Dewan Redaksi Media Group, Abdul Kohar. Foto: Media Indonesia (MI)/Ebet.
Podium Media Indonesia
Zaman Batu
Abdul Kohar, Media Indonesia • 6 April 2026 06:26
Retorika keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat, 3 April 2026, tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran. Ia berjanji akan 'menghantam sangat keras selama dua hingga tiga minggu ke depan'. Bahkan, Trump menyebut akan mengembalikan negara itu ke 'zaman batu'.
Kalimat itu terdengar gagah di podium. Namun, menyimpan keanehan. Zaman batu? Bukankah peradaban Iran yang bertumpu pada peradaban Persia sudah ada sejak sekitar 5.000 tahun lalu? Bukankah itu jauh melampaui 'peradaban Amerika' yang baru dibangun ratusan tahun lalu?
Karena itu, tidak mengherankan ternyata retorika yang tampak gagah itu cepat berbalik menjadi ironi di medan tempur. Iran tidak butuh waktu lama untuk menjawab. Komando operasi militer Khatam al-Anbiya memberikan peringatan tenang, tapi menghancurkan, yakni balasan mereka akan lebih luas dan lebih destruktif.
Itu bukan sekadar retorika tandingan. Pada hari yang sama, dua jet tempur canggih Amerika Serikat jatuh. Sejumlah laporan media menyebut pesawat tersebut ialah F-15E Strike Eagle, tulang punggung serangan udara Washington. Pesawat itu canggih dan mahal, dengan harga satu pesawat lebih dari Rp350 miliar, tapi kalah oleh senjata dari negara yang hendak 'dikirim' ke zaman batu.
Satu awak dinyatakan selamat, satu lainnya masih dalam pencarian. Bahkan, A-10 Thunderbolt II pun terkena serangan dan memaksa pilotnya melontarkan diri. Di titik ini, ancaman 'zaman batu' seperti kehilangan gaungnya. Alih-alih membawa Iran mundur, justru Washington yang dihadapkan pada kenyataan keras bahwa lawan yang dihadapi bukan entitas rapuh yang bisa ditekan dengan gertakan.
Trump, seperti biasa, bergeming, alias ngeles. “Ini perang. Kita sedang berperang,” ujarnya saat menanggapi insiden tersebut. Pernyataan itu menegaskan satu hal, yakni eskalasi bukan lagi kemungkinan, melainkan kenyataan yang tengah berjalan.
Upaya meredakan situasi pun kandas. Proposal gencatan senjata 48 jam yang disampaikan melalui jalur tidak langsung ditolak mentah-mentah oleh Teheran. Tidak ada ruang kompromi dalam fase ini. Iran memilih menjawab di lapangan, bukan di meja diplomasi.

Presiden AS Donald Trump. Foto: Anadolu Agency.
Yang lebih problematik, Trump justru memperkeruh keadaan dengan pernyataan kontroversial lainnya, yaitu keinginan untuk mengambil minyak Iran dan membuka Selat Hormuz demi keuntungan ekonomi. Pernyataan itu bukan hanya kontradiktif dengan sikap sebelumnya, melainkan juga bertabrakan dengan prinsip hukum internasional tentang kedaulatan sumber daya alam.
Padahal, Selat Hormuz ialah urat nadi energi dunia. Sekitar 20% pasokan minyak dan gas global melintasi jalur sempit itu. Menariknya, di tengah memanasnya konflik, Iran justru melonggarkan akses bagi sejumlah negara seperti Oman, Prancis, Jepang, dan Tiongkok. Sebuah sinyal bahwa Teheran masih memainkan kalkulasi geopolitik yang terukur, bukan sekadar reaksi emosional.
Di sinilah letak ironi terbesar dari seluruh episode ini. Trump tampak lupa bahwa Iran hari ini bukan sekadar negara modern, melainkan juga ahli waris kebudayaan Persia yang telah berusia ribuan tahun. Sebuah peradaban yang jejaknya bisa ditarik hingga lebih dari 5.000 tahun silam, jauh sebelum Amerika Serikat lahir sebagai negara pada abad ke-18.
Sejarah panjang itu bukan sekadar romantisme masa lalu. Ia membentuk karakter bangsa berupa daya tahan, identitas, dan kemampuan beradaptasi. Dari era Cyrus the Great yang membangun Kekaisaran Achaemenid, hingga masa Islam dengan tokoh seperti Ferdowsi yang menjaga ruh kebudayaan lewat Shahnameh, Persia telah berkali-kali menghadapi invasi, tekanan, dan perubahan zaman, tapi tetap bertahan.
Bandingkan dengan Amerika Serikat yang baru berusia ratusan tahun. Kekuatan militer mereka mungkin disebut paling canggih, tetapi sejarah membuktikan ketahanan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan persenjataan, tetapi juga oleh kedalaman peradaban.
Iran, dengan peradaban Persia mereka, telah mengenal bahasa, filsafat, bahkan sains sejak ribuan tahun lalu. Peradaban itu terus dijaga hingga kini. Ia sempat diputus rezim yang korup, tetapi bangkit kembali hanya dalam beberapa dekade kemudian, kurang dari setengah abad.
Karena itu, ancaman 'mengembalikan ke zaman batu' terdengar bukan hanya arogan, melainkan juga ahistoris. Ia mengabaikan fakta bahwa Iran telah melewati begitu banyak 'zaman batu' versi geopolitik dan tetap berdiri, bahkan terus bergerak.
Kini, yang terjadi justru sebaliknya. Retorika keras Washington berbalik menekan diri sendiri. Respons cepat Iran, mulai menembak jatuh jet tempur hingga menolak gencatan senjata, menunjukkan konflik ini jauh dari kata selesai. Kondisi yang membuat Trump dalam kondisi maju kena, mundur kena, diam juga kena.
Trump mungkin ingin membawa Iran ke masa lalu. Namun, yang terjadi di lapangan hari ini menunjukkan justru ia yang sedang berhadapan dengan realitas keras. Realitas itu ialah tidak semua negara bisa ditundukkan dengan ancaman.
Dalam politik global pun, mereka yang meremehkan sejarah sering kali justru menjadi korban dari sejarah itu sendiri. Trump pun kena batunya.