Proses persiapan Arisan Telur desa dampingan program PASTI di Kabupaten Ngawi. Foto istimewa
Arisan Telur di Ngawi, Inisiatif Kreatif Penanganan Stunting
Muhamad Marup • 16 April 2026 22:51
Ngawi: Kabupaten Ngawi, Jawa Timur punya inisiatif kreatif dalam penanganan stunting atau gizi buruk. Di salah satu desa dampingan Program Partner Akselerasi Penurunan Stunting di Indonesia (PASTI), tiap Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) menggelar Arisan Telur bagi para anggota atau kader Posyandu.
Dwi, Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) di desa tersebut, menuturkan, insiatif tersebut dimulai sejak tahun 2025. Ketika ada arahan dari dinas kesehatan untuk konsumsi minimal satu protein hewani dalam rangka pencegahan stunting, ide Arisan Telur tersebut muncul.
Baca Juga :
Dokter Sebut Kurang Zat Besi Memungkinkan Anak Kena Stunting
"Nah yang mudah di sini itu telur. Mudah murah, gitu. Jadi kita inisiatif untuk gimana kalau di Posyandu diadakan Arisan Telur," ujar Dwi, kepada Metrotvnews.com, Kamis, 16 April 2026.Arisan Telur di Posyandu desa tersebut digelar minimal 1 bulan sekali tergantung kegiatan di Posyandu. Arisan Telur ibarat acara puncak tiap posyandu menggelar acara.
Jumlah telur yang terkumpul bisa 4-5 kilogram. Untuk bisa mengikuti arisan, tiap peserta memberikan 1 butir atau lebih.
Meski Arisan Telur digelar tiap sebulan sekali, Ia tetap mengimbau anggota posyandu untuk mengonsumsi telur. Telur sangat bermanfaat, terutama untuk anak kecil.
Ia menambahkan, terus menekankan pentingnya konsumsi telur. Di desa tersebut warga masih menganggap konsumsi telur dapat menyebabkan penyakit seperti bisul.
"Itu kita terangkan kepada anggota posyandu kalau konsumsi telur itu bermanfaat," terangnya.
Penerima manfaat pertemuan KIE PASTI, Anjar merasa terbantu dengan adanya arisan telur tersebut. Ia pernah menerima 1 kilo telur.
"Baru dapat pertama dan itu berisi hampir satu kilo lebih untuk telurnya," terangnya.

Proses pembagian Arisan Telur desa dampingan program PASTI di Kabupaten Ngawi. Foto istimewa
Edukasi Asyik dan Menarik
Eli, kader Kader Pembangunan Manusia di desa tersebut mengatakan, selain menggelar Arisan Telur, terdapat tiga program penanganan stunting lainnya. Program tersebut yaitu Pos Gizi Dahsat, Kelas Edukasi, dan Penerapan Pesan PD.Ia mengatakan, salah satu tantangan awal dalam penanganan stunting di desa tersebut adalah mengajak ibu-ibu dengan anak stunting untuk ikut dalam kegiatan edukasi. Beruntung, para perangkat desa seperti kepala desa memiliki komitmen tinggi dalam penanganan stunting.
"Desa mendukung. Selain penganggaran, mereka juga mendampingi untuk jemput bola," ucapnya.
Berkat kehadiran para perangkat desa, warga mulai berdatangan ke program-program edukasi. Untuk menjaga semangat mereka, tim Posyandu melakukan beragam aktivitas menarik seperti senam, gim, bahkan berenang.
Kegiatan tersebut selain untuk menarik minat juga membuat anak-anak mau bergerak. Dengan demikian, mereka akan lahap menyantap makanan dari program Pos Gizi.
"Pokoknya kami membuat mereka tertarik dengan program kami. Jadi program penanganan stunting ini kami isi dengan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan," tuturnya.
Program PASTI dan Prevalensi Stunting di Ngawi
Prevalensi stunting di Kabupaten Ngawi mengalami tren yang positif. Pada tahun 2022, persentasenya sebesar 28.5% dan turun menjadi 11.4% pada tahun 2024.Tren positif tersebut merupakan kolaborasi semua pihak termasuk program PASTI. Program PASTI adalah program kemitraan antara Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN dengan, Tanoto Foundation, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), dan PT Bank Central Asia Tbk dan diimplementasikan oleh Wahana Visi Indonesia untuk percepatan pencegahan dan penurunan stunting dan perbaikan status gizi di Indonesia hingga Januari 2027.
Dari 19 Kecamatan di Kabupaten Ngawi, 2 di antaranya menjadi kecamatan dampingan Program PASTI. Tahun 2026 merupakan tahun keempat implementasi program di Kabupaten Ngawi.