Gempa Pacitan Tak Berpotensi Tsunami

Ilustrasi - Seismograph gempa bumi. (ANTARA/Shutterstock/McCarony)

Gempa Pacitan Tak Berpotensi Tsunami

Silvana Febiari • 27 June 2026 15:53

Pacitan: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menginformasikan peristiwa gempa bumi magnitudo 5,6 yang mengguncang wilayah tenggara Pacitan, Jawa Timur, tidak berpotensi memicu tsunami. Hasil analisis BMKG menunjukkan gempa bumi ini memiliki parameter update dengan magnitudo 5.3 pada kedalaman 53 km. 

"Hasil pemodelan tsunami menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami," kata Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Wijayanto dalam keterangannya di laman BMKG, Sabtu, 27 Juni 2026. 


Wijayanto menjelaskan episenter gempa bumi tersebut terletak pada koordinat 9.05° LS; 111.11° BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 96 Km arah Tenggara Pacitan. 

Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas subduksi lempeng. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault).


Peta guncangan gempa di Pacitan, Jawa Timur. (Dokumentasi/ Metro TV)


Berdasarkan laporan masyarakat, gempa bumi tersebut dirasakan di sejumlah wilayah dengan skala intensitas berbeda. Getaran paling kuat tercatat mencapai III MMI, yakni getaran terasa nyata di dalam rumah hingga menyerupai sensasi seperti ada truk melintas. Intensitas ini dirasakan di wilayah Pacitan, Wonogiri, Tulungagung, dan Blitar.

Sementara itu, wilayah lain merasakan getaran dengan skala II MMI, di mana guncangan dirasakan oleh beberapa orang dan benda-benda ringan yang digantung tampak bergoyang. Daerah yang merasakan intensitas ini meliputi Kulon Progo, Bantul, Sleman, Yogyakarta, Trenggalek, Malang, Nganjuk, Magetan, Klaten, Ponorogo, dan Jember.

BMKG menyatakan akan terus memantau aktivitas gempa bumi susulan serta menyampaikan pembaruan informasi kepada pihak terkait dan masyarakat.

Warga diimbau tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi atau isu yang belum dapat dipastikan kebenarannya. Warga juga diminta menjauhi bangunan yang mengalami kerusakan atau retak akibat gempa bumi.

BMKG mengingatkan agar informasi resmi terkait aktivitas gempa hanya mengacu pada kanal komunikasi resmi yang telah terverifikasi, seperti media sosial @infoBMKG, situs resmi BMKG, inatews.bmkg.go.id, serta aplikasi Mobile Apps InfoBMKG dan WRS-BMKG.

(Silvana Febiari)