BNPB dan UI Dampingi Penyintas Bencana Sukabumi, Fokus Pulihkan Kehidupan Sosial

Kampung Haji Sukabumi, dok: Istimewa

BNPB dan UI Dampingi Penyintas Bencana Sukabumi, Fokus Pulihkan Kehidupan Sosial

Putri Purnama Sari • 4 November 2026 13:49

Jakarta: Pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dilakukan melalui pembangunan rumah dan fasilitas umum. Pemulihan kehidupan sosial masyarakat juga menjadi bagian penting untuk membangun kembali solidaritas, kemandirian, dan ketangguhan warga yang terdampak bencana.

Hal tersebut menjadi fokus Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Universitas Indonesia (UI) melalui Kegiatan Pendampingan Sosial di Daerah Pascabencana Kabupaten Sukabumi Tahun Anggaran 2026. Program ini dilaksanakan di Kampung Haji, Desa Kertaangsana, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Pada Rabu, 28 Oktober 2026, program tersebut memasuki salah satu tahapan penting melalui penyerahan barang stimulan kepada tiga kelompok masyarakat (pokmas), yakni Pokmas Kesehatan, Pokmas Keagamaan, dan Pokmas Pendidikan–Kepemudaan.

Penyerahan stimulan ini merupakan bagian dari upaya menghidupkan kembali aktivitas sosial masyarakat sekaligus memperkuat kapasitas warga dalam menghadapi risiko bencana.

Sejarah Kampung Haji, Hunian Baru bagi Penyintas Pergerakan Tanah Sukabumi

Warga Kampung Haji merupakan penyintas bencana pergerakan tanah yang terjadi di Desa Kertaangsana sejak Februari 2019 dan semakin parah pada akhir April 2019. Bencana tersebut menyebabkan kerusakan pada rumah, jalan, fasilitas umum, hingga lahan pertanian.

Sebanyak 129 rumah terdampak dan lebih dari seratus keluarga terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka.

Setelah melalui masa penantian sekitar lima tahun, pada Agustus 2024 para penyintas mulai menempati kawasan hunian tetap Kampung Haji. Kawasan tersebut terdiri atas 129 unit rumah yang dibangun di atas lahan seluas lima hektare.

Namun, perpindahan ke hunian baru tidak serta-merta mengembalikan kehidupan sosial masyarakat seperti sebelumnya. Warga perlu membangun kembali hubungan antartetangga, menghidupkan kegiatan Posyandu, pengajian, pendidikan anak, serta berbagai aktivitas bersama yang menjadi bagian penting kehidupan sehari-hari.

Karena itu, pendampingan sosial diperlukan untuk memastikan pemulihan tidak berhenti pada pembangunan dan penyerahan rumah. Lebih dari itu, masyarakat diharapkan kembali memiliki ikatan sosial yang kuat, mandiri, dan tangguh.
 

Tiga Kelompok Masyarakat Jadi Fokus Pendampingan Sosial

Pendampingan dilakukan melalui tiga pokmas yang telah dipercaya masyarakat. Masing-masing kelompok menerima stimulan dalam bentuk barang, bukan uang tunai, yang disusun berdasarkan kebutuhan dan aspirasi warga. Berikut bentuk dukungan yang diberikan kepada masing-masing kelompok:

1. Pokmas Kesehatan

Pokmas Kesehatan memperoleh dukungan berupa sarana pelayanan Posyandu, alat antropometri, perlengkapan kesehatan, serta peralatan pendukung kesiapsiagaan bencana.

Dukungan ini diharapkan dapat menghidupkan kembali pelayanan kesehatan masyarakat, khususnya bagi ibu dan anak, sekaligus memperkuat peran kader kesehatan di lingkungan hunian tetap.

2. Pokmas Keagamaan

Pokmas Keagamaan memperoleh perlengkapan pendukung kegiatan masjid dan Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA), termasuk perlengkapan pemulasaraan jenazah dan sarana informasi.

Selain mendukung aktivitas keagamaan, kelompok ini diharapkan dapat memperkuat peran masjid sebagai ruang interaksi sosial, pusat informasi, dan penggerak solidaritas masyarakat.

3. Pokmas Pendidikan–Kepemudaan

Pokmas Pendidikan–Kepemudaan memperoleh dukungan untuk pengembangan pojok baca, alat permainan edukatif, perlengkapan sekolah kebun, serta sarana olahraga bagi pemuda.

Dukungan ini diarahkan untuk menyediakan ruang belajar dan bermain yang aman bagi anak-anak sekaligus membangun aktivitas positif bagi generasi muda.

Seluruh kelompok juga memperoleh perlengkapan kesiapsiagaan, seperti alat pemadam api ringan (APAR), tas siaga bencana keluarga, paket P3K, tandu evakuasi, dan lampu darurat.

Ketua Tim Pelaksana Pendampingan Sosial UI, Nazarudin, M.A., mengatakan pemulihan pascabencana perlu dilihat secara menyeluruh. Upaya tersebut tidak hanya mencakup pembangunan fisik, tetapi juga keberlanjutan kehidupan sosial masyarakat.

“Pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dengan membangun kembali rumah dan fasilitas fisik. Yang tidak kalah penting adalah memulihkan kehidupan sosial masyarakat, menguatkan kembali solidaritas antarwarga, serta membangun kapasitas komunitas agar lebih siap menghadapi risiko bencana di masa mendatang," kata Nazarudin.

Melalui program pendampingan sosial ini, masyarakat tidak ditempatkan sekadar sebagai penerima bantuan, tetapi sebagai subjek utama pemulihan. Penyerahan stimulan kepada tiga kelompok masyarakat, yaitu bidang kesehatan, keagamaan, dan pendidikan-kepemudaan, diharapkan dapat menghidupkan kembali ruang-ruang interaksi sosial, memperkuat kemandirian, dan menumbuhkan semangat gotong royong.

Harapannya, Kampung Haji tidak hanya menjadi tempat tinggal yang aman, tetapi juga tumbuh menjadi komunitas yang guyub, tangguh, dan berdaya secara berkelanjutan," lanjutnya.
 

BNPB dan UI Dorong Pemulihan Sosial Pascabencana

Direktur Rehabilitasi dan Rekonstruksi Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan Hidup BNPB, Luqmanul Hakim, S.T., M.T., menekankan pentingnya pemulihan kehidupan sosial masyarakat dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.

Menurutnya, rehabilitasi dan rekonstruksi tidak hanya bertujuan mengembalikan kondisi fisik wilayah terdampak, tetapi juga memastikan masyarakat dapat kembali menjalankan kehidupan sosial dan ekonominya dengan lebih baik.

“Rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana tidak hanya bertujuan mengembalikan kondisi fisik wilayah terdampak, tetapi juga memastikan masyarakat dapat kembali menjalankan kehidupan sosial dan ekonominya secara lebih baik. Pemulihan harus menempatkan kebutuhan dan kemampuan masyarakat sebagai bagian penting dalam setiap tahapan pelaksanaannya," ujar Luqmanul Hakim.

"Melalui kolaborasi BNPB dan Universitas Indonesia ini, kami berharap dukungan yang diberikan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh kelompok masyarakat. Lebih dari sekadar bantuan barang, stimulan ini diharapkan menjadi modal bersama untuk menghidupkan aktivitas komunitas, memperkuat gotong royong, dan meningkatkan kesiapsiagaan warga dalam menghadapi potensi bencana di masa mendatang," tambahnya.

Kebutuhan Stimulan Disusun Bersama Warga


Kampung Haji Sukabumi, dok: Istimewa

Daftar kebutuhan stimulan disusun secara partisipatif dengan menempatkan warga sebagai subjek utama pemulihan, bukan sekadar penerima bantuan.

Rangkaian kegiatan diawali dengan sekolah berkebun dan kegiatan mendongeng untuk anak pada 10–12 Oktober 2026. Selanjutnya, tim melakukan koordinasi dengan ketiga pokmas untuk menghimpun aspirasi dan mengidentifikasi kebutuhan masyarakat.

Usulan tersebut kemudian diseleksi berdasarkan Petunjuk Pelaksanaan BNPB Nomor 1 Tahun 2023 dan ditetapkan melalui rapat bersama pada 18 Oktober 2026.

Barang stimulan selanjutnya diserahkan kepada masing-masing kelompok sebagai aset bersama. Dengan demikian, kelompok masyarakat memiliki tanggung jawab untuk mengelola, merawat, dan memanfaatkan barang tersebut sesuai kebutuhan serta tujuan program.

Penyerahan stimulan tersebut dilaksanakan bersamaan dengan penyerahan bantuan Kegiatan Pendampingan Pemulihan dan Peningkatan Produktivitas Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup (P4SDALH) UI di lokasi yang sama.

Pendampingan Kampung Haji Berlanjut dengan Bimbingan Teknis

Setelah penyerahan stimulan, kegiatan akan dilanjutkan dengan bimbingan teknis (bimtek) untuk memastikan setiap kelompok mampu menggunakan dan mengelola barang yang diterima secara tepat.

Bimtek bagi Pokmas Keagamaan meliputi materi Masjid Tanggap Bencana dan Pemulasaraan Jenazah. Sementara itu, bimtek bagi Pokmas Kesehatan serta Pokmas Pendidikan–Kepemudaan mencakup pendampingan kesehatan ibu dan anak, penyiapan tas siaga bencana yang sehat dan ramah lingkungan, pengelolaan pojok baca, penggunaan APAR, serta langkah-langkah tanggap darurat.

Rangkaian pendampingan akan ditutup dengan diskusi kelompok terarah (focus group discussion/FGD) untuk menyusun komitmen keberlanjutan program sekurang-kurangnya tiga tahun ke depan.

Melalui kolaborasi BNPB dan Universitas Indonesia, pemulihan Kampung Haji diharapkan tidak hanya menghasilkan lingkungan hunian yang lebih aman, tetapi juga masyarakat yang kembali guyub, saling mendukung, mandiri, dan tangguh menghadapi bencana.

(Putri Purnama Sari)