Trump Pertimbangkan Rebut Pulau Kharg Imbas Penutupan Selat Hormuz

Ladang minyak di pulau Kharg. (Mehr)

Trump Pertimbangkan Rebut Pulau Kharg Imbas Penutupan Selat Hormuz

Riza Aslam Khaeron • 17 March 2026 10:53

Washington D.C: Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, dikabarkan tengah mempertimbangkan opsi untuk merebut depot minyak kritis milik Iran di Pulau Kharg apabila kapal-kapal tanker tetap terhambat di Teluk Persia. Langkah ini dinilai akan menjadi eskalasi besar karena memerlukan pengerahan pasukan darat AS ke wilayah kedaulatan Iran.

Melansir laporan Axios pada Senin, 16 Maret 2026, Trump juga sedang berupaya membentuk koalisi internasional untuk membuka kembali Selat Hormuz secara paksa. Koalisi bertajuk “koalisi Hormuz” tersebut rencananya akan diumumkan pada akhir pekan ini.

Setidaknya empat sumber internal mengonfirmasi rencana pembentukan aliansi strategis ini kepada Axios.

Harga minyak dan gas dunia terus melonjak akibat blokade berkepanjangan yang dilakukan Iran di jalur sempit Teluk Persia tersebut. Kondisi ini telah memangkas pasokan minyak mentah global secara signifikan.

Laporan menyebutkan bahwa Iran secara selektif memblokir ekspor minyak dari negara-negara Teluk lainnya. Namun, tetap mengizinkan kapal tanker pengangkut minyak Iran lewat dengan bebas menuju Tiongkok dan negara-negara mitra lainnya.

Seorang sumber yang mengetahui situasi tersebut mengatakan kepada Axios, "Selama blokade berlangsung dan minyak Teluk tetap terbatas, Trump tidak dapat mengakhiri perang bahkan jika ia menginginkannya."

Melalui unggahan di Truth Social pada Sabtu, 14 Maret 2026, Trump menyatakan bahwa AS bersama beberapa negara mitra akan mengirimkan kapal perang ke Teluk untuk memulihkan jalur pengiriman komersial. Ia secara eksplisit meminta dukungan dari Tiongkok, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris.

Pada Minggu, 15 Maret 2026, saat berbicara kepada wartawan di Air Force One, Trump kembali menegaskan bahwa ia 'menuntut' anggota NATO serta negara-negara pengimpor minyak lainnya, termasuk Tiongkok, untuk membantu AS mengamankan selat tersebut.

"Kami sedang berbicara dengan negara-negara lain tentang penjagaan selat. Akan menyenangkan jika ada negara lain yang ikut menjaga bersama kami. Kami akan membantu. Kami mendapat respons yang baik," ujar Trump.
 

Baca Juga:
Pulau Kharg Iran Diserang AS, Apa Dampaknya Bagi Harga Minyak?

Seorang pejabat senior administrasi mengungkapkan bahwa Trump memprediksi beberapa negara akan segera mengumumkan dukungan resmi mereka pekan ini.

"Sebagian besar minyak ini bukan minyak kami—minyak itu pergi ke negara lain. Jadi jika mereka menginginkannya dan mereka ingin harganya turun, mereka perlu membantu," tambah pejabat tersebut.

Hingga saat ini, militer AS terus membombardir berbagai target di Iran, dengan fokus utama pada wilayah pesisir Teluk Persia dan Pulau Kharg—sebuah terminal strategis yang terletak 15 mil dari lepas pantai Iran dan menangani sekitar 90% ekspor minyak mentah negara itu.

Pekan lalu, Trump mengumumkan perintah serangan terhadap instalasi militer di pulau tersebut, namun fasilitas minyak sengaja tidak disentuh. Kepada NBC, ia sempat berseloroh bahwa AS "mungkin akan menghantamnya beberapa kali lagi hanya untuk bersenang-senang."

Meski demikian, seorang pejabat Gedung Putih menekankan bahwa presiden belum membuat keputusan final terkait pengambilalihan Pulau Kharg secara fisik. Namun, posisi tersebut dapat berubah sewaktu-waktu jika pembersihan selat terus berlarut-larut.


Citra satelit pulau Kharg oleh NASA. (NASA via Iran Chamber)

"Presiden tidak akan tinggal diam dan membiarkan Iran menentukan kecepatan konflik," tegasnya.

Pejabat AS lainnya mengungkapkan bahwa Trump tertarik pada ide merebut Pulau Kharg secara langsung karena akan menjadi "pukulan ekonomi yang melumpuhkan rezim" dengan memutus sumber pendanaan utama Teheran.

Kendati demikian, langkah ini membawa risiko besar, termasuk potensi serangan balasan Iran terhadap fasilitas minyak di negara-negara Teluk tetangga, khususnya Arab Saudi.

Senator Lindsey Graham, yang dikenal berhaluan keras terhadap Iran, mendukung penuh wacana tersebut.

"Keputusan untuk membawa perang ke Pulau Kharg akan membuat ekonomi Iran dimusnahkan. Jarang dalam peperangan musuh memberikan satu target seperti Pulau Kharg yang secara dramatis dapat mengubah hasil konflik. Dia yang mengendalikan Pulau Kharg, mengendalikan takdir perang ini," tulis Graham melalui akun resminya di X.

Serangan langsung terhadap terminal ekspor di Pulau Kharg diprediksi akan menghentikan mayoritas aliran minyak Iran. Berdasarkan analisis Reuters terhadap data Kpler, Iran telah mengekspor rata-rata 1,7 juta barel per hari (bpd) minyak mentah sepanjang tahun ini, di mana 1,55 juta bpd di antaranya dikirim melalui Pulau Kharg. 

Sejauh ini, Tiongkok tercatat sebagai importir utama minyak dari Iran. Sementara itu, CNN melaporkan pekan lalu bahwa Teheran tengah mempertimbangkan untuk mengizinkan beberapa kapal tanker melewati selat tersebut, dengan syarat transaksi kargo minyak dilakukan menggunakan mata uang Yuan.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Arga Sumantri)