Kabut asap menyelimuti kawasan pesisir di Pulau Dompak, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri), Senin (14/9/2026). ANTARA/Ogen
Kabut Asap Makin Tebal, Pemkot Tanjungpinang Terapkan Pembelajaran Daring
Whisnu Mardiansyah • 14 September 2026 23:23
Tanjungpinang: Pemerintah Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri), mengalihkan kegiatan belajar siswa PAUD, TK, SD, hingga SMP sederajat ke pembelajaran daring dari rumah selama 15-18 September 2026. Kebijakan tersebut diterapkan menyusul kondisi kabut asap yang menyelimuti wilayah tersebut.
Wali Kota Tanjungpinang Lis Darmansyah mengatakan kebijakan pembelajaran daring ditetapkan untuk melindungi peserta didik dan tenaga pendidik dari dampak kondisi udara yang berpotensi membahayakan kesehatan.
"Sekolah tetap menjalankan proses belajar selama penerapan belajar daring dari rumah. Guru tetap memberikan materi, tugas, dan pendampingan kepada siswa, sementara kepala sekolah memastikan kegiatan belajar berjalan efektif," kata Lis di Tanjungpinang, seperti dilansir Antara, Senin, 14 September 2026.
Ketentuan pembelajaran dari rumah tersebut tertuang dalam Surat Edaran Nomor B/041.4/13/5.3.05/2026 tentang Pembelajaran Secara Daring Selama Kondisi Cuaca Berpotensi Bahaya. Surat edaran diterbitkan Dinas Pendidikan Tanjungpinang pada 14 September 2026.
Selama pembelajaran daring berlangsung, sekolah tetap melaksanakan kegiatan pendidikan dengan dukungan guru dan kepala sekolah. Materi pembelajaran, pemberian tugas, serta pendampingan siswa dilakukan secara daring dari rumah.
Pelaksanaan MBG Disesuaikan
Perubahan sistem pembelajaran turut memengaruhi pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi siswa. Lis mengatakan mekanisme penyaluran program tersebut dapat disesuaikan dengan situasi di lapangan.
Pemerintah Kota Tanjungpinang juga mengingatkan masyarakat untuk membatasi kegiatan di luar rumah yang tidak mendesak selama kondisi udara masih terdampak kabut asap.
Warga yang tetap harus melakukan aktivitas di luar ruangan diminta mengenakan masker. Langkah tersebut ditujukan untuk mengurangi risiko gangguan pada saluran pernapasan akibat paparan udara yang tercemar.
Lis mengatakan pelaksanaan pembelajaran daring akan dievaluasi dengan mempertimbangkan perkembangan kondisi cuaca dan kualitas udara di Tanjungpinang.
"Jika kondisi kembali aman, siswa dapat kembali mengikuti pembelajaran tatap muka," ujar Lis.
Ia menambahkan pemantauan terhadap kondisi udara akan dilakukan dalam dua hari ke depan. Jika konsentrasi kabut asap meningkat, kegiatan pendidikan yang tidak berkaitan langsung dengan pelayanan dapat dilaksanakan secara bergantian.
Kabut asap terpantau menyelimuti Tanjungpinang sejak Senin pagi hingga sore. Kondisi tersebut menyebabkan jarak pandang di sejumlah wilayah menjadi terbatas. Kabut asap disebut berasal dari kiriman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pulau Sumatera.
Dampak kondisi udara juga terlihat dari aktivitas masyarakat. Sejumlah warga, mulai dari orang dewasa hingga anak-anak, mengenakan masker saat berada di luar rumah untuk mengurangi paparan kabut asap yang dapat meningkatkan risiko gangguan saluran pernapasan, termasuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Permintaan masker di Tanjungpinang turut meningkat. Masyarakat mendatangi sejumlah apotek, toko, dan swalayan untuk membeli perlengkapan pelindung pernapasan. Di sejumlah apotek, persediaan masker bahkan dilaporkan habis terjual, terutama masker untuk anak-anak.