Martha Christina Tiahahu. (Wikipedia)
Sosok Heroik Martha Christina Tiahahu, Mutiara Nusa Laut Penakluk Belanda
Lukman Diah Sari • 4 November 2026 11:08
Jakarta: Martha Christina Tiahahu merupakan pahlawan nasional wanita yang terjun ke medan perang di usia belia. Pada usia 17 tahun, ia sudah memanggul senjata bersama pasukan Thomas Matulessy alias Kapitan Pattimura dalam pertempuran di Maluku.
Melansir laman Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta, Martha lahir sekitar tahun 1800 di Nusa Laut, Kepulauan Maluku. Ia merupakan putri dari Kapitan Paulus Tiahahu, pemimpin perlawanan di Nusa Laut, dan Sina, keturunan kapitan besar Lolohowarlau. Darah pejuang mengalir deras dalam dirinya.
Keberaniannya menentang penjajah mengantarkan Martha menjadi Pahlawan Nasional sejak 20 Mei 1969. Kiprahnya bermula saat surat perintah Pattimura tiba di tangan para Kapitan Nusalaut untuk mengajak rakyat mengangkat senjata.
Dalam pertemuan di Saparua, Paulus menyatakan sikapnya di hadapan Pattimura dan para pemimpin daerah. Ia meminta satu syarat agar putrinya diizinkan turun ke medan tempur:
"Thomas, raja-raja dan orang kaya, saya berkeberatan terhadap tindakan pemerintah Belanda yang sewenang-wenang terhadap rakyat, oleh karena itu saya akan turut serta dalam gerakan perlawanan terhadap Belanda. Hanya ada satu permintaan, yaitu izinkan anak saya Martha Christina ikut mendampingi saya dalam medan pertempuran. Ia telah memohon dengan sangat agar diperkenankan memanggul senjata dan terus mendampingi saya."
_TMnr_20017956.jpg)
Patung Martha Christina Tiahahu. (By Collectie Wereldmuseum (v/h Tropenmuseum), part of the National Museum of World Cultures)
Pattimura mengabulkan permintaan itu. Di mana Paulus berada, di situ pula Martha memegang tombak dan parang. Ia membiarkan rambut hitamnya terurai, bersumpah tidak akan mengikatnya sebelum dicuci dengan darah musuh.
Pasukan pejuang Nusalaut yang dipimpin Paulus Tiahahu dan Anthone Rhebok kemudian melancarkan serangan dahsyat hingga sukses merebut Benteng Beverwijk di Sila-Leinitu. Keberanian Martha di garis depan bahkan menuai pujian dari seorang penulis Belanda:
"Benteng Beverwijk bukan saja merupakan peringatan kepada Kompeni atas berdirinya kembali kekuasaan Belanda dalam tahun 1817, tetapi juga atas keberanian, sifat tidak takut mati dan kesetiaan dari seorang gadis pahlawan ialah Christina Martha Triago."
Kehadiran Martha tak hanya merobek barisan musuh, tetapi juga menggelorakan semangat kaum wanita untuk ikut bertempur. Hal ini membuat pasukan Belanda kewalahan. Saat pertempuran sengit di Ulat dan Ouw, Martha nekat menggempur musuh menggunakan batu saat senjatanya kehabisan mesiu.
Martha Wafat 2 Januari 1818
Pertempuran di Ulat dan Ouw menewaskan Mayor Mayer, pimpinan pasukan Belanda. Namun, serangan balasan yang dikomandoi Kapten Vermeulen Krieger membuat pasukan rakyat kehabisan peluru dan terpaksa mundur. Benteng pertahanan terakhir di Lease pun jatuh.Para pemimpin perlawanan, termasuk Pattimura, Paulus, dan Martha ditangkap. Mayoritas dijatuhi hukuman mati atau dibuang ke kebun kopi di Jawa. Hanya Martha yang dibebaskan karena dianggap masih di bawah umur.
Paulus Tiahahu akhirnya dieksekusi mati di Benteng Beverwijk. Belanda yang menyadari besarnya pengaruh keturunan Kapitan ini kemudian kembali menangkap Martha. Ia diasingkan ke Jawa bersama sejumlah tokoh pejuang lain untuk kerja paksa.
Selama pelayaran menuju Jawa, Martha Christina melakukan aksi mogok makan. Pahlawan berjuluk 'Mutiara Nusa Laut' itu jatuh sakit dan wafat pada 2 Januari 1818. Jenazahnya dibuang ke Laut Banda.