Waspada! Ini 5 Fakta Kematian Pertama Pasien Virus Nipah di Bangladesh

Ilustrasi: Freepik

Waspada! Ini 5 Fakta Kematian Pertama Pasien Virus Nipah di Bangladesh

M. Iqbal Al Machmudi • 8 February 2026 16:09

Jakarta: Disease Outbreake News (DONs) dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan laporan resmi meninggalnya pasien akibat infeksi Virus Nipah (NiV) di Bangladesh. Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, Tjandra Yoga Aditama, mengatakan ada lima hal yang harus diwaspadai dari kasus kematian akibat Virus Nipah.

Pertama, kasus kematian pertama akibat Virus Nipah di 2026 adalah perempuan berusia antara 40-50 tahun, tinggal di distrik Naogaon, Divisi Rajshahi, daerah Timur Laut Bangladesh

"Jadi bukan dari India yang banyak dibahas belakangan ini, jadi sudah lebih dari negara walaupun kasusnya tidak berhubungan langsung satu dengan lainnya. Artinya memang ini memerlukan perhatian dunia termasuk kita," kata Tjandra dalam keterangannya, Minggu, 8 Februari 2026.

Laporan ke WHO disampaikan oleh National Focal Point - Internasional Heath Regulation (IHR-NFP) Bangladesh pada 3 Februari 2026. Setiap negara mempunyai IHR NFP.

Poin kedua, perjalanan penyakit pasien cukup cepat memburuk sampai meninggal, hanya dalam waktu seminggu. Pasien mulai mengalami gejala pada 21 Januari 2026, dengan demam, sakit kepala, kejang otot, hilang nafsu makan, badan lemah, muntah, diikuti dengan hipersalivasi, disorientasi, dan kejang. 

Pada 27 Januari 2026, pasien menjadi tidak sadar diri. Kemudian, pasien diambil sampel usap tenggorok dan darah pada 28 Januari, dan pasien meninggal di hari yang sama.  

"Cepatnya proses penyakit menunjukkan beratnya penyakit virus Nipah ini, yang angka kematiannya memang tinggi," ujar eks Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara tersebut.
 

Baca Juga: 

Waspadai Virus Nipah saat Bepergian ke India atau Bangladesh



Ilustrasi. Medcom

Ketiga, peran penting pemeriksaan laboratorium Bangladesh mengonfirmasi kasus meninggal terinfeksi Virus Nipah (NiV infection) berdasarkan pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR), dan deteksi antibodi anti-Nipah IgM dengan Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA). Pemeriksaan laboratorium juga dilakukan pada kontak yang bergejala. 

Keempat, pasien dilaporkan beberapa kali minum jus manis kaya sukrosa yang diekstrak dari tangkai bunga atau batang pohon kurma mentah tanpa direbus. 

"Ini memang merupakan salah satu cara penularan infeksi Virus Nipah, selain dari kontak langsung dengan kelelawar dan buah yang terkontaminasi. Jadi ini menegaskan upaya penyuluhan kesehatan perlu dilakukan dengan luas dan baik," ungkap dia.

Kelima, sesudah ada kasus ini, pemerintah Bangladesh melakukan investigasi kontak dan investigasi wabah yang dilakukan oleh tim investigasi wabah mereka. 

Sebanyak 35 orang yang kontak dengan pasien meninggal tersebut telah ditelusuri. Ada enam orang yang memiliki gejala dan keluhan tertentu, tiga orang kontak rumah tangga, dua di masyarakat, dan satu petugas kesehatan. Semua sudah diperiksa mendalam dan hasilnya negatif. 

Tjandra menjelaskan setiap negara harus memerlukan sedikitnya tiga tim untuk penanganan Virus Nipah. Tim pertama melakukan investigasi wabah yang handal dan kerja cepat dan nyata di lapangan pada keadaan seperti ini, tim kedua berada di klinik dan rumah sakit yang menangani pasiennya.

Kemudian, tim ketiga merupakan tim laboratorium yang terjamin presisinya. Semua harus ditunjang dengan sarana dan prasarana memadai. 

"Dengan adanya kasus kematian tersebut sepertinya semua negara, termasuk Indonesia tentunya perlu mengambil langkah yang diperlukan, guna melindungi masyarakat," ujar dia.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Achmad Zulfikar Fazli)