Ilustrasi. Foto: dok Ditjenbun Kementan.
AI dan Satelit Siap Deteksi Dini Masalah Nutrisi Tanaman Sawit
Ade Hapsari Lestarini • 17 July 2026 18:29
Bogor: PT Dabeeo Artificial Intelligence Indonesia menjalin kerja sama dengan IPB University untuk mengembangkan teknologi deteksi kekurangan nutrisi pada tanaman kelapa sawit berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan citra satelit beresolusi tinggi.
Kolaborasi tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) oleh Executive Vice President Dabeeo Chang Hoon Moon dan Kepala LRI Teknologi Maju IPB University Anas Miftah Fauzi.
Head of Business Development Dabeeo Indonesia Rizky Dantri mengatakan, perusahaan akan mendukung penelitian tersebut, termasuk melalui penyediaan data citra satelit yang dibutuhkan dalam proses riset.
"Kami dari Dabeeo siap memberikan dukungan pendanaan untuk riset ini, terutama dalam hal akuisisi. Jadi nanti kalau dalam penelitian perlu penggunaan satelit, kami bersedia untuk menyediakan," ujar Rizky, dalam keterangan tertulis, Jumat, 17 Juli 2026.
Melalui kerja sama tersebut, kedua pihak akan mengembangkan metode deteksi kekurangan nutrisi tanaman yang tidak hanya mengandalkan pengamatan visual di lapangan, tetapi juga memanfaatkan kecerdasan buatan dan data satelit.
Kepala LRI Teknologi Maju IPB University, Anas Miftah Fauzi mengatakan, pemanfaatan AI dan citra satelit diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi pengelolaan tanaman yang lebih akurat.
"Melalui kolaborasi ini, kami ingin mengembangkan metode deteksi kekurangan nutrisi yang tidak hanya berbasis pengamatan lapangan, tetapi juga memanfaatkan kecerdasan buatan dan data satelit untuk menghasilkan rekomendasi yang lebih presisi, bahkan bisa untuk menentukan jenis penyakit tanaman tersebut," jelas Anas.


Rekomendasi pemupukan tanaman sawit
Pengembangan sistem identifikasi tersebut juga melengkapi Precipalm, teknologi yang sebelumnya dikembangkan IPB University untuk memberikan rekomendasi pemupukan tanaman kelapa sawit melalui analisis citra daun.
Dabeeo merupakan perusahaan yang mengomersialkan pemanfaatan citra satelit beresolusi 30 sentimeter untuk aplikasi agroforestri. Saat ini, perusahaan tersebut mengoperasikan dua jenis satelit untuk pemantauan perkebunan dan tujuh jenis satelit lainnya untuk mendukung berbagai kebutuhan industri.
Selain memungkinkan identifikasi tingkat kepadatan pohon dan tutupan tajuk (canopy), teknologi yang dimiliki Dabeeo juga dilengkapi fitur change detection yang memungkinkan analisis perubahan kondisi vegetasi berdasarkan data historis.
Dalam kesempatan tersebut, para peneliti IPB University, yakni Kudang Boro Seminar, Wayan Budiastra, Yandra Arkeman, dan Yudi Setiawan, turut memaparkan hasil penelitian yang telah dikembangkan bersama sejumlah mitra untuk mendorong inovasi berbasis teknologi di sektor pertanian dan perkebunan.
Kerja sama antara Dabeeo dan IPB University diharapkan dapat menghasilkan sistem pemantauan kesehatan tanaman yang lebih cepat dan akurat sehingga rekomendasi pengelolaan dapat diberikan lebih dini pada areal perkebunan berskala luas.