Menhan AS Dikecam karena Pimpin Doa Diambil dari Dialog Film Pulp Fiction

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth. Foto: The New York Times

Menhan AS Dikecam karena Pimpin Doa Diambil dari Dialog Film Pulp Fiction

Muhammad Reyhansyah • 17 April 2026 17:10

Washington: Doa yang dipimpin Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth dalam sebuah ibadah di Pentagon pada Rabu, 15 April 2026 memicu gelombang kontroversi, ejekan, dan perdebatan luas di seluruh negeri. 

Momen yang awalnya dimaksudkan sebagai refleksi spiritual bagi personel militer berubah menjadi viral setelah publik menyadari kemiripannya dengan monolog dalam film Pulp Fiction, alih-alih kutipan dari kitab suci.

Hegseth, yang dalam beberapa bulan terakhir rutin menggelar ibadah Kristen di Pentagon, memperkenalkan doa tersebut sebagai “CSAR 25:17”—singkatan dari Combat Search and Rescue sekaligus referensi terhadap ayat Alkitab Yehezkiel 25:17. 

Dalam doa itu, ia mengutip kalimat panjang yang menyebut “jalan penerbang yang jatuh dikelilingi oleh kejahatan manusia egois” hingga janji untuk “menjatuhkan pembalasan dengan kemarahan besar,” dengan tambahan istilah militer seperti “downed aviator” dan tanda panggilan “Sandy 1".

Namun, banyak pendengar—terutama penggemar film era 1990-an—segera mengenali kemiripan kuat dengan dialog yang dibawakan karakter Jules Winnfield, diperankan Samuel L. Jackson dalam Pulp Fiction. Dalam film tersebut, monolog itu diucapkan sebelum karakter tersebut mengeksekusi targetnya, menjadikannya salah satu adegan paling ikonik dalam budaya pop Amerika.

Secara faktual, teks asli Yehezkiel 25:17 dalam Alkitab versi King James jauh lebih singkat dan tidak mengandung narasi dramatik seperti yang diucapkan Hegseth. Bagian tambahan yang menggambarkan “menggembalakan yang tersesat” hingga “membalas dengan amarah” diketahui merupakan kreasi sutradara Quentin Tarantino bersama penulis naskah Roger Avary untuk kebutuhan film tersebut.

Hegseth menyatakan bahwa doa itu ia peroleh dari seorang perencana militer yang terlibat dalam misi penyelamatan tempur di Iran, yang berhasil mengevakuasi dua awak Angkatan Udara AS yang ditembak jatuh awal April. 

Ia menyebut doa tersebut dibacakan oleh perencana utama dalam operasi itu, meski tidak menjelaskan lebih lanjut asal-usul teks tersebut atau apakah ia menyadari kaitannya dengan budaya populer.


Reaksi publik

Video momen tersebut dengan cepat menyebar di media sosial seperti X dan Reddit, memicu beragam respons. Sebagian pengguna menanggapinya dengan humor, sementara lainnya menyampaikan kritik tajam.

Seorang pengguna Reddit menulis, “Tidak mungkin penulis pidatonya tidak sedang mempermainkannya.” 

Sementara pengguna lain di X menyebut penggunaan kutipan Pulp Fiction dalam doa resmi Pentagon sebagai “perpaduan memalukan antara ketidaktahuan dan teatrikalitas.”

Komentator politik Mehdi Hasan juga mengkritik keras, dengan menyatakan bahwa Hegseth “secara harfiah mengarang kutipan Alkitab berdasarkan film, sambil berpura-pura religius.”

Insiden ini terjadi di tengah sorotan yang lebih luas terhadap penggunaan simbol dan narasi keagamaan dalam pesan politik pemerintahan saat ini. 

Pekan sebelumnya, Presiden AS Donald Trump sempat membagikan gambar hasil kecerdasan buatan yang menggambarkan dirinya dalam pose menyerupai Kristus di platform Truth Social, sebelum akhirnya dihapus setelah menuai reaksi publik.


Tekanan politik

Kritik terhadap Hegseth semakin menguat seiring konteks politik yang sedang berlangsung. Sejumlah anggota Partai Demokrat di DPR AS, termasuk seorang legislator dari Tennessee, telah mengajukan pasal pemakzulan terhadapnya, dengan tuduhan mulai dari kejahatan perang hingga penyalahgunaan kekuasaan terkait operasi militer AS di Iran.

Meski proses tersebut dinilai kecil kemungkinan berlanjut karena dominasi Partai Republik di Kongres, kontroversi doa ini memberikan amunisi tambahan bagi para pengkritiknya.

Di sisi lain, pembela Hegseth relatif minim, meski beberapa pengguna media sosial berpendapat bahwa doa tersebut mungkin dimaksudkan sebagai referensi budaya atau adaptasi retoris untuk audiens militer.

Hingga kini, Departemen Pertahanan AS belum memberikan tanggapan resmi atas insiden tersebut, meski sejumlah media telah meminta klarifikasi.

Peristiwa ini menjadi contoh bagaimana momen formal dalam institusi negara dapat dengan cepat berubah menjadi bahan perdebatan publik setelah tersebar luas di media sosial. Doa “CSAR 25:17” pun kini mencerminkan pertemuan yang tidak biasa antara agama, budaya populer, dan politik di Amerika Serikat, sekaligus memunculkan pertanyaan mengenai batas antara kesakralan dan pertunjukan.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)