Ahli Kebencanaan Institut Teknologi Sumatera (Itera) Ikah Ning Prasetiowati Permanasari memberi keterangan terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau. ANTARA/Ruth Intan Sozometa Kanafi.
Ahli Ingatkan Aktivitas Magma Anak Krakatau Masih Berlangsung
Whisnu Mardiansyah • 11 September 2026 13:16
Bandar Lampung: Aktivitas magma Gunung Anak Krakatau (GAK) masih berlangsung meski aktivitas kegempaan gunung api tersebut dilaporkan menurun. Kondisi itu membuat potensi perubahan aktivitas tetap perlu dipantau.
Ahli Kebencanaan Institut Teknologi Sumatera (Itera), Ikah Ning Prasetiowati Permanasari, mengatakan penilaian kondisi Gunung Anak Krakatau harus mengacu pada data pemantauan.
"Sebetulnya kalau bicara hal ini kita harus bicara data. Data dari PVMBG menyebutkan aktivitas seismiknya sebetulnya sudah menurun, dan data stasiun tiltmeter itu masih ada data yang tinggi terkait magma," ujar Ikah Ning Prasetiowati Permanasari di Bandarlampung, seperti dilansir Antara, Jumat, 11 September 2026.
Menurut Ikah, aktivitas magma yang masih terdeteksi dapat memengaruhi kondisi Gunung Anak Krakatau. Karena itu, penurunan aktivitas seismik belum dapat menjadi satu-satunya indikator untuk menyimpulkan kondisi gunung api tersebut sepenuhnya stabil.
"Jadi, walaupun aktivitas seismiknya sudah menurun, masih ada aktivitas di bawah sana. Sehingga, kita masih harus menunggu, dan mudah-mudahan tidak ada lonjakan aktivitas lagi," katanya.
Ikah menjelaskan aktivitas magma yang masih berlangsung membuka kemungkinan terjadinya erupsi serupa dengan peristiwa pada Jumat, 4 September 2026. Namun, ia menyebut interval erupsi Gunung Anak Krakatau saat ini semakin panjang sehingga intensitas aktivitasnya menunjukkan penurunan.
"Kalau dilihat dari intervalnya sudah jauh, jauh sekali, tapi Gunung Anak Krakatau dengan adanya aktivitas erupsi seperti ini bagus untuk mengeluarkan energi. Sehingga, tidak terakumulasi di dalam, harapannya energi ini bisa keluar sedikit-sedikit," ucap dia.
Ia menilai erupsi menjadi salah satu mekanisme gunung api untuk melepaskan energi yang berada di dalam tubuh gunung. Meski demikian, perkembangan aktivitas tetap harus dipantau melalui data pemantauan resmi.
Selain aktivitas magma, Ikah menyampaikan kualitas udara di sekitar Gunung Anak Krakatau berdasarkan pengukuran terakhir telah mengalami perbaikan. Ia mengatakan sejumlah parameter, termasuk sulfur dioksida (SO2), telah menurun. Saat ini, partikel debu masih menjadi perhatian.
.jpg)
Operasi SAR hari ketiga di perairan Selat Sunda diperluas hingga 2.483 NM² dengan melibatkan lebih dari 280 personel gabungan. (Dok. IST)
"SO2 sudah turun dan parameter lain sudah turun dari baku mutunya hanya sisa debu. Oleh karena itu, penggunaan masker tetap harus dilakukan, karena kita tidak tahu debu ini bercampur dengan abu vulkanik atau tidak," ujarnya.
Ikah mengingatkan penggunaan masker tetap diperlukan untuk mengurangi risiko paparan debu, terutama karena belum dapat dipastikan apakah debu yang tersisa bercampur dengan abu vulkanik.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau dan kondisi kualitas udara di sekitarnya masih perlu dipantau secara berkala dengan mengacu pada informasi resmi dari lembaga pemantauan gunung api dan kebencanaan.