Marsinah. Istimewa.
Profil Marsinah, Buruh Perempuan yang Jadi Pahlawan Nasional
Putri Purnama Sari • 1 May 2026 15:41
Jakarta: Peringatan Hari Buruh 1 Mei 2026 kembali mengingatkan publik pada sosok Marsinah, seorang buruh sekaligus aktivis yang menjadi simbol perjuangan hak-hak pekerja di Indonesia. Namanya dikenal luas di kalangan aktivis sebagai figur yang berani menyuarakan ketidakadilan, khususnya pada masa Orde Baru.
Marsinah tidak hanya dikenang sebagai pekerja pabrik, tetapi juga sebagai sosok yang gigih memperjuangkan kesejahteraan buruh. Atas dedikasi dan pengorbanannya, ia kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Buruh Nasional.
Profil Marsinah

Coretan dinding tentang Marsinah. Dok Media Indonesia.
Marsinah lahir pada 10 April 1969 di Nglundo, Sukomoro, Nganjuk, Jawa Timur. Ia merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, pasangan Sumini dan Mastin. Sejak kecil, Marsinah telah hidup sederhana dan dibesarkan oleh nenek serta bibinya.
Ia mengenyam pendidikan di SD Negeri Karangasem 189 dan melanjutkan ke SMP Negeri 5 Nganjuk. Dalam kesehariannya, Marsinah kecil juga membantu perekonomian keluarga dengan berjualan makanan ringan. Pendidikan lanjutannya sempat ditempuh di Pondok Pesantren Muhammadiyah, namun terhenti karena keterbatasan biaya.
Perjalanan sebagai Buruh dan Aktivis
Karier Marsinah dimulai pada 1989 saat bekerja di pabrik sepatu di Surabaya. Setahun kemudian, ia pindah ke PT Catur Putra Surya (CPS) di Porong, Sidoarjo. Di tempat inilah ia dikenal sebagai pekerja yang vokal dan berani menyuarakan aspirasi rekan-rekannya.Pada 1993, kebijakan pemerintah terkait kenaikan upah memicu dinamika antara buruh dan perusahaan. Para pekerja menuntut penyesuaian gaji yang lebih layak, termasuk kenaikan upah harian dari Rp1.700 menjadi Rp2.250. Marsinah menjadi salah satu perwakilan buruh yang aktif dalam aksi dan proses perundingan dengan pihak perusahaan.
Perjuangan Marsinah mencapai titik krusial pada Mei 1993. Saat sejumlah buruh dipanggil oleh aparat dan dipaksa mengundurkan diri, Marsinah berupaya mencari kejelasan atas nasib rekan-rekannya. Namun, pada 5 Mei 1993 malam, ia dilaporkan hilang.
Empat hari kemudian, tepatnya 9 Mei 1993, jasad Marsinah ditemukan di wilayah Nganjuk dalam kondisi mengenaskan. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya tanda-tanda kekerasan sebelum kematiannya. Hingga kini, kasus tersebut belum menemukan keadilan yang tuntas.
| Baca juga: 3 Tokoh Buruh Indonesia, Kisahnya Tak Banyak Diketahui |
Warisan Perjuangan di Hari Buruh
Pada Hari Buruh 2026, sosok Marsinah kembali relevan sebagai pengingat pentingnya perlindungan terhadap hak-hak pekerja. Kisahnya menjadi simbol keberanian melawan ketidakadilan serta dorongan untuk terus memperjuangkan kesejahteraan buruh di Indonesia.Semangat yang ditinggalkan Marsinah terus hidup dalam berbagai gerakan buruh hingga saat ini. Namanya bukan hanya bagian dari sejarah, tetapi juga inspirasi bagi generasi pekerja untuk terus menyuarakan keadilan dan kemanusiaan.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Metrotvnews.com