Israel Serbu Al-Aqsa 26 Kali pada September, Azan di Hebron Dilarang 150 Kali

Kompleks Masjid Al-Aqsa. (Anadolu Agency)

Israel Serbu Al-Aqsa 26 Kali pada September, Azan di Hebron Dilarang 150 Kali

Willy Haryono • 6 October 2026 17:25

Ramallah: Pasukan pendudukan Israel menyerbu Masjid Al-Aqsa di wilayah pendudukan Tepi Barat sebanyak 26 kali sepanjang September 2026.

Di periode yang sama, militer Israel juga melarang kumandang azan di Masjid Ibrahimi, Hebron, sebanyak 150 kali.

Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Palestina dalam laporan yang dirilis Selasa, 6 Oktober 2026, mengatakan bahwa tindakan tersebut merupakan bagian dari pelanggaran terhadap situs-situs suci Islam selama September.

Menurut keterangan kementerian yang dikutip Anadolu, tekanan terhadap Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur yang diduduki meningkat seiring seruan kelompok Yahudi ekstremis untuk meningkatkan penyerbuan ke kompleks tersebut.

Masjid Al-Aqsa merupakan situs tersuci ketiga bagi umat Islam. Sementara itu, umat Yahudi menyebut kawasan tersebut sebagai Temple Mount dan mengklaim lokasi itu sebagai tempat berdirinya dua kuil Yahudi pada masa kuno.

Kementerian juga mencatat peningkatan ritual Talmud di dalam kompleks Al-Aqsa, termasuk doa bersama dan apa yang disebutnya sebagai “sujud epik”.

Berdasarkan status quo historis dan hukum yang berlaku, Masjid Al-Aqsa dikelola oleh Wakaf Islam Yerusalem yang berafiliasi dengan Kementerian Wakaf Yordania dan menjadi tempat ibadah khusus bagi umat Islam.

Sejak 2003, polisi Israel mengizinkan warga Israel memasuki kompleks tersebut melalui Gerbang Mughrabi dengan pengawalan polisi, meski seruan Palestina dan Yordania untuk menghentikan penyerbuan telah berulang kali disampaikan.

Azan di Masjid Ibrahimi Dilarang 150 Kali

Kementerian mengatakan otoritas Israel melarang azan di Masjid Ibrahimi di Hebron sebanyak 150 kali selama September.

“Di Masjid Ibrahimi di Hebron, otoritas Israel mencegah azan sebanyak 150 kali selama September,” kata kementerian, seraya menambahkan bahwa pembatasan pada waktu-waktu salat tertentu telah berlangsung selama 100 hari berturut-turut.

“Masjid tersebut juga ditutup sepenuhnya selama enam hari dengan dalih hari raya Yahudi, sementara gerbang timurnya tetap ditutup dan jendelanya ditutupi penghalang, langkah-langkah yang telah diberlakukan sejak awal 2025,” lanjut kementerian.

Masjid Ibrahimi berada di Kota Tua Hebron, wilayah yang menurut laporan tersebut berada di bawah pendudukan penuh Israel. Sekitar 400 warga Israel tinggal di kawasan itu dengan perlindungan sekitar 1.500 tentara Israel.

Israel membagi Masjid Ibrahimi pada 1994, dengan 63 persen dialokasikan untuk umat Yahudi dan 37 persen untuk umat Islam. Pembagian tersebut dilakukan setelah seorang warga Israel keturunan Yahudi membunuh 29 jemaah Palestina dalam pembantaian di lokasi tersebut.

Kementerian juga melaporkan peningkatan serangan terhadap masjid-masjid di wilayah pendudukan Tepi Barat.

Menurut kementerian, warga Israel membakar Masjid Imad al-Din Zengi di Nablus dan menyemprotkan slogan-slogan rasis di dindingnya.

“Pasukan Israel juga menghancurkan ruang salat Al-Duwaysat di wilayah Al-Jiftlik, Provinsi Jericho,” kata kementerian.

Kementerian menggambarkan rangkaian insiden tersebut sebagai “eskalasi berbahaya” dan menyerukan masyarakat internasional serta organisasi hak asasi manusia dan kemanusiaan untuk bertindak melindungi situs-situs suci dan mempertahankan status quo historis serta hukum yang berlaku.

Baca juga: Pemukim Israel Serbu Kompleks Masjid Al-Aqsa untuk Perayaan Sukkot

(Willy Haryono)