Selat Hormuz vs Selat Malaka, Mana Lebih Strategis?

Ilustrasi kapal tanker di Selat Malaka. (EPA via Strait Times)

Selat Hormuz vs Selat Malaka, Mana Lebih Strategis?

Riza Aslam Khaeron • 23 April 2026 18:43

Jakarta: Dunia kini tengah berada dalam ketidakpastian terkait keberlanjutan gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Ketegangan ini dipicu oleh konflik yang dimulai oleh Washington dan Israel pada 28 Februari 2026.

Negosiasi yang digelar dua pekan lalu di Islamabad tersebut belum membuahkan hasil signifikan. Salah satu poin krusial yang diperdebatkan adalah hak Teheran atas Selat Hormuz.

Jalur tersebut telah diblokade sejak minggu pertama perang, yang memicu krisis energi global. Kini, muncul wacana dari pihak Iran untuk memungut biaya bagi kapal-kapal yang melintasi jalur air strategis tersebut.

Namun, belakangan ini perhatian media dan warganet mulai beralih pada titik sumbat perdagangan penting lainnya: Selat Malaka.

Sebelum gencatan senjata diberlakukan, beberapa negara sempat bernegosiasi dengan Iran agar kapal dagang mereka diizinkan melintas. Namun, tidak semua negara bersedia bernegosiasi, salah satunya adalah Singapura.

Pada 7 April, Menteri Luar Negeri Singapura, Vivian Balakrishnan, menegaskan bahwa transit melalui jalur perairan tersebut adalah sebuah hak, bukan hak istimewa. Hak ini pun telah diatur dalam Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS).

“Anda mungkin bertanya-tanya mengapa saya menggunakan definisi hukum yang begitu ketat. Ini bukan karena saya terobsesi dengan hukum, tetapi karena Selat Malaka dan Selat Singapura sebenarnya adalah titik sumbat kritis lainnya,” ujarnya, melansir CNA.

Ia menekankan bahwa volume minyak maritim, baik minyak mentah maupun hasil olahan, yang mengalir melalui Selat Malaka dan Singapura bahkan lebih besar dibandingkan dengan yang melalui Selat Hormuz.

Kondisi ini menyiratkan bahwa jika negara-negara yang berbatasan dengan Selat Malaka, yakni Indonesia, Malaysia, dan Singapura, menerapkan kebijakan pajak serupa dengan Teheran, maka negara-negara tersebut akan memiliki posisi tawar yang sangat kuat.

Namun, benarkah klaim yang disampaikan Balakrishnan tersebut terkait Selat Malaka, dan seberapa vital sebenarnya peran Selat Malaka bagi dunia? Berikut ini penjelasannya.

Seberapa Penting Selat Malaka?


Lokasi Selat Malaka. (Wikimedia Commons)

Mengutip Britannica, Selat Malaka merupakan jalur perairan yang menghubungkan Laut Andaman (Samudra Hindia) dengan Laut Tiongkok Selatan (Samudra Pasifik). Jalur ini membentang di antara Pulau Sumatra di sebelah barat serta Semenanjung Malaysia dan Thailand selatan di sebelah timur, dengan luas sekitar 65.000 kilometer persegi.

Jalur air ini kerap dijuluki sebagai rute perdagangan maritim tersibuk di dunia. Berdasarkan laporan Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) tahun 2024, Selat Malaka menampung 24 persen dari total perdagangan laut global. Angka ini mencakup 45% pengangkutan minyak mentah dunia dan 26 persen logistik kendaraan bermotor.

Khusus di sektor energi, data dari Administrasi Informasi Energi AS (EIA) mencatatkan angka yang fantastis. Pada paruh pertama tahun 2025, diperkirakan sebanyak 23,2 juta barel minyak per hari melintasi selat ini. Jumlah tersebut setara dengan 29 persen dari total aliran minyak maritim global pada periode tersebut.

Sedangkan Selat Hormuz mencatatkan angka sekitar 20,9 juta barel per hari pada periode yang sama, mengkonfirmasi pernyataan Menlu Singapura sebelumnya.
 

Nilai Strategis dari Selat Hormuz


Lokasi Selat Hormuz. (Istimewa)

Meskipun benar bahwa volume minyak yang melintasi Selat Malaka lebih besar daripada Selat Hormuz, jumlah muatan bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan nilai strategis suatu jalur perdagangan.

Hal yang membuat Selat Hormuz begitu krusial adalah posisinya sebagai satu-satunya akses keluar melalui laut bagi komoditas bahan bakar dari negara-negara pengekspor utama, berbeda seperti selat Malaka yang memilki jalur alternatif seperti selat Lombok dan selat Sunda.

Anggota OPEC seperti Arab Saudi, Iran, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak mengekspor sebagian besar minyak mentah mereka melalui jalur perairan ini.
 
Baca Juga:
Menlu Sugiono Tegaskan Indonesia Tak Akan Pungut Biaya Kapal di Selat Malaka

Melansir Reuters, sekitar seperlima dari pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia biasanya melewati selat ini.

Qatar, yang merupakan salah satu pengekspor LNG terbesar di dunia, mengirimkan hampir seluruh komoditasnya melalui Selat Hormuz. Selain itu, firma analisis Kpler memperkirakan sekitar 33 persen kebutuhan pupuk dunia, termasuk sulfur dan amonia, juga bergantung pada jalur tersebut.
 

Selat Malaka Lebih Penting untuk Asia-Pasifik


Ilustrasi jalur perdagangan minyak Iran ke Tiongkok RFE/RL via irannewswire.org)

Namun, Selat Malaka memiliki nilai tersendiri karena jalur ini jauh lebih krusial bagi negara-negara Asia-Pasifik dibandingkan Selat Hormuz.

Selat Malaka merupakan gerbang utama bagi Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan untuk menerima impor energi mereka. Tiongkok sendiri adalah konsumen energi terbesar di dunia, yang menyumbang 25 persen dari konsumsi energi global dan 15% dari seluruh penggunaan minyak dunia.

Tiongkok juga merupakan klien minyak terbesar bagi Iran. Berdasarkan laporan Reuters pada 21 Maret 2026, data dari firma analisis Kpler untuk tahun 2025 menunjukkan bahwa Tiongkok membeli lebih dari 80 persen minyak yang dikirimkan oleh Iran. Tahun lalu, Tiongkok rata-rata membeli 1,38 juta barel minyak Iran per hari.

Sekitar 80 persen kebutuhan minyak Tiongkok dipenuhi melalui impor, dan hampir 80 persen dari impor minyak Tiongkok tersebut harus melewati Selat Malaka. Ketergantungan inilah yang oleh Beijing disebut sebagai Malacca Dilemma.

Oleh karena itu, segala bentuk hambatan di selat ini tidak hanya akan mengganggu pendapatan Iran, tetapi juga mengancam keberlangsungan energi dan ekonomi Tiongkok.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Arga Sumantri)