Estimasi 4.300 Orang Termasuk 3.910 Pasukan Militer Tewas dalam Perang Iran

Serangan di depot minyak Teheran, Iran, 6 Maret 2026. (X/Vahid Online)

Estimasi 4.300 Orang Termasuk 3.910 Pasukan Militer Tewas dalam Perang Iran

Riza Aslam Khaeron • 11 March 2026 16:13

Oslo: Setidaknya 4.300 orang tewas selama sepuluh hari pertama perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Republik Islam Iran. Data tersebut dirilis oleh sebuah LSM hak asasi manusia Kurdi-Iran yang berbasis di Norwegia pada Selasa, 10 Maret 2026.

Berdasarkan laporan Hengaw Organization for Human Rights pada 10 Maret 2026, total korban jiwa tersebut mencakup 390 warga sipil (sekitar 9,6 persen dari total korban), sedangkan 3.910 lainnya merupakan anggota pasukan militer pemerintah Iran.

Data dihimpun sejak awal konflik pada Sabtu, 28 Februari 2026, hingga Senin, 9 Maret 2026, yang menandai hari kesepuluh perang.

Data Pusat Statistik dan Dokumentasi Hengaw menunjukkan bahwa fasilitas militer dan pemerintah di 167 kota yang tersebar di 24 provinsi Iran menjadi target serangan udara dan rudal.

Sasaran utama meliputi pangkalan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), pusat-pusat Basij, bandara militer, fasilitas rudal, kantor polisi, lembaga peradilan, kantor intelijen, garnisun tentara, serta markas pasukan khusus.

Hasil investigasi mengungkapkan bahwa sekitar dari jumlah personel militer Iran yang tewas, mayoritas di antaranya berafiliasi dengan IRGC, angkatan darat, dan unit angkatan udara. Angka kematian militer tertinggi tercatat di provinsi Tehran, Kermanshah, Hormozgan, Kurdistan, serta Sistan dan Baluchestan.


Puing dari sekolah keputrian di Iran yang diserang Israel dan AS. Foto: Anadolu

Sementara itu, angka kematian warga sipil tertinggi berada di Provinsi Hormozgan. Berdasarkan dokumentasi yang tersedia, sebagian besar korban tewas adalah siswi sekolah dasar di SD Shajareh Tayyebeh.
 

Baca Juga:
Korban Perang di Timur Tengah Terus Bertambah: 1.270 Tewas di Iran, 486 di Lebanon

Selain Hormozgan, korban sipil—termasuk perempuan dan anak-anak—juga teridentifikasi di provinsi Tehran, Kurdistan, Kermanshah, Fars, Razavi Khorasan, Qazvin, Alborz, Azerbaijan Barat (Urmia), dan Azerbaijan Timur.

Laporan Hengaw juga mengindikasikan bahwa pasukan militer Iran telah mengosongkan sejumlah fasilitas militer resmi dan justru memposisikan diri di sekolah, asrama, serta masjid di kawasan pemukiman. Praktik ini dinilai secara signifikan meningkatkan risiko jatuhnya korban dari kalangan warga sipil.

Sebagai bentuk penolakan, warga di lingkungan Mosk 2, Marivan, dilaporkan berkumpul dan berdemonstrasi untuk mencegah pasukan militer pemerintah mendirikan barak atau posisi tempur di dalam gedung olahraga setempat.

Sepanjang sepuluh hari pertama, jet tempur Israel dan AS melancarkan serangan masif terhadap target-target strategis.

Di 32 kota yang mencakup provinsi Ilam, Kermanshah, Kurdistan, dan Azerbaijan Barat (Urmia), setidaknya 180 pangkalan militer dan pusat keamanan Republik Islam Iran menjadi sasaran. Investigasi menunjukkan bahwa sedikitnya 900 personel militer dan keamanan pemerintah tewas di empat provinsi tersebut.

Di saat yang sama, setidaknya 50 warga sipil tewas dalam rangkaian serangan ini, dengan konsentrasi korban tertinggi berada di kota Urmia, Sanandaj, Divandarreh, Naqadeh, Bukan, dan Kermanshah.

Hengaw menegaskan bahwa lembaga keamanan Iran cenderung menahan informasi dan tidak merilis angka akurat mengenai korban militer, terutama di wilayah Kurdi. Dalam beberapa kasus di mana angka kematian diumumkan secara resmi, jumlah yang dilaporkan diketahui jauh lebih rendah dibandingkan fakta di lapangan.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Muhamad Marup)