Presiden Venezuela Nicolas Maduro. (EFE/Miguel Gutierrez)
Penangkapan Maduro Picu Perbandingan dengan Saddam Hussein dan Manuel Noriega
Willy Haryono • 4 January 2026 12:28
Washington: Klaim Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bahwa Washington telah menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya, Cilia Flores, di tengah serangan “berskala besar” ke Venezuela, mengejutkan dunia.
Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodríguez menyatakan pemerintah tidak mengetahui keberadaan Maduro dan Cilia Flores. Dalam pesan audio yang disiarkan televisi pemerintah pada Sabtu, Rodríguez mengatakan pemerintah Venezuela menuntut bukti bahwa Maduro dan Flores masih hidup.
Perkembangan yang meningkat cepat ini terjadi setelah serangkaian serangan mematikan oleh pasukan AS di Laut Karibia dan Samudra Pasifik timur terhadap kapal-kapal yang diklaim Washington sebagai perahu penyelundup narkoba, serta serangan ke sebuah area dermaga yang disebut digunakan kapal narkoba Venezuela.
Dikutip dari Al Jazeera, Minggu, 4 Januari 2026, laporan penangkapan Maduro mengingatkan pada era sebelumnya ketika sejumlah pemimpin lain, termasuk mantan pemimpin militer Panama Manuel Noriega dan mantan Presiden Irak Saddam Hussein, ditangkap oleh Amerika Serikat.
Manuel Noriega
Dalam intervensi langsung lainnya di Amerika Latin, Amerika Serikat menginvasi Panama pada 1989 untuk menggulingkan Manuel Noriega, pemimpin militer sekaligus penguasa de facto negara tersebut. Washington saat itu berdalih melindungi warga AS di Panama, menentang praktik tidak demokratis, serta memberantas korupsi dan perdagangan narkoba ilegal.Sebelum menyerang Panama, AS telah mendakwa Noriega atas tuduhan penyelundupan narkoba di Miami pada 1988—sebuah pendekatan yang kini juga digunakan terhadap Maduro. Noriega memaksa Presiden Nicolás Ardito Barletta mundur pada 1985, membatalkan pemilu 1989, serta mendukung sentimen anti-AS di dalam negeri.
Operasi militer AS di Panama menjadi yang terbesar sejak Perang Vietnam. Pemerintah AS mengemukakan berbagai justifikasi, termasuk klaim ingin memperbaiki nasib rakyat Panama dengan membawa Noriega ke AS untuk diadili atas tuduhan narkoba. Ketika Noriega dianggap tidak lagi sejalan dengan kepentingan regional Washington, ia pun dinyatakan persona non grata.
Noriega diadili di AS dan dipenjara hingga 2010, sebelum diekstradisi ke Prancis untuk menghadapi persidangan lain. Setahun kemudian, Prancis mengirimkannya kembali ke Panama. Noriega meninggal dunia di penjara Panama pada 2017 saat menjalani hukuman atas kejahatannya.
Saddam Hussein
Presiden Irak Saddam Hussein ditangkap pasukan AS pada 13 Desember 2003, sembilan bulan setelah invasi dan pendudukan Irak yang dipimpin AS—yang didasarkan pada intelijen keliru mengenai kepemilikan senjata pemusnah massal (WMD) oleh Baghdad.Seperti Noriega, Saddam selama bertahun-tahun pernah menjadi sekutu penting Washington, khususnya saat Perang Irak–Iran pada 1980-an yang menewaskan sekitar satu juta orang. AS juga menuduh Saddam tanpa dasar bahywa ia mendukung kelompok bersenjata seperti al-Qaeda dalam periode menjelang perang 2003. Namun, tidak pernah ditemukan WMD di Irak.
Saddam ditemukan bersembunyi di sebuah lubang dekat kampung halamannya di Tikrit. Ia diadili di pengadilan Irak, dijatuhi hukuman mati, dan dieksekusi dengan cara digantung atas kejahatan terhadap kemanusiaan pada 30 Desember 2006.
Juan Orlando Hernández
Kasus mantan Presiden Honduras Juan Orlando Hernández menunjukkan apa yang oleh sebagian pengamat disebut sebagai pendekatan hipokrit Amerika Serikat. Hernández ditangkap di kediamannya di Tegucigalpa dalam operasi bersama agen AS dan aparat Honduras pada Februari 2022—hanya beberapa hari setelah ia lengser dari jabatan presiden.Pada April 2022, Hernández diekstradisi ke AS atas dugaan keterlibatan dalam korupsi dan perdagangan narkoba ilegal, dan pada Juni tahun yang sama dijatuhi hukuman 45 tahun penjara. Namun, ia kemudian mendapat pengampunan dari Presiden AS Donald Trump pada 1 Desember 2025.
Beberapa hari setelahnya, jaksa agung Honduras mengeluarkan surat perintah penangkapan internasional terhadap Hernández, memperdalam gejolak hukum dan politik hanya beberapa hari setelah mantan pemimpin itu bebas dari penjara di Amerika Serikat.
Baca juga: Maduro Ditangkap dalam Operasi AS, Trump: Presiden Kolombia Harus Berhati-Hati