Rumah persaudaraan mahasiswa (fraternity) Choi Phi, di Cornell University. Foto: The New York Times
Pemerkosaan Melibatkan Mahasiswa CornelI University, Upaya Pembungkaman Terkuak
Fajar Nugraha • 5 October 2026 09:57
New York: Sebuah gugatan hukum yang mendalilkan adanya pemerkosaan di sebuah rumah persaudaraan mahasiswa atau fraternity house di Cornell University di Amerika Serikat (AS) telah memicu gelombang kemarahan di kalangan perempuan, baik di lingkungan kampus maupun di luar itu.
Para penyintas kekerasan seksual di kampus beserta para pendukungnya telah menerbitkan tulisan di surat kabar kampus dan membanjiri media sosial sebagai bentuk solidaritas terhadap pihak pelapor, yang dalam catatan pengadilan hanya disebut sebagai “Jane Doe”.
Sebagian orang menggunakan tagar #MeToo yang sudah dikenal luas dari gerakan sebelumnya untuk memerangi kekerasan dan pelecehan seksual. Sementara itu, yang lain mengadopsi tagar baru: #IAmJaneDoe.
Dalam sebuah artikel opini di surat kabar kampus University of Pennsylvania, para mahasiswa menulis bahwa "kekerasan seksual terjadi terlalu sering di kampus-kampus di mana pun."
"Sudah saatnya kita menghadapi kenyataan bahwa 'insiden Cornell' ini bukan sekadar masalah yang bersumber dari Cornell atau terbatas pada persoalan di Cornell saja," tulis para mahasiswa tersebut, seperti dikutip The New York Times, Senin 5 Oktober 2026.
Gelombang kemarahan yang membanjiri media sosial dan muncul di berbagai kampus ini menyusul sentimen serupa terkait kekerasan seksual di kampus yang pernah mencuat lebih dari satu dekade lalu, dan kemudian kembali menguat setelah gerakan #MeToo yang lebih luas—yang bermula dari pengungkapan kasus kekerasan seksual di Hollywood.
Dorongan utama di balik kampanye dukungan bagi Jane Doe ini adalah perasaan bahwa tidak banyak perubahan berarti yang terjadi setelah gerakan-gerakan serupa sebelumnya.
Sebagai contoh, mahasiswa Penn menulis bahwa respons di masa lalu cenderung bersifat birokratis, dan universitas lebih "mengutamakan perbaikan citra diri" ketimbang melakukan perubahan mendasar yang dapat melindungi perempuan dari kekerasan.
Sejumlah selebritas turut menyuarakan dukungan mereka. Mariska Hargitay dan yayasannya, Joyful Heart Foundation -,yang mendukung para penyintas kekerasan dalam rumah tangga,- mengunggah pesan: "Para penyintas berhak untuk dipercaya dan terus diberi informasi. Sikap diam tidak melindungi siapa pun. Kepada Jane Doe: kami mendukungmu."
Saat berkunjung ke Ithaca, New York, anggota DPR Alexandria Ocasio-Cortez menyebut insiden tahun 2024 di rumah ‘Chi Phi’ Cornell itu sebagai bagian dari "budaya pemerkosaan" di lingkungan kampus.
Tujuh nama terlibat
Dalam gugatan tersebut, perempuan muda itu menyatakan bahwa ia mengalami kekerasan seksual di rumah ‘Chi Phi’ di kampus Cornell, menyebutkan nama tujuh pria yang terlibat, serta menyatakan bahwa pihak universitas dan aparat penegak hukum tidak melakukan tindakan yang memadai untuk menghukum atau memproses hukum para pria tersebut.Para pria yang terlibat telah membantah tuduhan tersebut, sementara pihak universitas, organisasi persaudaraan mahasiswa, dan jaksa penuntut menyatakan bahwa mereka telah merespons secara tepat berdasarkan informasi yang mereka miliki pada saat itu.
Para pengacara menyoroti sulitnya menuntut kasus semacam ini di pengadilan, terutama ketika banyak pelapor -,termasuk Doe,-mengubah keterangan mereka seiring berjalannya waktu. Catatan yang diperoleh The New York Times memberikan gambaran yang tidak jelas mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Dalam sebuah pesan teks kepada salah satu pria tersebut, wanita itu sempat menyatakan bahwa "tidak ada tindakan ilegal" yang terjadi.
Namun, ia juga mengatakan kepada penyidik kepolisian, "Saya bisa mengatakan dengan keyakinan 100 persen bahwa saya diperkosa."
Kecaman luas terhadap para pria yang dituduh tersebut dapat menciptakan dinamika yang tidak adil, menurut Andrew T. Miltenberg, pengacara bagi salah satu mahasiswa Cornell yang terlibat, Gillio Lopes. Ia mengatakan bahwa "bahaya dalam kasus seperti ini adalah sebuah tuduhan, jika terus-menerus digaungkan, dapat dianggap sebagai vonis bahkan sebelum bukti-buktinya diuji."
Miltenberg, yang dikenal sering mewakili mahasiswa dalam kasus tuduhan pelanggaran seksual, mengatakan bahwa situasi ini diperparah oleh pernyataan pejabat publik yang tampak memihak Jane Doe.
Pada 28 September, Jaksa Agung Letitia James mengunggah pernyataan di platform X: "Apa yang harus dialami oleh wanita muda ini sungguh mengerikan dan tidak dapat diterima. Saya mendoakan dan mendukungnya sepenuh hati."
Beberapa hari kemudian, Gubernur Kathy Hochul menunjuk James untuk mengambil alih penyelidikan kasus tersebut. Miltenberg menyatakan bahwa Lopes telah membantah tuduhan tersebut secara tegas.
Gelombang dukungan daring bagi Jane Doe juga memicu reaksi balik; sejumlah komentator sayap kanan mengecamnya, sementara pihak lain berupaya mengungkap identitas aslinya.
Data federal menunjukkan bahwa secara nasional, terdapat 6.000 hingga 6.200 laporan pemerkosaan di lingkungan kampus setiap tahunnya antara tahun 2014 dan 2019, atau sekitar delapan hingga 11 kasus per 10.000 mahasiswa yang berada di kampus. Namun, jumlah laporan menurun drastis selama masa pandemi, ketika banyak mahasiswa mengikuti perkuliahan secara jarak jauh. Sejak saat itu, angka tersebut mulai meningkat kembali.
Data tersebut tidak merinci berapa banyak laporan yang berujung pada tindakan nyata atau terbukti kebenarannya.
Akan tetapi, data yang tersedia mengindikasikan bahwa masalah ini telah terjadi secara luas. Menurut survei berskala besar terhadap mahasiswa yang dilakukan oleh Association of American Universities pada 2019, lebih dari seperempat mahasiswi melaporkan adanya bentuk kontak seksual tanpa persetujuan, baik akibat penggunaan kekerasan fisik maupun karena mereka tidak dalam kondisi yang memungkinkan untuk memberikan persetujuan.
Survei tersebut juga menemukan bukti adanya peningkatan kesadaran mengenai peraturan dan sumber daya bantuan, seiring dengan langkah universitas dalam menyusun kebijakan serta program pelatihan baru.
Di Cornell, survei yang dilakukan oleh pihak universitas mendapati bahwa sekitar sepertiga mahasiswi mengaku pernah mengalami kejadian seksual yang tidak mereka inginkan.
Bagi sebagian mahasiswa Cornell saat ini maupun mereka yang baru saja lulus, membaca pengakuan Jane Doe mengenai dugaan kekerasan seksual telah mendorong mereka untuk berbagi cerita tentang pengalaman pribadi mereka terkait pelanggaran seksual.
Banyak di antara mereka yang menyatakan bahwa tuduhan tersebut tidak terlalu mengejutkan, mengingat seringnya mereka mendengar cerita dari teman-teman yang mengaku pernah mengalami kekerasan seksual di pesta.
"Sejujurnya, ada begitu banyak kejadian selama saya di sana hingga semuanya terasa kabur dan menyatu dalam ingatan," ujar Claire Ting, lulusan Cornell tahun lalu yang pernah aktif di organisasi mahasiswa, saat membahas percakapan dengan teman-temannya mengenai pengalaman seksual yang menyakitkan.
"Kami sering melihat unggahan dan diskusi yang membahas kasus kekerasan seksual yang terjadi. Kehebohan itu biasanya mereda, lalu kejadian serupa terulang kembali,” ujar Ting.
Respons yang muncul, menurutnya, hanyalah "rintangan birokrasi yang bertubi-tubi."
Dalam beberapa dekade terakhir, isu kekerasan seksual di lingkungan kampus sempat mendominasi percakapan nasional pada momen-momen tertentu. Sebagai contoh, perilisan film dokumenter "The Hunting Ground" pada tahun 2015 berhasil memicu sebuah gerakan besar.
Lady Gaga membawakan lagu tema film tersebut di ajang Oscar, di mana ia diperkenalkan oleh Joseph R. Biden Jr., yang saat itu menjabat sebagai wakil presiden. Kala itu, statistik menunjukkan bahwa satu dari empat perempuan di kampus melaporkan diri sebagai korban kekerasan seksual.
Hanya beberapa bulan sebelum film tersebut dirilis, peluncuran kampanye Gedung Putih untuk mengakhiri kekerasan seksual di kampus -,yang bertajuk "It’s On Us”,- seolah menjadi pertanda adanya perubahan arah.
Namun, lebih dari satu dekade kemudian, berbagai tuduhan yang muncul di Cornell memicu pertanyaan di kalangan para penyintas mengenai apakah sebenarnya ada perubahan yang terjadi.