Menlu AS Ragu Negosiasi dengan Iran akan Membuahkan Hasil

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio. (X/@StateDept)

Menlu AS Ragu Negosiasi dengan Iran akan Membuahkan Hasil

Riza Aslam Khaeron • 5 February 2026 12:45

Washington DC: Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, menyatakan keraguannya bahwa negosiasi yang akan datang antara Washington dan Teheran akan membuahkan hasil yang berarti. Pernyataan tersebut disampaikan pada Rabu, 4 Februari 2026, di tengah persiapan menuju pembicaraan bilateral yang dijadwalkan digelar pada Jumat di Oman.

Melansir New York Post, Rubio menekankan bahwa meskipun AS terbuka untuk berdialog dengan Iran, ia tidak yakin bahwa hasil konkret dapat dicapai. 

"Saya tidak yakin kami bisa mencapai kesepakatan dengan mereka, tetapi kami akan mencoba mencari tahu," ujarnya kepada para wartawan.

Rubio menambahkan bahwa AS tetap bersedia melakukan pertemuan dan menegaskan bahwa pemerintahan Trump tidak menganggap perundingan sebagai bentuk konsesi atau legitimasi.

Komentar Rubio muncul setelah pemerintah AS menyetujui perubahan lokasi pertemuan dari Istanbul, Turki, ke Muscat, Oman.

Pergeseran ini terjadi akibat tekanan dari sejumlah pemimpin dunia Arab yang mendorong Washington untuk melanjutkan proses diplomatik, meskipun Iran mengajukan permintaan mendadak terkait format dan lokasi pembicaraan. Seorang pejabat senior AS mengatakan kepada Axios, 

"Mereka [pemimpin Arab] meminta kami untuk tetap menggelar pertemuan dan mendengar apa yang ingin disampaikan Iran. Kami menyampaikan bahwa kami akan melanjutkan jika mereka bersikeras. Tapi kami sangat skeptis tentang peluang keberhasilan," ucapnya.


Presiden AS, Donald Trump dan Pemimpin Agung Iran, Ali Khamenei. (EPA via BBC)

Iran, menurut laporan sejumlah media, berupaya membatasi pembahasan hanya pada isu kesepakatan nuklir. Sementara itu, AS menuntut ruang lingkup negosiasi yang lebih luas, termasuk program rudal balistik dan pelanggaran hak asasi manusia. 

"Agar pembicaraan benar-benar menghasilkan sesuatu yang berarti, maka harus mencakup beberapa hal, termasuk jangkauan rudal balistik mereka, dukungan terhadap organisasi teroris di seluruh kawasan, program nuklir, serta perlakuan terhadap rakyat mereka sendiri," kata Rubio.
 

Baca Juga:
Sempat Dilaporkan Runtuh, AS dan Iran Setuju Lakukan Negosiasi di Oman

Rubio menegaskan bahwa Iran sebelumnya telah menyetujui kerangka kerja pembicaraan sebelum kemudian mengubah sikapnya secara sepihak.

"Kami kira kami sudah memiliki forum yang disepakati di Turki, yang disusun bersama sejumlah mitra yang ingin hadir dan terlibat dalam pertemuan itu. Tapi kemarin saya melihat laporan yang bertentangan dari pihak Iran yang mengatakan bahwa mereka belum menyetujui hal tersebut, jadi itu masih dalam proses penyelesaian," sebut Rubio.

Rubio juga mengutarakan harapan bahwa tekanan internal dari rakyat Iran akan mampu mendorong perubahan kebijakan dalam rezim yang berkuasa. Ia menilai adanya perbedaan yang mencolok antara keinginan rakyat dan kepentingan para pemimpin di negara tersebut. "

Saya tidak tahu negara lain yang memiliki perbedaan lebih besar antara rakyatnya dan pemerintahnya," ujarnya. Ia menambahkan bahwa harapan jangka panjang Amerika Serikat berada pada potensi perubahan dari dalam negeri Iran sendiri.

Sikap skeptis Rubio terhadap keberhasilan perundingan tetap muncul meskipun utusan khusus Presiden Trump, Steve Witkoff, dan Jared Kushner, telah menyatakan kesiapan mereka untuk menghadiri pertemuan jika Iran memenuhi kesepakatan awal. 

Rubio menegaskan bahwa Witkoff "siap berangkat" apabila Iran menunjukkan komitmen terhadap format pembicaraan yang telah disepakati.

Ketegangan antara kedua negara semakin meningkat setelah pasukan AS menembak jatuh drone milik Iran pada Selasa, 3 Februari 2026.

Drone tersebut dilaporkan "mendekati secara agresif" kapal induk USS Abraham Lincoln. Meskipun demikian, pemerintahan Trump tetap memutuskan untuk melanjutkan jalur diplomatik guna melihat apakah Iran akan merespons secara konstruktif dalam perundingan mendatang.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Arga Sumantri)