Trump mengunggah foto yang disebut sebagai Presiden Venezuela Nicolas Maduro. (Truth Social)
Dunia Bereaksi atas Penangkapan Maduro, dari Amerika Latin hingga Eropa dan Asia
Willy Haryono • 4 January 2026 12:44
Washington: Amerika Serikat telah melancarkan serangan “berskala besar” terhadap Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro beserta istrinya, Cilia Flores. Peristiwa tersebut dikonfirmasi langsung oleh Presiden AS Donald Trump melalui unggahan di Truth Social.
Trump menyatakan Maduro dan istrinya telah “ditangkap dan diterbangkan keluar dari negara itu” dalam sebuah operasi yang, menurutnya, dilakukan “bersama aparat penegak hukum Amerika Serikat."
Dilansir dari Al Jazeera, Minggu, 4 Januari 2026, serangan AS ke wilayah Venezuela sendiri dilaporkan telah terjadi sejak Sabtu dini hari, memicu eskalasi tajam yang selama beberapa pekan terakhir dikhawatirkan warga Venezuela.
Pemerintah Venezuela membantah klaim tersebut. Wakil Presiden Delcy Rodríguez menyatakan pihaknya tidak mengetahui keberadaan Maduro dan Cilia Flores. Dalam pesan audio yang disiarkan televisi pemerintah, ia menuntut bukti bahwa presiden dan ibu negara Venezuela itu masih hidup.
Tak lama setelah serangan udara AS, pemerintah Venezuela menuduh Washington melakukan “agresi militer yang sangat serius” terhadap wilayah dan rakyat Venezuela. Pemerintah Caracas menyatakan menolak dan mengecam tindakan tersebut di hadapan komunitas internasional.
Di Washington, Wakil Menteri Luar Negeri AS Christopher Landau menyebut Venezuela sedang memasuki “fajar baru”. “Sang tiran telah pergi. Ia akhirnya akan menghadapi keadilan atas kejahatannya,” ujarnya.
Reaksi Negara-Negara Amerika Latin
Presiden Kolombia Gustavo Petro menyatakan kepada dunia bahwa Venezuela telah diserang. Ia menegaskan Kolombia menolak agresi terhadap kedaulatan Venezuela dan Amerika Latin, serta menyerukan agar perdamaian, hukum internasional, dan perlindungan martabat manusia dikedepankan. Petro kemudian mengumumkan pengerahan pasukan militer ke perbatasan dengan Venezuela.Dari Kuba, Presiden Miguel Díaz-Canel mengecam keras tindakan AS, menyebutnya sebagai “serangan kriminal” dan “terorisme negara”. Havana menyerukan respons internasional mendesak dan menilai aksi tersebut sebagai serangan terhadap Venezuela dan kawasan Amerika Latin secara luas.
Presiden Chile Gabriel Boric menyatakan keprihatinan dan mengecam aksi militer AS. Ia menegaskan krisis Venezuela harus diselesaikan melalui dialog, multilateralisme, dan penghormatan terhadap hukum internasional, bukan melalui kekerasan atau intervensi asing.
Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum secara tegas mengecam intervensi militer di Venezuela dan mengutip Piagam PBB yang melarang penggunaan kekuatan terhadap kedaulatan negara lain.
Presiden Brasil Lula da Silva menyebut serangan AS telah melampaui “garis yang tidak dapat diterima” dan mengingatkan bahwa pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional hanya akan membawa dunia menuju kekacauan dan instabilitas.
Bolivia menyatakan dukungan kepada rakyat Venezuela dan menyerukan bantuan kemanusiaan, perlindungan warga sipil, serta proses rekonstruksi institusional yang kredibel dan berkelanjutan.
Guyana menyatakan aparat pertahanan dan keamanan negara itu memantau ketat situasi di Venezuela demi menjamin keselamatan warganya. Sementara itu, Perdana Menteri Trinidad dan Tobago Kamla Persad-Bissessar menegaskan negaranya tidak terlibat dalam operasi militer AS dan tetap menjaga hubungan damai dengan Venezuela.
Presiden Ekuador Daniel Noboa menyerukan kepada oposisi dan rakyat Venezuela untuk “merebut kembali negara mereka”, serta menyatakan Ekuador sebagai sekutu dalam proses tersebut.
Uruguay menyatakan keprihatinan serius atas laporan serangan AS dan menegaskan kembali penolakan terhadap intervensi militer serta pentingnya menghormati Piagam PBB.
Presiden Argentina Javier Milei menyebut peristiwa ini sebagai runtuhnya rezim diktator dan menyatakan kabar tersebut sebagai “berita baik bagi dunia bebas”. Ia menegaskan bahwa Edmundo González adalah pemenang pemilu dan harus memegang kekuasaan.
Presiden Panama José Raúl Mulino menyatakan bahwa kehendak rakyat Venezuela harus dihormati dan negaranya mendukung transisi yang tertib dan sah.
Reaksi Global
Tiongkok menyatakan “sangat terkejut” dan mengecam keras penggunaan kekuatan oleh AS terhadap negara berdaulat, menyebut tindakan itu melanggar hukum internasional dan mengancam stabilitas Amerika Latin dan Karibia.Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei menyatakan bahwa suatu bangsa harus berdiri teguh ketika musuh berusaha memaksakan kehendaknya dengan klaim palsu. Kementerian Luar Negeri Iran juga mengecam keras serangan militer AS.
Rusia menyebut tindakan AS sebagai agresi bersenjata dan menyerukan agar eskalasi dihentikan serta penyelesaian dicari melalui dialog, seraya menegaskan solidaritasnya dengan Venezuela.
Di Amerika Serikat, Jaksa Agung Pam Bondi menyatakan Maduro dan istrinya telah didakwa di Distrik Selatan New York atas sejumlah tuduhan berat, termasuk konspirasi narkoterorisme. Senator Republik Mike Lee mengatakan operasi militer AS telah selesai setelah Maduro ditahan.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan Inggris tidak terlibat dalam serangan tersebut dan menekankan pentingnya menegakkan hukum internasional.
Uni Eropa melalui Kepala Kebijakan Luar Negeri Kaja Kallas menyatakan terus memantau situasi dan menyerukan penahanan diri, dengan keselamatan warga negara UE sebagai prioritas.
Spanyol menawarkan diri sebagai mediator untuk membantu mencari solusi damai, sementara Jerman, Italia, dan Prancis menyatakan keprihatinan serius serta menilai operasi militer AS melanggar prinsip dasar hukum internasional.
Dari Asia Tenggara, Indonesia menyatakan terus memantau perkembangan situasi di Venezuela dan memastikan seluruh warga negara Indonesia (WNI) di negara tersebut dalam kondisi aman. Pemerintah Indonesia juga menyerukan de-eskalasi, dialog, perlindungan warga sipil, serta penghormatan terhadap hukum internasional dan Piagam PBB.
Baca juga: Penangkapan Maduro Picu Perbandingan dengan Saddam Hussein dan Manuel Noriega