Indeks Global PBB: 1,2 Miliar Orang Hidup dalam Kemiskinan Akut pada 2026

Indeks kemiskinan global PBB naik untuk pertama kalinya sejak 2010, dengan 1,2 miliar orang kini terdampak kemiskinan akut. (Anadolu Agency)

Indeks Global PBB: 1,2 Miliar Orang Hidup dalam Kemiskinan Akut pada 2026

Willy Haryono • 12 October 2026 12:28

New York: Indeks kemiskinan global Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) meningkat untuk pertama kalinya sejak indeks tersebut dibuat pada 2010, dengan jumlah orang terdampak kemiskinan kini mencapai 1,2 miliar orang, menurut laporan terbaru Program Pembangunan PBB atau UNDP pada Senin, 12 Oktober 2026.

Dalam laporan tahunan edisi 2026, UNDP bersama Oxford Poverty and Human Development Initiative mencatat terdapat tambahan 51,5 juta orang yang hidup dalam kemiskinan “akut” dibandingkan tahun sebelumnya.

Administrator UNDP Alexander De Croo mengatakan kenaikan angka kemiskinan tersebut harus menjadi “peringatan bagi dunia”.

“Di balik angka-angka ini terdapat 1,2 miliar orang yang menghadapi kesulitan yang saling memperkuat: kelaparan, kehilangan kesempatan bersekolah, serta kurangnya akses terhadap air bersih atau listrik. Ini tidak dapat diterima,” kata De Croo dalam siaran pers yang dikutip The Korea Times.

Lebih dari separuh orang yang hidup dalam kemiskinan akut tersebut merupakan anak-anak.

Pertumbuhan Penduduk Jadi Faktor

Meski jumlah orang yang hidup dalam kemiskinan meningkat, UNDP mengatakan salah satu faktor utama kenaikan yang tercatat adalah pertumbuhan penduduk.

UNDP juga mencatat bahwa data baru hanya tersedia untuk 13 dari 108 negara berkembang yang tercakup dalam laporan tersebut.

Laporan itu menunjukkan gambaran yang beragam. Sebanyak 33 negara berhasil mengurangi hingga setengah persentase penduduk yang hidup dalam kemiskinan berdasarkan indeks tersebut dalam 15 tahun terakhir.

Enam negara di antaranya berada di Afrika sub-Sahara. UNDP mengatakan negara-negara di Asia, termasuk China dan Vietnam, merupakan beberapa negara yang mencatat kemajuan paling cepat.

Seperti laporan tahun sebelumnya, mayoritas penduduk termiskin dunia masih berada di Afrika sub-Sahara dan Asia Selatan, khususnya anak benua India yang merupakan wilayah dengan kepadatan penduduk tertinggi di dunia.

“Di Mesir, Nepal, dan Tajikistan, baik tingkat kemiskinan maupun jumlah orang yang mengalami kemiskinan multidimensi telah menurun secara signifikan,” kata UNDP dalam siaran persnya.

Di Angola dan Zambia, tingkat kemiskinan juga menurun. Namun, pertumbuhan penduduk lebih dari mengimbangi penurunan tersebut sehingga jumlah orang yang hidup dalam kemiskinan justru meningkat.

Indeks kemiskinan yang digunakan dalam laporan tersebut mencakup sejumlah indikator, antara lain ketidaktersediaan tempat tinggal yang layak, sanitasi, listrik, bahan bakar untuk memasak, makanan, dan pendidikan.

Baca juga: Di EEF Rusia, Prabowo Tegaskan Pertumbuhan Ekonomi Harus Entaskan Kemiskinan

(Willy Haryono)