Dampingi Trump, Rubio Sebut Tiongkok Hubungan Paling Penting bagi AS

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio. Foto: Anadolu

Dampingi Trump, Rubio Sebut Tiongkok Hubungan Paling Penting bagi AS

Dimas Chairullah • 14 May 2026 11:34

Beijing: Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio melontarkan pandangannya terkait hubungan Washington dan Beijing menjelang pertemuan puncak yang sangat krusial.

Saat mendampingi Presiden AS Donald Trump dalam penerbangan menuju Beijing, Rubio secara terbuka menggambarkan Tiongkok sebagai tantangan geopolitik utama Amerika, sekaligus hubungan paling penting yang mutlak harus dikelola dengan hati-hati.

Dalam sebuah wawancara dengan Fox News awal pekan ini dan ditayangkan pada hari Rabu, Rubio memaparkan kompleksitas hubungan kedua negara.

 "Ini adalah tantangan politik utama kita secara geopolitik, dan juga hubungan terpenting yang harus kita kelola," ungkap Rubio, sebagaimana dikutip dari laporan kantor berita Anadolu, Kamis, 14 Mei 2026.

Ia menyadari betul bahwa Tiongkok akan terus berkembang menjadi negara yang sangat besar dan tangguh, sehingga benturan kepentingan dengan AS menjadi suatu hal yang tak terhindarkan.

Guna menghindari pecahnya perang dan demi menjaga perdamaian serta stabilitas dunia, Rubio menekankan bahwa perbedaan kepentingan tersebut harus dikelola secara bijak. Kendati demikian, ia tidak menutup mata terhadap potensi kolaborasi.

"Mungkin ada beberapa area kerja sama juga, dan kami ingin memastikan bahwa kami tidak mengabaikan hal-hal tersebut," tambah Rubio.

Menariknya, pernyataan ini disampaikannya dari atas pesawat Air Force One, di mana Rubio ikut dalam rombongan diplomasi AS meskipun dirinya secara resmi masih berada di bawah sanksi pemerintah Tiongkok.

Kunjungan kenegaraan selama empat hari ini akan memuncak pada pertemuan bilateral antara Presiden Trump dan Presiden Xi Jinping yang dijadwalkan berlangsung pada hari Kamis dan Jumat. Rencana lawatan ini sejatinya diagendakan pada bulan April lalu, namun terpaksa ditunda akibat memanasnya eskalasi perang yang melibatkan AS, Israel, dan Iran.

Terkait ketegangan dengan Teheran dan imbas penutupan Selat Hormuz, Rubio sangat berharap Tiongkok dapat memainkan peran yang lebih aktif. Ia mendesak Beijing untuk membujuk Iran agar segera menghentikan manuver pembatasan maritim mereka di Teluk Persia. Menurutnya, meredakan krisis di Selat Hormuz sejatinya sangat sejalan dengan kepentingan nasional Tiongkok untuk memastikan rantai pasok global tetap aman.

Rubio membeberkan tiga alasan utama mengapa krisis Hormuz sangat merugikan Beijing. Pertama, kapal-kapal milik Tiongkok dilaporkan sudah mulai menjadi sasaran di kawasan Teluk, menyusul serangan yang menghantam sebuah kapal kargo Tiongkok pada akhir pekan lalu.

Kedua, dibandingkan kawasan lain, Asia merupakan wilayah yang paling rentan terdampak akibat ketergantungan impor energinya yang sangat besar melalui selat tersebut. 

Terakhir, pelemahan ekonomi global akibat krisis ini dipastikan akan memukul keras perekonomian Tiongkok yang ditopang oleh sektor ekspor, seiring dengan menurunnya permintaan barang-barang Tiongkok di pasar internasional.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)