Jakarta: Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day pada Jumat, 1 Mei 2026 menjadi momentum untuk mengenang perjuangan panjang pekerja dalam menuntut hak dan kesejahteraan. Di Indonesia, perjalanan gerakan buruh tidak lepas dari peran sejumlah tokoh yang berjuang di berbagai era.
?3 Tokoh Buruh Indonesia
Perkembangan perlindungan dan kesejahteraan buruh saat ini merupakan hasil dari proses panjang yang melibatkan pengorbanan para
aktivis buruh. Berikut tiga tokoh penting dalam sejarah gerakan buruh Indonesia:
1. Marsinah
Marsinah merupakan buruh pabrik arloji di PT Catur Putra Surya, Jawa Timur. Ia dikenal sebagai simbol perjuangan buruh setelah aktif menuntut kenaikan upah dan hak-hak pekerja pada 1993.
Saat itu, perusahaan tidak menjalankan kebijakan kenaikan upah sebesar 20 persen sesuai Surat Edaran Gubernur Jawa Timur. Marsinah bersama rekan-rekannya melakukan aksi mogok kerja untuk menuntut hak tersebut, termasuk cuti haid, cuti hamil, dan upah lembur.
Pada 4 Mei 1993, sejumlah buruh ditangkap oleh aparat. Marsinah kemudian mendatangi kantor Koramil untuk mencari informasi, namun ia menghilang pada hari yang sama. Empat hari kemudian, jasadnya ditemukan di hutan di wilayah Nganjuk dalam kondisi mengenaskan.
Kasus Marsinah menjadi perhatian nasional dan internasional serta memperkuat sorotan terhadap perlindungan hak buruh di Indonesia.
2. Raden Mas Soerjopranoto
Raden Mas Soerjopranoto merupakan tokoh
pergerakan buruh pada masa kolonial. Lahir pada 11 Agustus 1871, ia dikenal aktif memperjuangkan hak pekerja meski berasal dari kalangan bangsawan.
Pada 1918, ia mendirikan organisasi buruh bernama Arbeidsleger yang bertujuan membantu pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja. Setahun kemudian, ia mendirikan Personeel Fabriek Bond (PFB), salah satu organisasi buruh terbesar saat itu.
Melalui berbagai aksi mogok kerja, Soerjopranoto berhasil menekan kebijakan pemerintah kolonial. Atas perannya, ia mendapat julukan De Stakingskoning atau “Raja Mogok”.
3. Surastri Karma Trimurti
Surastri Karma Trimurti merupakan tokoh perempuan dalam
gerakan buruh Indonesia. Ia lahir pada 11 Mei 1912 dan aktif dalam dunia pergerakan sejak masa kolonial.
Trimurti terlibat dalam organisasi politik dan jurnalisme pergerakan, serta menjadi salah satu pendiri Barisan Buruh Wanita (BBW) dan Partai Buruh Indonesia (PBI).
Pada 1947, ia menjabat sebagai Menteri Perburuhan dalam Kabinet Amir Sjarifoeddin. Dalam masa jabatannya, ia berperan dalam penyusunan sejumlah regulasi penting bagi perlindungan buruh, di antaranya:
- Undang-Undang Nomor 33 Tahun 1947 tentang kompensasi kecelakaan kerja
- Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1948 yang mengatur jam kerja maksimal, larangan kerja malam, serta perlindungan kesejahteraan buruh
Kontribusi Trimurti menjadi bagian penting dalam pembentukan sistem ketenagakerjaan di Indonesia.
Peran Tokoh dalam Gerakan Buruh
Ketiga tokoh tersebut menunjukkan bahwa perjuangan buruh di Indonesia tidak terjadi secara instan. Upaya untuk memperjuangkan hak pekerja dilakukan melalui berbagai cara, mulai dari aksi langsung hingga kebijakan formal.
Peringatan Hari Buruh menjadi pengingat bahwa hak-hak pekerja saat ini merupakan hasil dari perjuangan panjang yang terus berlanjut hingga sekarang.
Jangan lupa saksikan
MTVN Lens lainnya hanya di
Metrotvnews.com.
(Odetta Aisha Amrullah)