Asap hitam dari serangan Israel di Jalur Gaza. (Anadolu Agency)
Film NAZA soal Dugaan Penggunaan AI dalam Serangan di Gaza Picu Kecaman Israel
Willy Haryono • 15 September 2026 10:56
Tel Aviv: Film dokumenter NAZA karya Yuval Abraham dan Rachel Szor memicu kecaman dari politisi Israel lintas spektrum setelah film tersebut meraih penghargaan juri khusus di Festival Film Venesia.
Film tersebut mengangkat dugaan penggunaan kecerdasan buatan (AI) oleh militer Israel dalam serangan yang menewaskan warga sipil di Gaza.
Kontroversi semakin besar setelah materi promosi film memuat klaim bahwa militer Israel pernah merencanakan serangan selama perang melawan Hamas di Jalur Gaza dengan perkiraan hingga 500 warga sipil akan tewas.
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) membantah klaim tersebut.
“IDF tidak pernah merencanakan, menyetujui, atau melaksanakan serangan di Gaza yang diperkirakan akan menewaskan 500 warga sipil atau mendekati jumlah tersebut,” kata militer Israel, seperti dikutip dari TOI, Senin, 14 September 2026.
IDF juga mengatakan tidak ada klaim kredibel selama perang yang menunjukkan bahwa serangan militer Israel menyebabkan jumlah korban mendekati angka tersebut.
Militer Israel menuding Abraham dan Szor tidak mungkin memverifikasi klaim tersebut karena dinilai tidak memiliki bukti pendukung yang memadai.
“Abraham dan Szor tidak mungkin memverifikasi klaim ini, tidak ada bukti pendukung yang nyata, namun mereka tetap mempublikasikannya,” kata IDF.
Gelombang Kecaman Politisi Israel
Kontroversi NAZA kemudian berkembang menjadi perdebatan politik di Israel.Ketua Partai Yashar Gadi Eisenkot, mantan kepala staf IDF dan salah satu kandidat kuat dalam pemilu mendatang, mengecam keputusan pembuat film membawa isu tersebut ke panggung internasional.
“Pilihan pembuat film Israel untuk tampil di panggung internasional, menyajikan gambaran yang terdistorsi dan sepihak, serta memberikan penilaian moral terhadap para tentara yang membela rumah kita adalah kebutaan moral, keterputusan dari kenyataan, dan merugikan Negara Israel pada masa sulit,” tulis Eisenkot di X.
Ketua Blue and White Benny Gantz, yang juga merupakan mantan kepala staf IDF, turut membela militer Israel.
Dalam pernyataan berbahasa Inggris, Gantz mengatakan pembuat film tersebut tidak pernah berada di medan perang.
Ia menegaskan bahwa IDF, menurut pengalamannya sebagai mantan kepala staf dan menteri pertahanan, berupaya mempertahankan standar moral dan hukum yang tinggi dalam menjalankan operasi militer.
Gantz juga mengecam mereka yang menurutnya tidak memahami konteks perang Israel melawan Hamas.
Sementara itu, Ketua Yisrael Beytenu Avigdor Liberman menyebut Abraham dan Szor sebagai “musuh Israel”.
Liberman menuduh keduanya mengubah perang yang menurutnya dipaksakan kepada Israel setelah serangan 7 Oktober menjadi “tontonan fitnah” terhadap Israel dan IDF.
Tuduhan Film Antisemit
Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben Gvir bahkan menyebut film tersebut “antisemit." Ia menuding pembuat film sebagai pihak yang merugikan Israel dan mengecam kritik terhadap tentara Israel.“Kepada mereka yang memfitnah tentara heroik kami, yang mempertaruhkan nyawa agar kami dapat hidup dalam damai dan keamanan, saya katakan: Kalian adalah aib dan memalukan seluruh rakyat Israel,” tulis Ben Gvir di X.
Ben Gvir juga menyindir bahwa Hamas di Gaza akan menyambut para pembuat film tersebut.
Kontroversi tersebut kemudian memasuki ranah hukum dan administratif. Menteri Kebudayaan Israel Miki Zohar pada Senin mengajukan permintaan kepada Population and Immigration Authority untuk meninjau kemungkinan pencabutan kewarganegaraan Abraham dan Szor.
Permintaan itu merupakan tindak lanjut dari ancaman Zohar sehari sebelumnya.
Zohar menuduh kedua pembuat film telah melanggar kewajiban loyalitas kepada negara dan bekerja sama dengan musuh.
Ia juga meminta penyelidikan mengenai bagaimana Abraham dan Szor memperoleh materi untuk film tersebut, termasuk apakah terdapat tindakan dalam proses memperoleh atau memublikasikan materi yang dapat dianggap membantu musuh selama masa perang.
Sementara itu, Ynet melaporkan tanpa menyebut sumber bahwa Kepala Staf IDF Letnan Jenderal Eyal Zamir diperkirakan akan mengadakan pembahasan di hari Senin mengenai respons militer terhadap film tersebut.
Pembahasan itu disebut berlangsung meski Unit Juru Bicara IDF telah beberapa kali memberikan tanggapan mengenai kontroversi film.
Film NAZA sebelumnya meraih penghargaan juri khusus di Festival Film Venesia, yang membuat isu mengenai dugaan penggunaan AI dalam operasi militer Israel di Gaza mendapat perhatian internasional.
Baca juga: Israel Serang Kendaraan Sipil di Kota Gaza, 2 Orang Meninggal dan 13 Terluka