Pemandangan skyline Batam yang berkabut dan berawan dari dataran tinggi di Batam, Kepri, Senin (24/8/2026). ANTARA/Angiela
Jarak Pandang Kota Batam Menurun Imbas Karhutla
Whisnu Mardiansyah • 24 August 2026 15:16
Batam: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Hang Nadim Batam, Kepulauan Riau (Kepri), melaporkan penurunan jarak pandang di wilayah Batam. Kondisi tersebut diduga dipengaruhi asap dari sejumlah titik api atau hotspot di Kepulauan Riau.
Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas I Hang Nadim Batam Fitri Annisa mengatakan jarak pandang pada kondisi cuaca cerah berawan biasanya mencapai sekitar 10 kilometer. Namun, jarak pandang terpantau turun hingga sekitar 6 kilometer pada Senin pagi.
“Biasanya kondisi cuaca normal, yaitu cerah berawan, jarak pandang berkisar 10 kilometer. Namun, hari ini teramati kondisi jarak pandang menurun hingga mencapai 6 kilometer,” kata Fitri di Batam, seperti dilansir Antara, Senin, 24 Agustus 2026.
Menurut Fitri, keberadaan sejumlah titik api di wilayah Kepulauan Riau, termasuk Batam, menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi penurunan jarak pandang tersebut.
“Menurut kami bisa jadi disebabkan penurunan visibility atau jarak pandang ini dipengaruhi oleh adanya beberapa titik api atau hotspot di wilayah Kepulauan Riau, termasuk Batam,” kata dia.
Salah satu kebakaran terjadi di kawasan perbukitan dan semak belukar di Jalan Trans Barelang, Kelurahan Tembesi, Kecamatan Sagulung, Batam, pada Sabtu, 22 Agustus 2026. Kebakaran tersebut menghanguskan lahan sekitar 35 hektare.
Fitri menjelaskan lokasi kebakaran tidak berada di sekitar Bandara Hang Nadim. Namun, asap dapat terbawa angin menuju wilayah lain di Kota Batam, termasuk kawasan bandara.
“Walaupun titik apinya tidak berada di sekitar wilayah bandara, karena ada pengaruh angin, asap tersebut bisa sampai ke beberapa wilayah lain di Kota Batam, termasuk wilayah bandara,” ujarnya.
Jarak Pandang Masih Mendukung Penerbangan
Meski mengalami penurunan, Fitri mengatakan jarak pandang sekitar 6 kilometer masih memungkinkan untuk mendukung aktivitas penerbangan di Bandara Hang Nadim.
“Kalau 6 kilometer itu masih bisa. Biasanya 10 kilometer sangat jelas untuk take off, tetapi 6 kilometer masih bisa. Hanya memang tidak sejelas seperti biasanya,” katanya.
Fitri menyebut penurunan jarak pandang mulai teramati pada Senin sekitar pukul 06.00 WIB. Kondisi asap juga tidak terjadi secara merata di seluruh wilayah Batam.
Pergerakan angin dan kondisi atmosfer memengaruhi sebaran asap. Pada kondisi tertentu, asap dapat berkumpul sebelum bercampur dengan udara pagi sehingga ketebalannya berbeda di setiap lokasi.

Pasukan Manggala Agni Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatra berjibaku memadamkan karhutla di Bangka (ANTARA/HO-Humas Manggala Agni Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatra)
“Biasanya asapnya berkumpul terlebih dahulu, kemudian bercampur dengan udara pagi. Makanya di beberapa tempat terlihat lebih tebal, sementara di lokasi lain tidak terlalu tebal,” ujarnya.
BMKG terus memantau perkembangan jarak pandang dan kondisi atmosfer di wilayah Batam. Informasi akan disampaikan kepada pemangku kepentingan terkait apabila terjadi perubahan kondisi yang berpotensi memengaruhi aktivitas masyarakat maupun penerbangan.
Fitri juga mengajak masyarakat berperan dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan. Masyarakat diminta tidak membuang puntung rokok sembarangan serta tidak melakukan pembakaran sampah maupun lahan secara sembarangan.
“Kalau melihat adanya kebakaran hutan atau lahan di sekitar, masyarakat diharapkan turut berperan aktif dalam membantu penanganan dan melaporkannya kepada pihak terkait,” katanya.