ilustrasi medcom.id
21 Mei Hari Reformasi Nasional Momentum Bersejarah Jatuhnya Rezim Orde Baru
Whisnu Mardiansyah • 21 May 2026 10:50
Jakarta: Setiap tanggal 21 Mei, bangsa Indonesia memperingati salah satu peristiwa paling bersejarah di era modern. Pada hari itu di tahun 1998, Presiden kedua Republik Indonesia, Soeharto, secara resmi menyatakan berhenti dari kursi kepresidenan setelah lebih dari tiga dekade berkuasa.
Langkah mundur tersebut sekaligus mengubur rezim Orde Baru sekaligus membuka pintu bagi lahirnya Era Reformasi. Sejak peristiwa itu, tanggal 21 Mei ditetapkan sebagai Hari Reformasi Nasional sebuah penanda transformasi besar dalam sistem politik, tatanan demokrasi, serta sendi-sendi kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Reformasi 1998 bukanlah sekadar peralihan kekuasaan biasa. Gerakan ini lahir dari keringat dan darah perjuangan mahasiswa, elemen masyarakat sipil, serta desakan publik yang haus akan perubahan terhadap rezim yang dianggap otoriter.
Akar Kelahiran Reformasi
Sebelum gelombang reformasi pecah, Indonesia berada di bawah kendali Orde Baru pimpinan Soeharto sejak 1966. Pada periode awal, rezim ini mendapat dukungan luas karena dinilai sukses menciptakan stabilitas politik sekaligus mengerek pertumbuhan ekonomi. Namun seiring waktu, kritik mulai berdatangan.
Rezim Orde Baru dicitrakan sebagai kekuasaan yang terlalu tersentralisasi dan membelenggu kebebasan politik. Pers dikontrol ketat, ruang gerak oposisi dipersempit, dan militer memiliki pengaruh dominan dalam roda pemerintahan. Di sisi lain, praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) kambuh tak terkendali. Kekuasaan ekonomi dan politik dinilai hanya berputar di kalangan elite terbatas. Kondisi semakin runyam ketika badai krisis moneter menerjang Asia pada 1997.
Krisis moneter Asia menjadi salah satu pemicu utama ambruknya Orde Baru. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat merosot tajam. Perusahaan-perusahaan tumbang karena tak sanggup membayar utang luar negeri. Harga barang kebutuhan pokok melonjak drastis, sementara jumlah pengangguran membengkak.
Masyarakat kelas bawah menjadi kelompok yang paling terpukul. Harga beras, minyak goreng, dan bahan sembako lainnya meroket berkali-kali lipat. Memburuknya kondisi ekonomi memicu gelombang ketidakpuasan publik terhadap pemerintah. Aksi demo pun menjalar ke berbagai daerah.
Memasuki awal 1998, gerakan mahasiswa menjelma menjadi kekuatan utama dalam menggemakan tuntutan reformasi. Kampus-kampus berubah menjadi pusat diskusi politik dan basis gerakan massa. Mahasiswa turun ke jalan dengan menyuarakan tuntutan, reformasi politik, penghapusan KKN, penegakan demokrasi, serta pengunduran diri Soeharto.
Aksi demonstrasi meletus di berbagai kota besar, seperti Jakarta, Yogyakarta, Bandung, dan Surabaya. Mahasiswa dari Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Trisakti menjadi tulang punggung gerakan Reformasi 1998.
Tragedi Trisakti Titik Darah yang Membakar Semangat
Puncak ketegangan terjadi pada 12 Mei 1998. Mahasiswa Universitas Trisakti menggelar aksi damai di Jakarta untuk menuntut reformasi. Namun nahas, aksi tersebut berakhir pilu ketika aparat keamanan melepaskan tembakan ke arah para demonstran.
Empat mahasiswa tewas dalam insiden yang kelak dikenal sebagai Tragedi Trisakti. Mereka adalah Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie. Peristiwa berdarah ini memicu kemarahan publik luar biasa dan menjadi titik balik yang mengeraskan gelombang reformasi.
Sehari setelah Tragedi Trisakti, Jakarta dan sejumlah daerah lainnya dilanda kerusuhan besar pada 13–15 Mei 1998. Kerusuhan itu ditandai dengan aksi pembakaran gedung dan kendaraan, penjarahan pusat perbelanjaan, kekerasan terhadap warga sipil, hingga jatuhnya banyak korban jiwa. Kerusuhan Mei 1998 tercatat sebagai salah satu babak paling kelam dalam sejarah Indonesia modern.
Di tengah situasi nasional yang kian tak menentu, tekanan terhadap Soeharto terus memuncak. Pada 18 Mei 1998, ribuan mahasiswa berhasil menembus masuk ke kompleks DPR/MPR di Senayan, Jakarta. Mereka menduduki gedung parlemen sambil meneriakkan tuntutan reformasi dan meminta Soeharto mundur. Momen ini menjadi simbol runtuhnya legitimasi kekuasaan Orde Baru.
Mahasiswa bertahan di gedung DPR selama beberapa hari. Mereka menggelar mimbar bebas, melantunkan puisi perjuangan, serta menyanyikan lagu-lagu kebangsaan. Tekanan politik terhadap Soeharto kian membesar setelah sejumlah tokoh politik mulai bersuara lantang meminta presiden mundur. Harmoko, Ketua DPR/MPR saat itu, secara terbuka meminta Soeharto lengser demi menyelamatkan persatuan bangsa.
21 Mei Soeharto Akhirnya Mundur
Pada 21 Mei 1998, Soeharto menyampaikan pidato pengunduran dirinya dari Istana Merdeka, Jakarta. Dalam pidatonya, ia menyatakan berhenti dari jabatan Presiden RI sebagaimana diatur Pasal 8 Undang-Undang Dasar 1945. Selepas pengunduran diri itu, Wakil Presiden BJ Habibie dilantik sebagai presiden. Peristiwa ini mengukuhkan berakhirnya Orde Baru sekaligus menandai dimulainya Era Reformasi.
Hari Reformasi Nasional yang diperingati setiap 21 Mei menjadi momen refleksi atas perjalanan demokrasi Indonesia. Reformasi telah melahirkan banyak perubahan fundamental: kebebasan pers, sistem multipartai, pemilu yang lebih demokratis, pengurangan peran militer dalam politik, serta meluasnya ruang kebebasan berpendapat.
Masyarakat Indonesia kini menikmati demokrasi yang jauh lebih terbuka dibanding era sebelumnya. Namun reformasi juga menyisakan pekerjaan rumah yang tak ringan: korupsi yang masih merajalela, polarisasi politik yang menganga, ketimpangan sosial, serta penegakan hukum yang belum optimal. Karena itu, Hari Reformasi Nasional bukan hanya peringatan sejarah, melainkan juga alarm bahwa demokrasi tak boleh berhenti diperjuangkan.
Lebih dari dua dasawarsa telah berlalu sejak runtuhnya Orde Baru pada 21 Mei 1998. Namun ruh reformasi tetap membara dalam perjalanan bangsa Indonesia. Peristiwa Reformasi 1998 membuktikan bahwa perubahan besar bisa lahir dari keberanian rakyat bersuara dan memperjuangkan demokrasi.