Perayaan dan Protes: Warga Venezuela Terbelah atas Penangkapan Maduro oleh AS

Warga Venezuela terbelah dalam perayaan dan aksi protes pascapenangkapan Presiden Nicolas Maduro oleh AS pada Sabtu, 3 Januari 2026. (Anadolu Agency)

Perayaan dan Protes: Warga Venezuela Terbelah atas Penangkapan Maduro oleh AS

Willy Haryono • 4 January 2026 13:10

Caracas: Warga Venezuela di berbagai negara menyuarakan reaksi yang saling bertolak belakang, yakni antara kecaman dan dukungan, atas operasi militer Amerika Serikat yang menangkap presiden Venezuela, Nicolas Maduro.

Maduro dan istrinya, Cilia Flores, ditangkap di kediaman mereka pada Sabtu dini hari, diterbangkan keluar dari Venezuela, lalu ditempatkan di kapal perang AS yang menuju Negeri Paman Sam untuk menghadapi persidangan pidana di New York.

Presiden AS Donald Trump mengatakan AS akan “mengelola” Venezuela hingga pemerintahan baru terbentuk. Ia juga menyebut AS akan mendapat penggantian biaya dari cadangan minyak Venezuela.

Di Mexico City, para demonstran anti-Maduro merayakan apa yang mereka sebut sebagai berakhirnya “pemerintahan narkoba” di Venezuela. Gloria Sosa, warga Venezuela yang telah tinggal 18 tahun di Meksiko, mengaku merasakan kebahagiaan dan ketenangan.

“Pemerintahan narkoba sudah berakhir. Kami merasa bahagia dan damai,” ujarnya, dikutip dari ABC, Minggu, 4 Januari 2026.

Maduro, yang telah didakwa di AS atas sejumlah tuduhan termasuk konspirasi narkoterorisme, dijadwalkan menjalani sidang perdana di pengadilan federal Manhattan pada Senin, menurut seorang pejabat Departemen Kehakiman AS.

Di Buenos Aires dan Bogota, warga Venezuela turut merayakan penangkapan tersebut. Di Buenos Aires, mereka bersorak dan berpelukan di jalan utama sambil mengibarkan bendera Venezuela.

Sementara di Lima, puluhan warga Venezuela berkumpul, banyak yang menyelimuti diri dengan bendera nasional, untuk menandai lengsernya Maduro.

Milagros Ortega, migran Venezuela di Lima yang orang tuanya masih tinggal di Venezuela, berharap dapat kembali ke tanah air. “Mengetahui ayah saya masih hidup untuk menyaksikan kejatuhan Nicolás Maduro sangat mengharukan. Saya ingin melihat ekspresinya,” katanya.

Namun, tidak semua reaksi bernada perayaan. Sejumlah pendukung Maduro meneriakkan slogan penolakan terhadap apa yang mereka sebut sebagai intervensi Amerika Serikat.

Margarett, warga California yang kini tinggal di Mexico City, menilai Trump berusaha mengalihkan perhatian dari persoalan domestik dengan “membunuh warga tak bersalah”. “Saya malu dengan apa yang dilakukan negara saya. Venezuela bukan musuh kami—Trumplah musuh kami,” ujarnya.

Optimisme Hati-hati dan Ketidakpastian Masa Depan

Trump menyatakan AS akan menjalankan Venezuela sementara hingga transisi berlangsung dengan baik. Langkah menyerang Venezuela, menangkap presidennya, dan menyatakan akan mengelola negara itu untuk sementara, dinilai sebagai penyimpangan tajam dari sikap Trump sebelumnya yang kerap mengkritik keterlibatan berlebihan dalam urusan luar negeri.

Pakar hukum internasional Mary Ellen O’Connell dari University of Notre Dame mengatakan rencana Trump bermasalah karena hukum internasional tidak mendukung model dakwaan, penangkapan, dan penuntutan semacam ini. “Prinsip paling mendasar dari supremasi hukum adalah menyediakan alternatif selain kekerasan dan main hakim sendiri,” katanya.

Setelah euforia awal, keraguan tentang masa depan Venezuela mulai muncul. Andres Losada, warga Venezuela yang telah tinggal tiga tahun di Spanyol, mengatakan meski situasi di Caracas sangat sulit, ia percaya ada harapan menuju kebebasan. Namun Maria Fernanda Monsilva, peserta aksi di Quito, menilai Venezuela belum sepenuhnya bebas dan berharap kandidat utama oposisi pada pemilu presiden 2024 dapat mengambil alih kekuasaan.

Pemimpin Dunia Terbelah

Kecaman paling keras datang dari Presiden Kolombia Gustavo Petro, yang menyebut tindakan AS sebagai agresi terhadap kedaulatan Venezuela dan Amerika Latin, serta menyerukan pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB. Presiden Brasil Lula da Silva menyuarakan pandangan serupa, menyebut pengeboman dan penangkapan presiden Venezuela telah melampaui “garis yang tidak dapat diterima”.

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez mengatakan negaranya tidak akan mengakui intervensi AS di Venezuela yang melanggar hukum internasional.

Menurut Organisasi Internasional untuk Migrasi PBB, sejak 2014 sekitar 7,7 juta warga Venezuela, atau sekitar 20 persen populasi, telah meninggalkan negara itu karena kesulitan ekonomi dan mencari peluang hidup yang lebih baik.

Presiden Peru José Jeri menyatakan pemerintahannya akan memfasilitasi pemulangan warga Venezuela tanpa memandang status imigrasi.

Di Ekuador, Presiden Daniel Noboa menyebut para penentang Maduro dan mendiang Hugo Chávez sebagai pihak yang akan menyaksikan runtuhnya “struktur kriminal narco-Chavista” di kawasan tersebut.

Baca juga:  Dunia Bereaksi atas Penangkapan Maduro, dari Amerika Latin hingga Eropa dan Asia

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)