Podium Media Indonesia: Tak Pernah Kenyang

Dewan Redaksi Media Group, Abdul Kohar. Foto- Media Indonesia (MI)/Ebet

Podium Media Indonesia: Tak Pernah Kenyang

Abdul Kohar • 27 July 2026 07:05

ADA orang yang lapar karena belum makan. Ada pula orang yang kenyang, tetapi perutnya tetap lapar. Yang pertama bisa diobati dengan sepiring nasi. Yang kedua, tampaknya, belum ditemukan resepnya.

Dulu orang tua sering bilang, "Jangan mengambil hak orang lain. Nanti kualat." Anak-anak mengangguk. Yang dimaksud 'hak orang lain' waktu itu sederhana, seperti pisang di kebun tetangga, ayam yang berkeliaran, atau sandal yang tertukar di serambi masjid.

Sekarang pelajaran itu tampaknya harus direvisi. Hak orang lain ternyata bisa berupa jalan raya, jembatan, dana sekolah, obat-obatan di rumah sakit, bantuan orang miskin, bahkan makanan harimau.

Nah, sampai di sini saya berhenti sejenak. Harimau, singa, gajah, rusa, orang utan, dan entah satwa apa lagi rupanya sekarang harus ikut belajar ilmu politik. Mereka mesti tahu bahwa makanan yang sudah dianggarkan belum tentu sampai ke mulut.

Di tengah perjalanan, bisa saja bertemu makhluk yang lebih buas daripada mereka. Harimau itu bergigi. Namun, ada manusia yang lebih tajam giginya. Ironisnya, harimau tidak pernah makan uang. Yang makan uang justru manusia.

Kabar dari Kebun Binatang Surabaya, pekan lalu, itu memang membuat orang bingung memilih kata. Kalau anggaran pakan satwa diduga masih bisa diselewengkan hingga menyebabkan kerugian negara sekitar Rp10,2 miliar, lalu apa lagi yang masih dianggap sakral? Rasanya daftar yang tidak boleh dikorupsi tinggal selembar kertas, itu pun mungkin sedang dipelajari cara mengakali tintanya.

Dahulu orang menyebut koruptor sebagai tikus. Saya kira tikus sekarang berhak mengajukan keberatan. Tikus mengambil beras karena lapar. Koruptor mengambil apa saja meski gudangnya sudah penuh. Kasihan tikus. Ia dijadikan lambang kejahatan oleh makhluk yang jauh lebih rakus daripadanya.

Yang membuat hati makin sesak ialah para korban dalam perkara itu tidak bisa diwawancarai. Mereka tidak bisa menggelar konferensi pers. Tidak bisa melapor ke polisi. Tidak bisa mengunggah keluhan mereka ke media sosial.

Seekor rusa tidak tahu cara membuat laporan pengaduan. Seekor orang utan tidak mengerti prosedur hukum acara pidana. Seekor singa tidak bisa bersaksi di depan hakim. Mereka hanya bisa lapar. Lalu kurus. Lalu mati. Kematian mereka pun sering kali hanya dicatat sebagai angka inventaris.

Padahal, di balik setiap kandang ada kehidupan yang seluruh nasibnya dititipkan kepada manusia. Satwa tidak memilih tinggal di kebun binatang. Manusialah yang membawa mereka ke sana atas nama konservasi, pendidikan, dan perlindungan. Karena itu, ketika makanan mereka dirampas, yang dikhianati bukan hanya negara, melainkan juga amanat kemanusiaan.

Ilustrasi korupsi. Medcom.id

Korupsi memang mempunyai bakat berkembang biak. Mula-mula ia mengambil yang besar. Setelah itu mengambil yang kecil. Lama-lama ia tidak lagi bertanya, "Ini milik siapa?" Yang ditanyakan hanya satu, "Masih bisa diambil atau tidak?"

Begitulah kerakusan bekerja. Ia tidak mengenal rasa malu. Ia juga tidak mengenal rasa cukup. Barangkali karena itu, hukuman bagi koruptor tidak boleh hanya membuat orang takut masuk penjara. Hukuman juga harus membuat orang malu untuk mencuri amanah.

Penjara hanya mengurung badan, sedangkan rasa malu mengurung niat. Yang tidak kalah penting ialah menutup semua lubang yang selama ini menjadi jalan masuk para pemburu rente.

Pengawasan yang longgar sering kali lebih menggemukkan korupsi daripada besarnya anggaran. Transparansi, audit yang jujur, dan keberanian membuka penggunaan uang publik kepada masyarakat bukanlah pekerjaan tambahan. Itulah pagar terakhir sebelum uang rakyat berubah menjadi santapan kerakusan.

Ada pepatah lama, 'ukuran sebuah bangsa dapat dilihat dari cara ia memperlakukan makhluk yang lemah'. Kalau pepatah itu benar, kita patut cemas. Sekarang yang dirampas bukan hanya hak manusia. Hak binatang pun rupanya ikut dihitung sebagai peluang.

Bila suatu hari nanti kita mendengar ada kambing yang berdoa agar tidak masuk proyek pemerintah, jangan buru-buru menganggapnya sebagai cerita satire. Boleh jadi, kambing itu hanya sedang menjaga hak makannya.

(Achmad Zulfikar Fazli)