1.350 Hotspot Terdeteksi di Bengkulu

Kepala DLHK Provinsi Bengkulu Safnizar memaparkan upaya pencegahan karhutla di Bengkulu, Selasa. ANTARA/Boyke Ledy Watra

1.350 Hotspot Terdeteksi di Bengkulu

Whisnu Mardiansyah • 1 September 2026 13:17

Bengkulu: Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Bengkulu mencatat 1.350 titik panas (hotspot) terdeteksi di sejumlah wilayah hingga 27 Agustus 2026. Data tersebut menjadi salah satu acuan pemerintah daerah dalam memperkuat pencegahan dan kesiapsiagaan menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala DLHK Provinsi Bengkulu Safnizar mengatakan sebaran hotspot terpantau di sejumlah kabupaten dengan jumlah yang berbeda.

"Dari Januari hingga 27 Agustus 2026, sebaran hotspot atau titik api ini terdapat di beberapa kabupaten, yang perlu mendapatkan perhatian lebih dalam upaya pencegahan dan kesiapsiagaan karhutla,” kata Safnizar di Bengkulu seperti dilansir Antara, Selasa, 1 September 2026.

Menurut Safnizar, informasi mengenai titik panas digunakan sebagai salah satu dasar dalam menentukan langkah pemantauan dan pencegahan karhutla. Data tersebut turut menjadi pertimbangan pemerintah dalam menyiapkan personel serta sarana dan prasarana untuk mempercepat respons ketika kebakaran terjadi.

Dari total 1.350 hotspot, Kabupaten Kaur menjadi wilayah dengan jumlah tertinggi, yakni 366 titik. Sebaran tersebut menunjukkan titik panas tidak terkonsentrasi secara merata di seluruh wilayah Bengkulu.
 


Selain memantau titik panas, DLHK juga membandingkan data tersebut dengan indikasi luas kebakaran untuk memperoleh gambaran kondisi karhutla di lapangan.

Berdasarkan data indikasi luas kebakaran hutan dan lahan, total luasan tercatat mencapai 125,15 hektare. Sebaran luasan kebakaran juga berbeda di setiap wilayah.

“Apabila kita sandingkan antara data titik api dengan data luas kebakaran, maka terdapat kebutuhan untuk meningkatkan analisis spasial dan verifikasi di lapangan,” ujarnya.

Verifikasi Lapangan Diperkuat

Safnizar menjelaskan analisis spasial dan verifikasi lapangan diperlukan untuk mendapatkan informasi lebih lengkap mengenai titik panas yang terdeteksi. Langkah tersebut tidak hanya diarahkan untuk mengetahui lokasi, tetapi juga karakteristik wilayah, pola kejadian, kemungkinan penyebab, serta faktor yang memengaruhi kebakaran.

Menurut dia, informasi yang lebih lengkap dapat membantu pemerintah menentukan langkah pencegahan sekaligus menyesuaikan kesiapsiagaan dengan kondisi setiap wilayah.


Pemadaman karhutla oleh tim gabungan di Samarinda, Kaltim. ANTARA/Ahmad Rifandi


"Kita tidak boleh menunggu sampai kebakaran menjadi besar baru kemudian bergerak. Deteksi dini harus menjadi tindakan pertama, pencegahan harus menjadi prioritas, respons cepat harus menjadi budaya kerja dan koordinasi harus menjadi kekuatan kita bersama," kata Safnizar.

DLHK Provinsi Bengkulu selanjutnya akan memperkuat pengawasan dan pencegahan melalui patroli terpadu, sosialisasi, serta edukasi kepada masyarakat dan pihak terkait.

Langkah tersebut dilakukan dengan melibatkan berbagai unsur sesuai tugas, fungsi, dan kewenangan masing-masing untuk memperkuat deteksi dini, pencegahan, serta penanganan karhutla di wilayah Bengkulu.

(Whisnu M)