ASEAN Day ke-59, Kemlu Tekankan Pentingnya Kohesi Sosial di Tengah Keberagaman

Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN Kemlu RI Ina H. Krisnamurthi. (Institut Leimena)

ASEAN Day ke-59, Kemlu Tekankan Pentingnya Kohesi Sosial di Tengah Keberagaman

Willy Haryono • 8 August 2026 16:53

Jakarta: Kementerian Luar Negeri RI mendorong penerapan Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) atau Cross-Cultural Religious Literacy sebagai pendekatan untuk memperkuat kohesi sosial, perdamaian, dan ketahanan ASEAN di tengah keberagaman masyarakat kawasan.

Pesan tersebut disampaikan Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN Kemlu RI Ina H. Krisnamurthi dalam webinar internasional bertema Literasi Keagamaan Lintas Budaya untuk Kohesi Sosial dan Perdamaian di Asia Tenggara yang diselenggarakan Institut Leimena bersama Sasakawa Peace Foundation menjelang peringatan Hari ASEAN, Sabtu, 8 Agustus 2026.

Webinar yang digelar pada Kamis malam itu diikuti sedikitnya 1.800 peserta.

"Saat memperingati Hari ASEAN, mari kita mengingat bahwa masa depan ASEAN tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi. Masa depan kita akan ditentukan oleh kemampuan kita menjaga kepercayaan, memperdalam rasa saling menghormati, menjunjung tinggi toleransi, dan memupuk kesepahaman di tengah keberagaman," kata Ina, dalam keterangan tertulis Institut Leimena yang diterima Metrotvnews.com, Sabtu, 8 Agustus 2026.

Menurut Ina, ASEAN telah mengakui pentingnya pendekatan LKLB yang dikembangkan Indonesia melalui Visi Komunitas ASEAN 2045, khususnya pada pilar Komunitas Politik-Keamanan dan Komunitas Sosial-Budaya ASEAN.

Namun, ia mengingatkan bahwa tantangan berupa intoleransi, kesalahpahaman, dan eksklusi masih terjadi, baik di Asia Tenggara maupun secara global.

"Kedekatan secara fisik saja tidaklah cukup. Yang benar-benar penting adalah bagaimana kita membangun interaksi satu sama lain. Dalam konteks inilah, literasi keagamaan lintas budaya menjadi sangat penting," ujarnya.

Ina menegaskan LKLB tidak sekadar mengajarkan masyarakat mengenal agama lain, tetapi juga membangun kemampuan untuk berinteraksi dengan empati, rasa hormat, dan kepekaan sehingga keberagaman menjadi sumber kohesi, bukan konflik.

Pengalaman Maluku Jadi Rujukan

Direktur Eksekutif Institut Leimena Matius Ho mengatakan pendekatan LKLB mulai diterapkan melalui pelatihan guru sejak 2021 dan berkembang menjadi ruang dialog lintas negara di Asia Tenggara.

Sejak 2024, Institut Leimena bersama Sasakawa Peace Foundation (SPF) menerapkan program LKLB untuk Perdamaian di Provinsi Maluku.

Program tersebut telah menarik perhatian sejumlah institusi dari Vietnam dan Filipina yang datang ke Indonesia untuk mempelajari penerapannya. Pada pertengahan Agustus 2026, delegasi dari Vietnam, Laos, dan Kamboja juga dijadwalkan mengunjungi Indonesia untuk mempelajari program tersebut.

"Setiap negara memiliki konteks dan tantangan yang berbeda. Namun, di tengah dunia yang semakin terpolarisasi, dialog dan berbagi praktik terbaik harus terus ditingkatkan," kata Matius.

Direktur Program Pembangunan Perdamaian SPF Maho Nakayama menilai pendekatan LKLB berhasil membangun kohesi sosial dari tingkat akar rumput melalui pendidikan dan masyarakat.

Ia juga mengapresiasi dimasukkannya konsep LKLB ke dalam kerangka ASEAN Community Vision 2045.

Sementara itu, peneliti SPF Jin Fujimoto mengatakan guru-guru di Maluku telah menjadi agen perubahan melalui berbagai kegiatan kolaboratif, termasuk menghidupkan kembali tradisi pela gandong sebagai bagian dari upaya memperkuat perdamaian.

Peneliti International Institute of Social Studies (ISS), Erasmus University Rotterdam, Yuyun Wahyuningrum, menambahkan bahwa LKLB berfungsi sebagai langkah pencegahan terhadap berkembangnya narasi kebencian yang dapat berujung pada diskriminasi maupun kekerasan.



Baca juga:  ASEAN Day ke-59: Menlu Sugiono Tegaskan Keberpihakan ASEAN Hanya untuk Rakyatnya

(Willy Haryono)