Benarkah Erupsi Gunung Anak Krakatau Picu Tsunami? Simak Penjelasannya

Ilustrasi Gunung Anak Krakatau. Dok Antara.

Benarkah Erupsi Gunung Anak Krakatau Picu Tsunami? Simak Penjelasannya

Arga Sumantri • 6 September 2026 12:20

Jakarta: Gunung Anak Krakatau kembali erupsi dengan mengeluarkan lava pijar dan abu vulkanik hingga suara dentuman. Berdasarkan laporan situs magma.esdm.go.id, erupsi mulai terjadi sejak Jumat malam, 4 September 2026.

Salah satu kekhawatiran masyarakat, khususnya di wilayah pesisir ialah potensi terjadinya tsunami. Warga khawatir peristiwa erupsi pada 2018 yang memicu tsunami di Selat Sunda kembali terulang.

Lantas, benarkah erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi kali ini berpotensi picu tsunami. Simak penjelasannya.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria. Dok Metro TV.

Belum Picu Tsunami

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria mengungkapkan tidak setiap erupsi Gunung Anak Krakatau akan memicu tsunami. Adapun tsunami Selat Sunda yang terjadi pada 22 Desember 2018 akibat runtuhan sebagian tubuh gunung ke laut dalam volume besar, dan bukan akibat erupsi.

"Morfologi Gunung Anak Rakatau saat ini berbeda dibandingkan sebelum peristiwa 2018. Sebagian besar tubuh gunung pada sisi tertentu telah runtuh pada 2018. Kemudian juga mengalami pertumbuhan dan perubahan morfologi kembali akibat aktivitas erupsi berikutnya," ujar Lana Saria dalam konferensi pers secara daring, Minggu, 6 September 2026. Berdasarkan pemetaan morfologi terbaru, bentuk dasar tubuh gunung dan kawah Gunung Anak Krakatau saat ini relatif tidak menunjukkan perubahan signifikan dibandingkan pemetaan sebelumnya. Berdasarkan hasil evaluasi hingga saat ini, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pascaerupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil.

"Dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami. Meskipun demikian, perkembangan aktivitas dan perubahan morfologi tetap dipantau secara intensif," ungkap Lana Saria.

Gunung Anak Krakatau sebelumnya menjadi perhatian besar setelah sebagian tubuhnya runtuh pada 22 Desember 2018. Peristiwa tersebut memicu tsunami di kawasan Selat Sunda

Aktivitas erupsi kembali terjadi pada 2 Juli 2026, 31 Agustus, 4 September. Sejak saat itu, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menaikkan status aktivitas Gunung Anak Krakatau menjadi Level III atau Siaga. Status ini masih berlaku pascaerupsi terbaru.

Sejarah Terbentuknya Gunung Anak Krakatau

Gunung Anak Krakatau memiliki sejarah yang tidak dapat dipisahkan dari Gunung Krakatau. Sebelum Anak Krakatau muncul, kawasan tersebut dikenal sebagai lokasi Gunung Krakatau yang mengalami letusan dahsyat pada 1883.

Letusan Krakatau 1883 menjadi salah satu letusan gunung api terbesar yang pernah tercatat. Peristiwa tersebut juga memicu tsunami besar di kawasan Selat Sunda.

Setelah letusan tersebut, aktivitas vulkanik tetap berlangsung di kawasan bekas Krakatau. Gunung Anak Krakatau kemudian tumbuh dari aktivitas vulkanik tersebut dan terus mengalami pertumbuhan hingga menjadi salah satu gunung api yang cukup aktif di Indonesia.

(Arga Sumantri)