Selat Hormuz jadi perairan penting dalam rute perdagangan minyak. Foto: Anadolu
Iran Klaim Kendali Penuh Selat Hormuz di Tengah Ancaman Serangan AS
Muhammad Reyhansyah • 29 January 2026 09:56
Teheran: Iran menyatakan memiliki “kendali penuh” atas wilayah darat, bawah laut, dan udara di Selat Hormuz, di tengah kekhawatiran akan kemungkinan serangan Amerika Serikat (AS) terhadap Teheran.
“Iran tidak mencari perang, tetapi sepenuhnya siap,” kata Mohammad Akbarzadeh, seorang komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), dalam pernyataan yang dikutip Fars News Agency, Kamis, 29 Januari 2026.
Ia menegaskan bahwa jika perang benar-benar pecah, Iran tidak akan mundur sedikit pun. “Jika perang meletus, tidak akan ada penarikan, bahkan satu milimeter pun, dan Iran akan terus maju,” ujar Akbarzadeh.
Akbarzadeh menyebut pengelolaan jalur strategis tersebut kini telah melampaui metode konvensional dan sepenuhnya berbasis sistem cerdas, sehingga memungkinkan Iran memantau secara terus-menerus seluruh pergerakan laut, permukaan, dan bawah laut.
Ia menambahkan bahwa Teheran tidak menginginkan terganggunya perekonomian global, namun memperingatkan bahwa Amerika Serikat dan sekutunya “tidak akan dibiarkan mengambil keuntungan dari perang yang mereka mulai.”
Akbarzadeh juga memperingatkan bahwa jika wilayah darat, udara, atau perairan negara-negara tetangga digunakan untuk melawan Iran, maka negara-negara tersebut akan diperlakukan sebagai pihak yang “bersikap bermusuhan.”
“Pesan ini sudah kami sampaikan kepada pihak-pihak regional,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa Teheran memiliki kemampuan tambahan “yang akan diungkap pada waktu yang tepat.”
Selat Hormuz
Selat Hormuz, jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman, merupakan rute vital bagi perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.Jalur ini menjadi penghubung utama ekspor energi dari Timur Tengah dan menampung sekitar sepertiga pengiriman minyak mentah dunia melalui laut serta sekitar seperlima dari total konsumsi minyak global.
Sebagian besar dari sekitar 20 juta barel minyak dan produk minyak bumi yang diangkut setiap hari melalui Selat Hormuz dikirim ke pasar Asia, terutama Tiongkok. Sebagian besar ekspor minyak Iran ke Tiongkok juga melalui jalur perairan ini.
Sekitar 85 persen minyak Irak diangkut melalui Selat Hormuz. Arab Saudi menyumbang sekitar 35 persen dari total minyak yang melewati jalur tersebut, disusul Uni Emirat Arab sekitar 20 persen, dan Irak sekitar 27 persen. Selain itu, sekitar 20 persen perdagangan LNG dunia juga melintasi Selat Hormuz.
Ketegangan antara Teheran dan Washington meningkat menyusul gelombang protes anti-pemerintah di Iran. Pemerintahan AS menyatakan seluruh opsi, termasuk tindakan militer, tetap terbuka dalam menghadapi Iran.
Pejabat Iran sebelumnya telah memperingatkan bahwa setiap serangan Amerika Serikat akan dibalas dengan respons yang “cepat dan menyeluruh.”