Menteri Sosial Saifullah Yusuf. Foto: Antara
Sekolah Rakyat Tumbuhkan Harapan
M Sholahadhin Azhar • 7 May 2026 12:09
Jakarta: Kehadiran Sekolah Rakyat yang digagas Presiden Prabowo Subianto, disebut memberikan kebahagiaan tersendiri. Khususnya, bagi seorang anak bernama Al-Jabbar (Al) yang merasakan bangku sekolah seperti anak-anak lainnya, di usia 12 tahun.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengatakan Al-Jabbar merupakan salah satu calon siswa Sekolah Rakyat. Al bersama ratusan anak kurang beruntung lainnya.
"Ini salah satu calon siswa Sekolah Rakyat dari Duren Sawit, enggak jauh dari sini, yang kemarin angkat tangan dan menyampaikan langsung kepada Pak Seskab (Teddy Indra Wijaya)," kata pria yang akrab disapa Gus Ipul ini, dalam konferensi pers Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, dikutip Kamis, 7 Mei 2026.
Menurut Gus Ipul, Al secara spontan berani menyampaikan langsung kondisinya secara langsung. Termasuk, bahwa Al belum pernah sekolah.
Al merupakan anak dari seorang ibu tunggal dan memiliki seorang adik. Ayahnya telah lama meninggal sehingga kondisi ekonomi keluarganya sangat sulit.
"Dia cerita juga di tengah-tengah dia yang belum pernah sekolah, dia bawa adiknya dan adiknya mau hanya sekolah PAUD, setelah itu dia enggak mau sekolah juga. Padahal Al ingin adiknya bisa sekolah," kata Gus Ipul.
Sekolah Rakyat merupakan program pemerintah yang ditujukan bagi anak-anak dari keluarga miskin atau yang berada di kelompok desil 1 dan 2. Program ini bertujuan memutus mata rantai kemiskinan melalui pendidikan.
Menurut Gus Ipul, saat pertama kali dimulai pada 2025, Sekolah Rakyat menampung lebih dari 15 ribu siswa dengan kondisi sosial ekonomi keluarga yang berbeda-beda, tetapi mayoritas berada di garis kemiskinan.
"Pertama, 60% orang tua yang bekerja sebagai guru atau penagih harian. Sebanyak 67% orang tua berpenghasilan di bawah 1 juta rupiah. 65% keluarga memiliki tanggungan di atasnya," kata Gus Ipul.
.jpg)
Program sekolah. Foto: Antara
Sementara dari riwayat pendidikannya, terdapat 454 siswa yang tidak atau belum pernah sekolah. Selain itu, 298 siswa tercatat putus sekolah, dan sebagian lainnya bahkan sudah bekerja untuk mencari nafkah.
"Di antara mereka banyak yang hidup bersama orang tua tunggal. Sebagian lagi mereka mengalami kekerasan," pungkas Gus Ipul.
Pemerintah menargetkan jumlah siswa Sekolah Rakyat mencapai 46 ribu orang sepanjang tahun ini. Jumlah tersebut diharapkan terus meningkat menjadi 100 ribu siswa pada 2027 dan lebih dari 200 ribu siswa pada 2028.