Ratusan warga Venezuela menyerukan pembebasan Presiden Nicolas Maduro yang ditahan di AS. (Anadolu Agency)
Pascapenangkapan Maduro, Ribuan Pendukung Gelar Aksi Tuntut Pembebasan
Muhammad Reyhansyah • 5 January 2026 13:41
Caracas: Sekitar 2.000 pendukung Presiden Venezuela Nicolas Maduro menggelar demonstrasi di Caracas pada Minggu, 4 Januari 2026 menuntut pembebasan Maduro dan istrinya yang ditangkap oleh pasukan Amerika Serikat (AS) dan dibawa ke penjara di New York.
Para demonstran dikawal kelompok paramiliter pro-Maduro dan komunitas pengendara motor. Mereka mengibarkan bendera nasional Venezuela berwarna merah, biru, dan kuning di sepanjang aksi.
“Bebaskan presiden kami,” demikian bunyi poster yang dibawa seorang pria berbaju flanel merah bergambar mendiang Hugo Chavez, pendahulu sekaligus mentor politik Maduro.
Poster lain bertuliskan, “Venezuela bukan koloni siapa pun,” merujuk pada pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut Washington akan “menjalankan” Venezuela dalam suatu masa transisi yang tidak dijelaskan secara rinci.
Pada Senin, Maduro dijadwalkan menghadiri sidang pengadilan di New York untuk menghadapi dakwaan “narkoterorisme” terkait dugaan penyelundupan kokain ke Amerika Serikat.
Di tengah ketegangan, rumah sakit-rumah sakit di Venezuela menolak mengungkapkan jumlah korban tewas maupun luka akibat serangan yang terjadi menjelang fajar.
Mengutip dari TRT World, Senin, 5 Januari 2026, Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino Lopez mengatakan “sebagian besar” tim pengamanan Maduro tewas “secara kejam,” bersama sejumlah personel militer dan warga sipil, tanpa menyebutkan angka pasti.
Sementara itu, sebuah kelompok dokter mengatakan kepada AFP bahwa sekitar 70 orang tewas dan 90 lainnya terluka.
Dalam aksi di Caracas, para demonstran turut menyuarakan spekulasi bahwa Maduro dikhianati oleh orang dalam lingkaran terdekatnya, sehingga mempermudah pasukan khusus AS menangkapnya di pangkalan militer terbesar Venezuela.
“Bagaimana mungkin… pertahanan udara tidak berfungsi?” ujar seorang akuntan berusia 69 tahun yang memperkenalkan diri sebagai Papa Juancho.
“Nicolas Maduro dijatuhkan oleh para pengkhianat, karena dengan tingkat pengamanan yang ia miliki, ini seharusnya tidak pernah terjadi,” katanya.
Putra Maduro, Nicolas Maduro Guerra, juga mengungkapkan kecurigaan terkait adanya mata-mata di lingkungan ayahnya. Dalam pesan suara yang dibagikan di media sosial pada Minggu, ia mengatakan, “Sejarah akan mengungkap siapa para pengkhianat itu.”
Baca juga: Perayaan dan Protes: Warga Venezuela Terbelah atas Penangkapan Maduro oleh AS