Haedar Nashir Sebut Pendidikan Harus Ditopang Keteladanan Pemimpin

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir. Dok. Istimewa

Haedar Nashir Sebut Pendidikan Harus Ditopang Keteladanan Pemimpin

Ahmad Mustaqim • 2 May 2026 20:57

Yogyakarta: Pendidikan tidak cukup hanya mengandalkan aspek kognitif dan penguasaan ilmu pengetahuan. Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengatakan hal tersebut harus ditopang oleh keteladanan nyata dari para pemimpin, pendidik, dan seluruh elemen bangsa.

"Pendidikan harus bersifat holistik, tidak hanya menekankan nalar dan sains, tetapi juga membangun dimensi spiritual, moral, dan tindakan nyata yang luhur," ujar Haedar dalam refleksi Hari Pendidikan Nasional di Yogyakarta, Sabtu, 2 Mei 2026. 

Menurut dia, Indonesia memiliki cita-cita besar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal itu sebagaimana diamanatkan dalam konstitusi. 
 


Kendati demikian, upaya tersebut tidak sekadar membangun kecerdasan intelektual. Melainkan juga membentuk manusia yang utuh, berakhlak mulia, berintegritas, serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi.

Ia menjelaskan, tujuan pendidikan nasional sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa, berilmu, kreatif, mandiri, dan bertanggung jawab. Oleh karena itu, pendidikan tidak boleh direduksi hanya pada capaian akademik semata.

Haedar menekankan salah satu faktor paling menentukan dalam keberhasilan pendidikan adalah keteladanan para elite bangsa, baik di lingkungan pemerintahan maupun masyarakat luas. Menurutnya, keteladanan menjadi acuan utama dalam membentuk karakter generasi.

"Jika para pemimpin menunjukkan keteladanan yang baik, maka masyarakat akan meniru secara positif. Sebaliknya, ketika keteladanan hilang, maka hilang pula rujukan kebajikan di negeri ini," katanya.

Ia mengingatkan pesan pendiri Muhammadiyah, Kiai Haji Ahmad Dahlan, bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang mampu mengayomi dengan hati yang jernih dan mencerahkan. Selain itu, filosofi pendidikan dari Ki Hadjar Dewantara juga relevan untuk terus dihidupkan, yakni "Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani."


Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir. Dok. Istimewa


Momentum Hari Pendidikan Nasional, kata Haedar, seharusnya menjadi titik refleksi untuk menghadirkan kembali keteladanan dalam dunia pendidikan dan kehidupan berbangsa. Ia menilai, para guru, orang tua, dan pemimpin di berbagai sektor memiliki peran penting dalam memberikan contoh nyata kepada generasi muda.

"Apalah arti pendidikan tanpa keteladanan sebagai role model? Kata-kata dan pidato tentang pentingnya sumber daya manusia akan kehilangan makna jika tidak diwujudkan dalam tindakan nyata," ucapnya.

Haedar juga mengingatkan generasi muda saat ini, termasuk generasi Z dan Alfa, membutuhkan figur teladan yang nyata, bukan sekadar simbol atau retorika di ruang publik maupun media sosial. Ia mengajak seluruh komponen bangsa untuk membangun gerakan keteladanan secara kolektif, dimulai dari para pemimpin sebagai pusat pengaruh dalam kehidupan berbangsa.

"Keteladanan bukan sekadar jargon. Kuncinya sederhana: kata sejalan dengan tindakan, yang luhur dan serba utama," jelasnya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Silvana Febiari)