Jerman Lirik Investasi Energi Terbarukan hingga Industri Semikonduktor Indonesia

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. Foto: Metrotvnews.com/Andika Fauzan Azhari.

Jerman Lirik Investasi Energi Terbarukan hingga Industri Semikonduktor Indonesia

Andika Fauzan Azhari • 20 August 2026 12:34

Jakarta: Pemerintah Indonesia terus memperkuat kerja sama ekonomi dengan Jerman melalui pengembangan investasi energi terbarukan, percepatan transisi energi hijau, penguatan pendidikan vokasi, hingga pengembangan rantai pasok industri semikonduktor.

Hal itu dibahas dalam pertemuan bilateral antara Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan German Federal Minister for Economic Cooperation and Development Reem Alabali Radovan di Graha Sawala, Gedung Ali Wardhana, Jakarta, Kamis, 20 Agustus 2026.

Airlangga mengapresiasi kehadiran delegasi bisnis Jerman yang datang untuk menjajaki berbagai potensi investasi dan proyek strategis di Indonesia.

"Indonesia menyambut delegasi ini untuk mendorong beberapa pipeline proyek di sektor renewable, dan juga tentu bagi Indonesia, rantai pasok terkait dengan semikonduktor juga hal yang penting," ujar Airlangga.

Selain investasi di sektor industri dan energi, Airlangga menekankan pentingnya adopsi keunggulan Jerman di bidang manufaktur presisi serta penguatan pendidikan vokasi. Jerman dinilai memiliki rekam jejak kuat sebagai mitra strategis dengan lebih dari 250 perusahaan yang telah beroperasi di Indonesia dan mencatatkan akumulasi investasi USD1,23 miliar sepanjang 2021 hingga 2026.

Menurut Airlangga, kerja sama teknologi dan investasi tersebut juga diarahkan untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional.

"Di mana proyek yang dikomitmenkan dalam JETP itu sebesar USD21,4 miliar, dan Indonesia telah memanfaatkan USD3,93 miliar atau hampir USD4 miliar," kata Airlangga.

Ia menambahkan, di bawah arahan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia menargetkan transformasi energi hijau yang cukup agresif.

"Di bawah arahan Presiden Prabowo, prioritas kita juga untuk energi hijau, transformasi industri berbasis surya yang kita memiliki target sekitar 100 gigawatt dalam kurun dua hingga tiga tahun. Ini terbuka untuk partisipasi Jerman," tutur Airlangga.


Pertemuan bilateral Indonesia-Jerman di Gedung Kemenko Perekonomian, Jakarta. Foto: Metrotvnews.com/Andika Fauzan.
 

 

Sinergi pembangunan berkelanjutan dan sektor swasta


Sementara itu, Reem Alabali Radovan menyatakan kunjungannya membawa delegasi besar dari sektor bisnis dan parlemen Jerman untuk memperkuat kemitraan strategis dengan Indonesia. Ia menegaskan posisi Indonesia sebagai mitra kunci dalam kerja sama pembangunan.

"Indonesia is an important strategic partner for Germany," ungkap Reem.

Reem menjelaskan perusahaan-perusahaan Jerman berminat pada investasi energi terbarukan, seperti tenaga surya, angin, panas bumi, hidro, hingga rantai pasok baterai dan bahan mentah kritis. Selain itu, pihak Jerman juga melirik sektor peralatan medis, transmisi listrik pintar, serta efisiensi energi industri.

Ia menambahkan, dorongan investasi dari pelaku usaha Jerman tersebut berfokus pada penyelarasan pertumbuhan ekonomi dengan target pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Agenda 2030.

"My main goal is that we together achieve the Sustainable Development Goals," tegas Reem.

Pertemuan bilateral tersebut mempertegas komitmen kedua negara dalam mempercepat penyelesaian perjanjian Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA), sekaligus mengoptimalkan dukungan pembiayaan hijau melalui lembaga keuangan seperti KfW.

Sinergi pemerintah dan sektor swasta tersebut diharapkan dapat memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di Indonesia.

(Ade Hapsari Lestarini)