Ilustrasi. FOTO: MI/RAMDANI
Bangka Belitung Diperkirakan Memasuki Musim Kemarau Bulan Ini
Silvana Febiari • 2 June 2026 20:28
Pangkalpinang: Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) memperkirakan Kepulauan Babel memasuki musim kemarau pada Juni 2026. Kondisi ini berpotensi menimbulkan kebakaran hutan dan lahan serta kekeringan di sejumlah daerah.
"Kami memperkirakan puncak musim kemarau ini terjadi pada September dengan kondisi bersifat di bawah normal," kata Kepala BMKG Kepulauan Babel Eko Sulistyo Nugroho, dilansir dari Antara, Selasa, 2 Juni 2026.
Berdasarkan hasil analisis BMKG Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, pada Juni dasarian 1 hampir seluruh wilayah di Pulau Bangka diperkirakan mengalami curah hujan kategori rendah 20 hingga 50 mm/das. Sedangkan seluruh Pulau Belitung diperkirakan mengalami curah hujan kategori menengah 50 hingga 70 mm/das.
Baca Juga :
El Nino Bisa Perpanjang Kemarau di Indonesia
Pada Juni dasarian II dan III, seluruh wilayah Kepulauan Bangka Belitung, baik Pulau Bangka maupun Belitung, diperkirakan mengalami curah hujan rendah. Curah hujan tercatat berada pada kisaran 20 hingga 50 mm/das.
"Pada awal Juni tahun ini curah hujan sudah di bawah normal, sehingga curah hujan berkurang sehingga berpotensi terjadi kebakaran hutan, lahan dan kekeringan di daerah ini," ujarnya.
Penurunan curah hujan ini juga berdampak pada sektor pertanian. Oleh karena itu, petani diharapkan dapat menyesuaikan jenis tanaman yang akan ditanam selama musim kemarau.
"Kita berharap para petani menanam tanaman yang tahan terhadap kering dan ini sudah kita sosialisasikan kepada masyarakat khususnya para petani dalam menghadapi musim kemarau yang relatif kering dan panjang ini," ungkapnya.

Kepala BMKG Kepulauan Babel Eko Sulistyo Nugroho dalam Rakor Penanganan Karhutla Antisipasi Fenomena El Nino Godzilla Tahun 2026 di Pangkalpinang, Selasa, 2 Juni 2026. ANTARA/Aprionis
Dalam mengantisipasi kekeringan selama musim kemarau tahun ini, BMKG Provinsi Kepulauan Babel telah menyosialisasikan kepada petani untuk membangun embung atau memanfaatkan kolong-kolong atau bekas tambang timah. Hal ini bertujuan untuk mengatasi kekeringan.
"Kita meminta masyarakat mewaspadai kebakaran hutan dan lahan, karena dengan berkurangnya curah hujan akan mengakibatkan semak belukar yang ada di hutan mengering dan mudah atau berisiko terbakar," ujarnya.