Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Shinta Widjaja Kamdani dalam acara 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran: Kerja Nyata Melanjutkan Asta Cita yang diselenggarakan Metro TV di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Kamis, 8 Oktober 2026
APINDO: Pola Investasi Berubah, Lapangan Kerja Formal Makin Terbatas
Husen Miftahudin • 8 October 2026 11:38
Jakarta: Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Shinta Widjaja Kamdani menyoroti tren penurunan penyerapan tenaga kerja dan terbatasnya pembukaan lapangan kerja formal dalam satu dekade terakhir. Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu persoalan penting di tengah perubahan struktur industri dan investasi di Indonesia.
Perubahan arah investasi dari sektor padat karya menuju industri padat modal turut memengaruhi kebutuhan tenaga kerja. Pemanfaatan otomatisasi dalam kegiatan industri membuat jenis pekerjaan yang tersedia ikut mengalami perubahan.
"Jadi, concern yang selalu kami sampaikan adalah penyerapan tenaga kerja, karena penyerapan tenaga kerja jauh menurun di 10 tahun terakhir hampir seperempat. Jadi jenis pekerjaan yang dibutuhkan juga berbeda," kata Shinta dalam acara 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran: Kerja Nyata Melanjutkan Asta Cita yang diselenggarakan Metro TV di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Kamis, 8 Oktober 2026.
Shinta menempatkan penciptaan lapangan kerja sebagai salah satu faktor penting dalam menjaga kekuatan perekonomian. Keterbatasan lapangan kerja formal, menurut dia, turut tercermin dari semakin besarnya porsi pekerjaan di sektor informal.
"Kenapa ini sangat penting? Karena penciptaan lapangan pekerjaan itu kunci utama. Tanpa ada pekerjaan, apa yang terjadi saat ini sektor informal kita naik signifikan, hampir 60 persen," ujar dia.
Menurut Shinta, kondisi tersebut memperlihatkan kebutuhan untuk memperkuat penciptaan lapangan kerja formal, terutama ketika struktur industri padat karya menghadapi perubahan.
"Ini menjadi kunci, kita tidak punya penciptaan lapangan kerja formal. Ini yang terjadi di industri padat karya sekarang," tutur dia.
Kontribusi Industri Pengolahan Turun
Selain persoalan tenaga kerja, Shinta menyoroti perkembangan kontribusi industri pengolahan terhadap perekonomian nasional. Ia menyebut porsi sektor tersebut terhadap produk domestik bruto (PDB) kini berada di kisaran hampir 19 persen.
"Jadi industri pengolahan kita, kontribusi kepada PDB memang sudah menurun, hampir 19 persen. Tapi juga dia tetap kontributor terbesar terhadap PDB," jelas Shinta.
Shinta menilai perkembangan industri pengolahan perlu mendapat perhatian, terutama karena Indonesia masih membutuhkan lebih banyak lapangan kerja formal. Penguatan sektor tersebut dinilai berkaitan dengan kebutuhan menciptakan pekerjaan formal bagi masyarakat.
"Ini yang harus menjadi perhatian, karena kita mesti menciptakan pekerjaan-pekerjaan yang formal. Ini yang sekarang menjadi kunci utama yang harus menjadi perhatian kita semua," tutupnya.

Menteri Keuangan Suahasil Nazara. Foto: Metrotvnews.com/Duta Erlangga.