Presiden Prabowo Subianto dalam paripurna DPR Rabu, 20 Mei 2026. Tangkapan layar.
Presiden Prabowo Ingatkan Sejarah, Belanda Pernah Cetak PDB Tertinggi Dunia karena Kekayaan Nusantara
Husen Miftahudin • 20 May 2026 11:21
Jakarta: Presiden Prabowo Subianto mengajak semua pihak untuk selalu belajar dari sejarah. Sebab, hal ini bisa menjadi tameng bagi bangsa untuk mencegah kejadian kelam terulang.
Pernyataan ini disampaikan Kepala Negara dalam penyampaian Kerangka Ekonomi Makro (KEM) serta Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (PPKF) untuk Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun Anggaran 2027.
"Mereka yang tidak belajar dari sejarah, akan dihukum oleh sejarah, akan mengulangi sejarah kelam yang sama yang dialami oleh nenek moyang. Ini terjadi di banyak negara," ujar Prabowo dalam Rapat Paripurna ke-19 DPR RI Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025-2026 dalam Rangka Penyampaian KEM-PPKF RAPBN Tahun Anggaran 2027 di Gedung Nusantara MPR/DPR/DPD-RI, Jakarta, Rabu, 20 Mei 2026.
Padahal, pencapaian itu dicetak Hindia Belanda dengan mengeruk seluruh sumber daya yang ada di Nusantara pada saat itu. Hindia Belanda bahkan mencetak PDB tertinggi dunia selama 400 tahun.
"Negara Netherlands Belanda (Hindia Belanda) dari sejak tahun 1500, dilanjutkan 1600, dilanjutkan 1700, dilanjutkan 1800, memiliki PDB per kapita tertinggi di dunia selama itu. Selama 400 tahun mereka telah memiliki PDB per kapita tertinggi," jelas Prabowo.
"Mereka bisa memiliki PDB tertinggi dunia, kenapa? Karena mereka menguasai Nusantara kita, mereka menguasai wilayah yang sekarang adalah Republik Indonesia," tutur Kepala Negara.

Presiden Prabowo Subianto dalam paripurna DPR Rabu, 20 Mei 2026. Tangkapan layar.
Prabowo mengatakan para pendiri bangsa pun bertekad untuk bersatu dan bersama-sama melawan imperialisme. Ini dilakukan agar bangsa Indonesia kuat dan berani.
"Para pendiri bangsa kita sadar bahwa apabila pemimpin di Nusantara lemah dan tidak bersatu, maka kekayaan Nusantara akan terus diambil oleh kekuatan-kekuatan di luar Nusantara," tegas Prabowo.