Rosan: DSI Tak Akan Ganggu Kontrak Eksportir dan Pembeli

CEO Danantara Indonesia sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani Foto: BPMI Setpres/Rusman.

Rosan: DSI Tak Akan Ganggu Kontrak Eksportir dan Pembeli

Husen Miftahudin • 25 August 2026 11:15

Jakarta: Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia Rosan Roeslani menegaskan kehadiran PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) tidak akan mengubah hubungan komersial yang telah terjalin antara eksportir dan pembeli.

DSI mulai beroperasi secara aktif sejak 1 Juni 2026. Perusahaan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat tata kelola ekspor komoditas strategis nasional. Rosan menegaskan, DSI dibentuk untuk mendorong pengelolaan sumber daya alam (SDA) yang lebih baik dan transparan serta memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM itu juga memastikan eksportir tetap dapat menjalankan kegiatan ekspor secara langsung. Kontrak jangka panjang yang telah disepakati antara eksportir dan pembeli juga tetap dihormati.

"Jadi tidak usah ragu bahwa bapak-bapak, ibu-ibu bisa melakukan ekspornya secara langsung dan tetap we honor the sanctity of the contract, kontrak-kontrak yang jangka panjang. Tapi sifatnya dari DSI ini kita lebih pada saat ini mengevaluasi, memonitoring, dan juga memastikan yang paling penting adalah transparency of the transaction," tegas Rosan seperti dikutip dari Antara, Selasa, 25 Agustus 2026.

Rosan menambahkan, penerapan DSI dilakukan secara bertahap dan terukur dengan mempertimbangkan kesiapan para pemangku kepentingan.

"Oleh sebab itu, implementasinya akan dilakukan secara bertahap, terukur, dan berbasis kesiapan, agar arus perdagangan dan hubungan komersial yang sudah berjalan tidak terganggu," kata Rosan. Ia menekankan DSI pada tahap awal lebih berfokus pada evaluasi, pemantauan, serta transparansi transaksi ekspor.
 



Susunan Komisaris-Direksi Danantara Sumberdaya Indonesia: Mari Elka hingga Tony Wenas

(Jajaran direksi dan komisaris PT Danantara Sumberdaya Indonesia. Foto: dok Danantara)

 

DSI fokus tiga komoditas strategis


Pada fase awal, DSI berfokus pada tiga komoditas strategis nasional, yakni batu bara, minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO), dan ferroaloy.

Rosan menyampaikan nilai ekspor ketiga komoditas tersebut secara keseluruhan hampir mencapai USD70 miliar. Adapun nilai ekspor batu bara mencapai sekitar USD30,35 miliar, CPO USD22,67 miliar, dan ferroaloy sekitar USD16,43 miliar.

Besarnya nilai ekspor ketiga komoditas tersebut dinilai menunjukkan pentingnya penguatan tata kelola agar sumber daya strategis dapat memberikan manfaat lebih besar bagi perekonomian Indonesia.

"Kita ingin meningkatkan tata kelola dari ketiga komoditas ini karena memiliki arti yang strategis bagi perekonomian di Indonesia," kata Rosan.

(Husen Miftahudin)