 Februari 2026.
Fithra menilai saat ini mitra pengelola SPPG dan pengusaha-pengusaha mulai berinvestasi di produk hulu MBG, seperti pertanian dan peternakan. Sehingga, terjadi lonjakan pertumbuhan di sektor pertanian akibat dari dampak positif MBG.
“Bahkan pertumbuhan sektor pertanian tahun lalu, terbilang tertinggi selama beberapa tahun terakhir. Kalau kita lihat di tahun 2025 tumbuhnya 5,33 persen, di 2024 cuma 0,68 persen, di 2023 hanya 1,31 persen. Jadi dari sini saja kita bisa melihat pertumbuhannya itu signifikan,” ujar Fithra.
Investasi pada sektor hulu ini dianggap sebagai solusi jangka panjang agar kebutuhan pangan program MBG tidak mengganggu stabilitas harga di pasar umum, sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional melalui peningkatan kapasitas produksi petani lokal.
Selain berdampak bagi sektor pertanian yang produk-produknya terserap langsung oleh program MBG, salah satu dampak jangka pendek yang paling terasa adalah peningkatan rantai nilai (value chain) di tingkat UMKM. Program ini juga mendorong partisipasi aktif perempuan di sektor formal maupun informal.
"Program MBG ini jauh lebih inklusif jika kita bicara mengenai pola investasinya. Partisipasi perempuan menjadi lebih terlihat karena di sektor kuliner, peran perempuan cenderung dominan. Ini memberikan peluang ekonomi yang nyata bagi mereka," ujar Fithra.
Baca Juga:
Prabowo Cerita soal MBG hingga Berantas Korupsi di Depan Pengusaha AS |

Ilustrasi tenaga kerja perempuan terserap program MBG. Dok. Metrotvnews.com
Jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) terus bertumbuh. Hingga hari ini, SPPG yang dibangun telah mencapai 23 ribu unit. Diperkirakan 1,4 juta tenaga kerja terserap secara langsung di dapur yang mengolah MBG.
Menurut data Badan Gizi Nasional, sekitar 55 persen pekerja dapur SPPG adalah perempuan, atau 770 ribu pekerja perempuan terserap program MBG. Partisipasi aktif perempuan dalam SPPG berkontribusi pada pemberdayaan ekonomi. Program MBG membuka peluang kerja baru, khususnya bagi perempuan, dan berkontribusi pada peningkatan pendapatan rumah tangga.
Efisiensi Anggaran Rumah Tangga
Berdasarkan survei yang dilakukan Research Institute of Socio-Economic Development (RISED), terhadap 1.800 orang tua, menemukan program MBG terbukti memberikan dampak positif terhadap efisiensi anggaran rumah tangga.
Sebanyak 36 persen responden mencatat penurunan pengeluaran harian, terutama berkat berkurangnya biaya bekal dan uang saku anak. Meskipun 63 persen keluarga melaporkan penghematan yang masih di bawah 10 persen dari total belanja bulanan, kehadiran MBG dinilai efektif dalam menjaga stabilitas pengeluaran rutin keluarga.
Dukungan terhadap keberlanjutan program MBG menurut hasil studi RISED mencapai 81 persen di kalangan orang tua rumah tangga rentan. Para orang tua siswa juga menilai program MBG memberikan keamanan dan kenyamanan.
“Di luar manfaat ekonomi, ada aspek ketenangan batin yang dirasakan orang tua. Salah satu responden mengungkapkan, Saya jauh lebih tenang kalau anak pulang sekolah dalam keadaan senang karena sudah makan. Rasanya ada kenyamanan tersendiri bagi kami orang tua mengetahui anak tidak pulang dalam kondisi lapar,” ungkap Peneliti RISED, M. Fajar Rakhmadi.
Selain itu, standar gizi yang diberikan MBG sudah sangat baik di mata para orang tua siswa. Sebanyak 72 persen orang tua dalam survei merasa setuju, anak-anak menjadi lebih rutin mengonsumsi makanan bergizi sejak menerima MBG. Dengan begitu, beban pikiran orang tua berkurang untuk memikirkan nutrisi harian anak-anaknya.